Merawat Asa: Jangan berhenti menyulam, Meski tak bisa terwujud hari ini. (1)

2,5 Tahun lalu, saya dan satu sahabat saya hanya bisa berdiskusi dan berangan-angan tentang adanya satu gerakan yang menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan dan pemberdayaan umat. Lalu membaca ulasan tentang masjid Jogokaryan, hanya sekilas lewat media. Dan kemarin, kami ada di sebuah forum yang dulu hanya jadi obrolan di kamar kos.

Saat itu saya baru saja keluar dari sebuah organisasi Islam. Beralih dari aktivis ke professional lalu kemudian berwirusaha. Biasanya orang hijrah dari professional, lingkungan non islami ke lingkungan islami dan dakwah. Tapi saya justru sebaliknya. Saya bahkan begitu sinis terhadap diri saya sendiri. Masih mulia mantan preman menjadi aktivis dakwah daripada mantan aktivis dakwah.

Tapi siapa sangka, saya justru menemukan kebesaran Islam dan keintiman dengan ajaran-ajarannya saat berada di Jakarta, yang katanya kota serba matrealis dan hedonis. Dipertemukan dengan banyak saudara muslim yang punya keluasan pandangan, kebaikan dan amal sosial yang tidak sedikit.

Sejak saya mantabkan untuk hijrah dan meninggalkan komunitas saya yang lama, tak henti saya berdo’a, “Ya Allah, berilah aku petunjukMu, tuntunlah jalanku senantiasa dalam jalan lurusMu, jangan biarkan aku tersesat setelah Kau beri aku petunjuk dan tetapkan aku dalam jalan perjuangan agama ini. Di mana pun aku berada dan dalam kondisi apapun.”

Dan ternyata sangat tidak mudah mempertahankan cita-cita sosial di tengah kondisi yang dihadapi. Jangankan untuk memikirkan membuat satu gerakan yang punya impact besar, bisa bantu orang banyak, untuk survive hidup di ibukota saja sedemikian beratnya. Link Nol, modal tipis, teman dan sahabat tinggal segelintir. Belum lagi persoalan keluarga di kampung yang tak henti. Agaknya tidak realistis bagi saya untuk tetap mewujudkan asa di bidang sosial, memikirkan saja agaknya tak sampai. Rencana untuk melakukan proyek sosial dengan sahabat pun seringkali hanya wacana, kalau pun berjalan tak bertahan lama.

“Hidup harus realistis, tapi juga harus bisa menembus keterbatasan.” Tapi selagi ikhtiar untuk diri sendiri, memapankan diri, menyelesaikan persoalan diri, asa harus tetap dirawat. Karena masalah diri tak akan pernah selesai, tak akan pernah ada batasnya. Standar mapan dan kesiapan diri terlalu absurd, kadang bahkan terus meninggi. Membuat kita semakin sulit sekedar menoleh ke orang lain.

Salah satu cara merawat asa yang belum sanggup untuk segera diwujudkan adalah menjaga pengondisian. Membaca buku, datang ke komunitas dan forum-forum yang berkaitan, mendekat dengan orang-orang yang telah masuk ke dunia itu, sedikit-sedikit melibatkan diri dalam aktivitas sosial. Bahkan jika tak memungkinkan raga ini turut, doa dan niat tak boleh henti. Sampai di situ, saya yakin Allah tidak akan abai. Biar kita pikir ‘tak mungkin, tak ada jalan’ Allah yang akan membuka dan tunjukkan. Saya yakin Allah menggenggam semua doa, menjaga dan menumbuhkannya di saat tepat. “Jangan pernah berputus asa atas rahmatNya.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: