Refleksi Perbaikan

(11) Dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi. Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan. (12) Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. QS Al Baqarah 11-12 Aku dulu pernah terlalu ‘rumongso’ sebagai manusia yang mengorientasikan seluruh hidupnya untuk perbaikan di masyarakat. Aku beranggapan perjuanganku... Continue Reading →

Madu dan Racun Sebuah Tulisan

Sudah tujuh kali saya menekan tombol 'delete'. Beberapa kata yang sudah tersusun, saya hapus lagi. Saya kembali berpikir, lalu menuliskan kalimat baru yang sangat berbeda. Tapi kemudian saya hapus lagi. Hal itu terjadi berkali-kali. Saya jadi mulai ragu menulis, takut tulisan saya hanya membuat keburukan. Kalau tulisan adalah luapan ego dan kemarahan saya, tidak memberikan... Continue Reading →

Rindu Sudah Lewat

Lama sekali tak lagi kuucap kata dalam puisi Padahal rindu sempat sesak parah Tapi tak mampu kujelma kata Ah, aku jadi kehilangan momentum melankolis Padahal katanya rindu adalah saat terbaik untuk menulis puisi Ternyata sudah tak mempan buatku Rindu malah jadi penyumbat arteriku Mematikan sesaat, membunuh daya Rindu oh rindu Apakah kali ini karena rindu... Continue Reading →

Selintas Kenangan dari Masa Lalu

Pada akhirnya saya bisa memilih jalan saya dan tidak ada yang memaksakan pilihan lain kemudian. Kesabaran, keikhlasan dan kelembutan adalah kekuatan yang sangat besar. Kemenangan itu sesungguhnya bukan karena kita bisa menang dan benar dari orang lain, tapi karena menaklukan pikiran dan perasaan diri kita sendiri.

Pemaknaan Ramadhan (2) Puasa dan Berbuka

Jadi apakah puasa Ramadhan adalah puncak ibadah dan optimalisasi amalan-amalan terbaik? Atau malah sekedar momentum latihan untuk siap terjun dalam medan puasa yang sesungguhnya? Medan puasa itu ada di bulan-bulan lain di mana kita tidak dapat mengira-ngira kapan waktunya kita harus puasa dan berbuka

Pemaknaan Ramadhan (1) Tentang Puasa

Awal Ramadhan ini, sebuah pertanyaan terlintas, “Mengapa harus lapar?” Kenapa orang harus merasakan lapar berjam-jam, merasakan perut melilit. Bahkan orang yang kerja berat, berada di suhu ekstrim panas atau dingin juga masih harus menahan laparnya. Yang saya maknai selama ini ketika orang merasakan lapar, ia jadi bisa berempaty dan bersyukur. Bisa merasakan betapa tidak enaknya... Continue Reading →

Lagi-lagi

Lagi-lagi aku merasa sendiri. Tapi sejak kapan aku tidak sendiri? Baru kemarin aku bersama ibu, cuma sebentar lalu ia pergi lagi. Lagi-lagi.. Seperti biasanya saat aku pulang ke rumah. Baru sejenak, lalu aku pergi lagi. Merantau lagi, berpisah lagi. Lagi-lagi.. Seperti hidup biasanya, bahagia sesaat lalu muncul kesedihan. Masalah datang bertubi-tubi, lalu tenang kemudian. Tapi... Continue Reading →

Rumah Baca, Rumah Belajar Sejuta Ilmu

Dari luar seakan hanya rumah biasa, namun begitu saya memasuki pekarangannya, ada berbagai jenis pepohonan dan nampak buku-buku tersusun rapi di sekeliling teras. Akhirnya saya tiba di Taman Baca yang lebih dari sekedar tempat membaca. Teh Herni, pendiri taman baca Kai Cantigi menyambut kedatangan saya hari itu dengan ramah . Saya sudah punya firasat, bahwa... Continue Reading →

Blog at WordPress.com.

Up ↑