Tak Pernah Sempurna

bu, aku tahu selamanya tak akan pernah sempurna bagimu jangankan sejuta harapanmu, mewujudkan satu ekspektasimu saja belum tentu bisa aku kira, apa yang sudah kulakukan akan membuatmu bangga tapi aku cuma bikin kau kecewa selalu aku sudah coba belajar sekeras mungkin tapi katamu aku pemalas aku juga ingin jadi anak pintar, tapi entah kenapa aku... Continue Reading →

Advertisements

Cinta Tanpa Kata

"Bocah, kalau sudah nggak bisa diatur, nggak mau nurut sama Mamak, ya sudah. Tak tinggal aja! Mamak minggat aja, ikut Bulikmu ke Jakarta!" Mbak War berkata dengan nada nelangsa, sambil tangannya meraih baju-baju dalam lemari dan memasukkannya ke dalam tas baju. Melihat Ibunya yang terlihat serius mengemasi pakaian, Adi segera berlari ke arah Ibunya. "Biyungg,... Continue Reading →

Kebun Naga

“Yeee ... besok Aku ikut bapak ke buah naga (baca: kebun buah naga)!” pekik Adi senang. Perkebunan buah naga ini berada persis di pinggir laut selatan. Perjalanan ke sana memakan waktu sekitar 1 jam berjalan kaki. Tidak seperti sekarang yang jalannya sudah mulai bisa dilewati kendaraan, dulu untuk menuju ke sana hanya bisa dengan jalan... Continue Reading →

Minta Sunat Lagi

“Apa-apa mbak Eki!” begitu seringnya gerutu Adi. Biasanya anak sulung yang pencemburu, tapi tidak bagi Adi. Meski bungsu, ia merasa orang tuanya lebih perhatian pada Kakaknya. Seperti saat Kakaknya dibelikan motor oleh orang tuanya, Adi sudah pasang wajah sewot. “Baru juga dibelikan motor second, besok aku beli motor gede! Kayak motor si Boy yang ada... Continue Reading →

Matematika Pasar

“Aduh Adi! Dari tadi diajari nggak bisa-bisa!” teriak ibu Adi kesal. Seluruh anggota keluargaku suka putus asa kalau harus mengajar Adi. Gurunya saja sering bilang pada ibunya, “Ya, gimana lagi Bu, memang anaknya lambat belajarnya. Bisa naik kelas saja sudah syukur, Alhamdulillah.” Sebagai anak sekolahan, Adi memang tidak begitu rajin. Meski juga tidak bisa disebut... Continue Reading →

Bocah Realis

“Anak-anak, kita harus punya cita-cita yang tiinggiiiii sekali. Ingat kata pepatah, gantungkan cita-citamu setinggi langit. Mengerti?” “Mengerti Bu Guuruuu!” Jawab murid-murid kompak. “Bagus! Sekarang Ibu tanya. Candra, apa cita-citamu?” “Ehmm … jadi polisi, Bu Guru,” jawab Candra malu-malu “Pemberani! Laras, apa cita-citamu?” “Dokter, Bu Guru!” “Cerdas! Kalau kamu, Adi. Kalau sudah besar, mau jadi apa?”... Continue Reading →

Percaya Diri itu Nomor Satu!

Aku percaya bahwa tidak ada satu pun anak yang terlahir bodoh di dunia ini. Itu berarti setiap anak terlahir pintar dan cerdas. Termasuk aku, kamu, kita semua punya bakat pintar. Sehingga jangan percaya kalau ada yang bilang, “Kamu bodoh!” Pecayalah bahwa kita adalah manusia berbakat, meski kadang bakat itu masih terpendam jauh di dasar paling... Continue Reading →

Cinta tanpa Pamrih

Adalah engkau yang mengajariku mengeja cinta setiap hari Memaknai cinta pada jarak 767 km dalam rentang satu dasawarsa,bahkan lebih dari itu Merasakan cinta dalam kekosongan dan perpisahan Aku belajar tentang cinta lewat kata yang tak semua tertuang dalam 'chatting' dan tersendat sinyal Pada kado-kado yang kuterima lewat jauh dari hari ulang tahunku Bahkan pada nada... Continue Reading →

Masih Tidak Terima

aku ingin memungkiri bahwa hatiku bukan berisi sekumpulan puisi tapi setiap kali kubaca puisi-puisi di medsos dan toko buku jiwaku seperti menari dan melayang-layang menikmati iramanya lalu, kata menjelma suara dalam batinku kata-kata yang melompat-lompat, terjun bebas, naik turun akrobat bak kawanan sirkus lantas aku bisa apa untuk menghalaunya jemariku cuma ikut perintah hati bahkan... Continue Reading →

Blog at WordPress.com.

Up ↑