Merawat Asa: Jangan berhenti menyulam, Meski tak bisa terwujud hari ini. (2)

“Ya Allah, limpahkanlah kebaikan dan keberkahan dalam hidupku. Pertemukan aku dengan orang-orang terbaik dalam segala urusanku.” Kalimat itu terlafadz dalam serangkaian doa-doa saya setahun belakangan.

Salah satu cara merawat dan menyuburkan asa adalah bergaul dengan orang-orang yang punya energi positif. Kalau kita ingat tombo ati, salah satunya adalah berkumpul dengan orang sholeh. Maka, saya pun terus memohon agar Allah mempertemukan saya dengan orang-orang baik yang jadi wasilah untuk mengingatkan, memberi pengondisian dan berkolaborasi dalam kebaikan.

Tapi agar orang-orang terbaik itu hadir di depan kita, maka harus ada ikhtiar, mendatangi, taaruf dengan pikiran dan hati terbuka, jangan terburu kebawa prasangka.

Dulu saya pun sempat punya prasangka. Akibat trauma dengan komunitas lama, saya sempat berpikir bahwa semua organisasi sama saja, setiap orang yang berkata dirinya benar akan sama merasa paling benar. Ujung-ujungnya mereka hanya membenarkan pendapat mereka sendiri dan tidak mau mendengar pandangan lain. Saya juga sempat berprasangka bahwa tiap organisasi hanya sibuk membesarkan organisasinya dan bersaing memperebutkan pasar, sumberdaya dan posisi pemegang kebenaran. Saya pikir juga, di berbagai komunitas hanya sibuk saling bertikai, menjatuhkan pihak lain yang berbeda pandangan, saling tuding salah dan sesat. Hingga ukhuwah hanya sekedar kidung, tak sungguh jadi semangat umat.

Tapi, saya prasangka harus diuji. Tidak mungkin tak dapat saya temukan yang baik, diantara berjuta umat dan ribuan komunitas yang ada.

Saya mulai berjalan, datang dari satu acara ke acara lain, ke berbagai kajian di masjid-masjid dan online, datang ke komunitas wirausaha dan sosial, bahkan pernah dua minggu mondok di sebuah pesantren agrobisnis di Bandung. Dan Masya Allah, saya dipertemukan dengan perjuangan umat yang luar biasa. Dari mulai individu, komunitas hingga organisasi yang berjuang tulus untuk masyarakat. Saya juga bertemu dengan konsep sekaligus penerapan nyata bisnis, sosial dan agama dalam satu nafas.

Luruhlah semua prasangka saya. Meski memang saya jumpai juga orang-orang yang berpikiran sempit dan masih sibuk menuding-nuding kesalahan pihak lain, tapi itu hanya segelintir diantara banyaknya umat. Banyak saya temukan saudara muslim yang bisa terbuka, toleran dalam perbedaan pandangan, kuat dengan landasan ilmu serta menjadikan dakwah dan sosial sebagai nafas kehidupannya.

Lalu bagaimana di media sosial yang ramai dan penuh caci itu? Bagi saya itu hanya bagian dari segelintir orang yang mengkloning dirinya menjadi ribuan akun. Kalau ingin tahu kenyataannya, turunlah dari menara dan kendaraanmu, temui, jabat dan berbincang. Jangan hanya ke satu dua orang atau komunitas. Menjelajahlah, sebagaimana perintah Allah. Kalau belum kita temukan yang baik menurut kita, mari berdoa sungguh pada Allah untuk dipertemukan. Bisa jadi, bukan tak kita temui yang baik itu tapi hati kita yang terlalu beku dan pilu.

Ah, alangkah indahnya pertemuan-pertemuan yang dihadirkan olehNya. Pertemuan yang menjaga dan menyulam asa untuk sampai pada titik tuju.

Advertisements

One thought on “Merawat Asa: Jangan berhenti menyulam, Meski tak bisa terwujud hari ini. (2)

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: