Awal Mula (Tamat)

Tantangan Fiksi : Deskripsi

Pohon sawo yang kuceritakan sebelumnya itu tidak pernah membuat keluarga kami kaya dalam materi. Setiap ada sanak kerabat penduduk desa yang datang dari Jakarta dan kota-kota besar lainnya, mereka selalu bertanya, “Sawonya ada?” Bahkan ada yang mau memborong, membeli semuanya. Berapa karung pun akan dibawa. Tapi Nenekku tidak mau. “Silakan kalau mau beli, sekedarnya untuk dimakan sekeluarga Njenengan. Satu atau dua keresek.”

Sungguh aneh. Pada umumnya orang senang jika ada pembeli yang datang memborong. Tapi Nenekku tak pernah menganggap sawo itu barang dagangan. “Kalau kita jual semua sawonya, nanti tetangga dan saudara-saudara kita ora keduman. Kita jual sekedarnya saja, biar mereka yang datang jauh-jauh itu tidak kecewa dan pulang dengan tangan hampa.”Ah, aku rindu dengan keteguhan prinsip hidup Nenekku itu.

Tahun 1999, Nenek meninggal. Tepat saat pergantian era pemerintahan di Indonesia. Aku masih tak tahu menahu soal kerusuhan yang terjadi di Jakarta, demo mahasiswa, demokrasi, reformasi, apa pun itu tentang politik dan ekonomi Indonesia. Saat itu aku baru kelas lima SD. Cuma tahu soal permainan bekel, engkleng, gobag sodor, delik-delikan, dan berbagai permainan tradisional lainnya. Nonton TV saja masih jarang-jarang, paling juga hari minggu.

Tidak ada perubahan drastis yang terjadi setelah Nenek tiada. Hanya tidak ada lagi yang suka ngidung dan cerita tentang masa lampau. Nenek suka cerita tentang masa mudanya, cerita tentang masa penjajahan dan bagaimana Bapaknya ikut perang melawan Belanda. Tidak ada juga nasehat-nasehat panjang yang dituturkan bak cerita dongeng. Nenek menasehati cucunya tidak seperti mendikte tapi seperti bercerita, mengalir dan justru terdengar merdu.

Waktu terus berjalan bahkan terasa berlari. Tapi yang berjalan di dalam putaran waktu justru merangkak tertatih-tatih, banyak yang kepayahan.

Keempat kakak sepupuku semakin beranjak besar. Si sulung sudah bekerja di Solo dan menikah dengan seorang wanita, teman kerjanya. Yang nomor dua merantau ke Kalimantan, sudah lebih dulu menikah dengan perempuan dari Nganjuk. Mbak sepupuku yang ketiga selepas SMP pergi ke Jakarta. Dan terakhir, si bungsu lulus SD ikut Masnya di Solo. Rumah itu jadi hanya ditinggali Pak Dhe dan Bu Dheku saja.

Suatu ketika pohon sawo tidak lagi berbuah. Sudah setahun lamanya, tidak ada satu pun buah yang nampak menggantung di dahan. Bunganya berguguran, tak sempat jadi buah sudah tumbang.

Semua orang heran dengan sawo yang mendadak jadi mandul. Apa pohon sawo juga mengalami menopouse? Sempat ingin kutanyakan pada guru Biologi SMA. Tapi saat itu aku sudah lama tak berkunjung ke almamaterku. Aku cuma masuk kampus swasta tak terkenal, malu rasanya bertemu guru-guru SMA yang dulu begitu tinggi menaruh harap padaku.

Kembali soal pohon sawo yang kuduga menopuse itu, sebelumnya tak nampak gejala mencurigakan. Selama tiga tahun ke belakang, justru berbuah melimpah. Setiap orang, kakak sepupuku kebagian sekarung seukuran beras 20 kg. Mereka membawa ke kota masing-masing. Entah mau dijual untuk tambahan bayar kontrakan dan beli beras, atau dibagikan ke tetangga mereka. Aku sendiri hanya membawa satu kresek, berisi sekitar 15-20 buah. Itu saja beratnya sudah cukup membuat tangganku panas. Perjalanan dari kampung hingga ke Surabaya bisa sampai 12 jam. Harus empat kali pindah terminal dan kendaraan. Aku paling tak suka membawa barang berat, toh aku sudah kenyang makan sawo di rumah. Sawo itu kubawa hanya untuk pemilik rumah tempat tinggalku dan tetangga kanan kiri. Biar sedikit, asal ada oleh-oleh dari kampung, cukuplah.

