Kasih Putih (3)

Variable paling penting untuk menjaga titik keseimbangan adalah jarak. Seperti menjaga agar segitiga tetap menjadi segitiga, maka jarak antara satu titik dengan titik lain haruslah proporsional. Tidak boleh lebih dekat atau lebih jauh, pun tak boleh melenceng. Seperti itulah Kinasih merasa harus menjaga titik keseimbangan segitiga.

Advertisements

Kasih Putih (2)

“Ah, kenapa tidak seperti di novel atau film pertemuan dua orang setelah berpisah selama 10 atau 14 tahun. Kenapa baru 3 tahun 5 hari aku sudah ketemu lagi sama anak itu lagi!”

Kasih Putih (1)

Kinasih bahkan sempat berpikir, bahwa anak laki-laki itu mungkin adalah malaikat penangkap bola. Malaikat khusus yang dikirimkan Tuhan untuk menangkapkan bola untuknya, mengurangi letihnya walau hanya sedikit. “Oh, so sweet,” Kinasih meringis sendiri mengingat hal itu.

Melodi Perjuangan (Tamat)

Ada kalanya, tidak semua masalah harus benar-benar selesai. Tidak semua pertanyaan harus terjawab. Mungkin butuh momentum yang tepat atau sebenarnya kondisi yang terjadi sudah merupakan jawaban itu sendiri. Allah sedang menguji apa yang sebenarnya menjadi dasar dari pilihan hidup kita.

Melodi Perjuangan (5)

Ragil tak lagi membalas email Kania. Ia sudah menangkap maksud dari surat itu. Babak Final. Kisah ini harus segera diakhiri, begitu pikirnya. Selesai membaca surat itu, ia mengambil Satria dari gendongan istrinya. Bayi laki-laki itu baru sebulan lalu, menghirup udara bumi. Kulitnya masih memerah, Inderanya belum semua berfungsi dengan baik. Tapi anak itu, tentu sudah merasakan tetesan air mata ayah dan ibunya yang kerap jatuh saat menimangnya.

Melodi Perjuangan (4)

Bodoh! Makinya terhadap dirinya sendiri. Antara benci dengan situasi terkutuk itu dan kekecewaannya terhadap Bara. Bahkan tidak ada satu pun kata yang disampaikan Bara selama masa-masa menegangkan itu. Tidak ada satu pun panggilan telpon yang dijawab, chat pun tidak dibalas.

Melodi Perjuangan (3)

Selain dari tuduhan-tudahan yang disampaikan Pak Ginanjar kepada mereka bertiga, Kania secara tidak langsung juga mengetahui bahwa pernikahannya dengan Bara tidak akan pernah terjadi.

Percaya Diri itu Nomor Satu!

Aku percaya bahwa tidak ada satu pun anak yang terlahir bodoh di dunia ini. Itu berarti setiap anak terlahir pintar dan cerdas. Termasuk aku, kamu, kita semua punya bakat pintar. Sehingga jangan percaya kalau ada yang bilang, “Kamu bodoh!” Pecayalah bahwa kita adalah manusia berbakat, meski kadang bakat itu masih terpendam jauh di dasar paling... Continue Reading →

Ambilkan Bulan, Bu (Tamat)

"Kamu ini! Udah dicariin kerjaan, malah ditolak!" "Bu, di sana itu aku nggak boleh pake jilbab." "Trus, kamu mau kerja apa? mau kayak gini terus? pendapatanmu aja nggak beda jauh sama ibuk. Buat apa kuliah kalau cuma jualan. Orang nggak kuliah aja juga banyak yang jualan! Mending kayak Ratih sekalian. Jadi pembantu, nggak bayar kontrakan,... Continue Reading →

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