Karena buahnya yang melimpah itu juga, senang sekali tengkulak bisa beli sekali tebas. Semenjak kakak-kakak sepupuku merantau, buah sawo itu sering dijual ke tengkulak. Pak Dhe dan Bu Dheku lebih sibuk menggarap ladang dan angon sapi serta kambing. Tidak ada yang membantu mereka mengurus tanah dan ternak. Hasil dari penjualan sawo itu bisa memberikan tambahan penghasilan untuk Pak Dhe dan Bu Dhe yang usianya sudah hampir 60 tahun. Meskipun anak-anaknya merantau di kota, tak ada yang mengirim uang bulanan ke mereka. Bukan karena kakak-kakak sepupuku tak mau, tapi memang tak mampu. Untuk hidup mereka di perantauan saja sudah ngos-ngosan.

Pohon sawo sudah tak berbuah, makin terlihat muram rumah peninggalan Kakek Nenekku itu. Makin nampak tua, sendu dan muram. Bocah-bocah juga jarang bermain di sekitar rumah, karena tak ada buah sawo yang memikat mereka. Makin sepi macam kuburan, sesekali terdengar suara kambing dan sapi. Itu pun kalau mereka sudah kenyang, anteng tak bersuara.

Orang-orang desa juga nampak kehilangan, mereka kerap menyampaikan simpatinya atas pohon sawo yang hanya daunnya saja lebat. Tapi beberapa juga berbisik, “Itu akibatnya kalau pelit, buah sawo itu cuma dimakan dan dijual sendiri, jadi ya dapet kuwalat dari Gusti Allah.”

Mungkin ada benarnya juga perkataan mereka. Semasa hidup nenek dulu, pohon sawo itu lebih banyak dibagikan ke penduduk desa daripada dijual atau dimakan sendiri. Tetapi sepeninggalnya, selain dibawa kami yang merantau ini, banyak yang dijual ke tengkulak. Itu karena Pak Dhe dan Bu dhe memang butuh uang. Untuk makan sehari-hari, buwuh ke tetangga yang hajatan, bayar iuran kampung, beli air. Kalau musim kemarau, air untuk mandi dan cuci baju saja harus beli. Tidak ada sumber air di sana. Hanya mengandalkan air hujan. Rumput untuk sapi pun harus beli. Kalau kemarau, bahkan rumput pun tak tumbuh di tanah desaku itu. Lantas apa salah, jika Pak Dhe dan Bu Dheku bergantung penghasilan dari pohon sawo itu? Akibatnya, pohon itu tak lagi bisa jadi khalifah desa. Tak memberi manfaat bagi sebanya-banyaknya manusia yang melihatnya. Tapi apakah membantu ekonomi satu keluarga kecil itu juga bukan prinsip khalifah? Daripada mereka makin banyak berhutang, mending jual sawo, bukan?

Lalu tibalah hari penghabisan pohon sawo tua. Karena buah tak kunjung lahir dari pohon menopouse itu. Pak Dheku bertekad untuk menghabisi masa hidupnya. Dipotongnya batang-batang yang kecil dengan gaman. Cabang yang agak besar, ia potong menggunakan gergaji. Ia kerjakan semua sendiri. Katanya, harus tangan keluarga sendiri yang memangkasnya. Sedangkan batang besar itu, ia sewa alat potong dari tetanggaku yang pekerjaannya tukang tebang pohon.

Satu minggu, Pak Dhe baru bisa tuntas memangkas pohon itu sampai ke batang pokoknyan. Kami, anak-anak yang merantau di kota tak tahu menahu tentang itu sampai kami pulang. Tiba-tiba kaget dan melongo melihat tempat pohon sawo berubah jadi kandang kambing. Bahkan tak ada jejak kuburannya. Kami semua bertanya kenapa pohon itu sampai dihabisi seperti itu, bukankah itu pohon bersejarah, tak terpisahkan dari keluarga.

Pak Dheku hanya menjawab, “Pohon itu adalah cucu pertama di keluarga ini. Di tanam sebelum kelahiran Yono, si mbarep. Pohon itu Dulur tuwo kalian. Ada untuk mengayomi dan jadi teman menjalani laku hidup kalian. Lha wong kalian sudah nggak ada yang tinggal di sini, kalian cuma mau tinggal di kota. Buat apa lagi pohon sawo itu dipertahankan. Biar pohon itu mati di sini, lebih dulu, sebelum aku dan Mbokmu nyusul.

Tak ada satu pun dari kami yang menimpali jawaban Pak Dheku itu. Setelahnya tak sekali pun kami mengungkit kembali persoalan sawo itu.

Advertisements

3 thoughts on “Awal Mula (Tamat)

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: