Melodi Perjuangan (5)

Ragil tak lagi membalas email Kania. Ia sudah menangkap maksud dari surat itu. Babak Final. Kisah ini harus segera diakhiri, begitu pikirnya. Selesai membaca surat itu, ia mengambil Satria dari gendongan istrinya. Bayi laki-laki itu baru sebulan lalu, menghirup udara bumi. Kulitnya masih memerah, Inderanya belum semua berfungsi dengan baik. Tapi anak itu, tentu sudah merasakan tetesan air mata ayah dan ibunya yang kerap jatuh saat menimangnya.

Advertisements

Melodi Perjuangan (4)

Bodoh! Makinya terhadap dirinya sendiri. Antara benci dengan situasi terkutuk itu dan kekecewaannya terhadap Bara. Bahkan tidak ada satu pun kata yang disampaikan Bara selama masa-masa menegangkan itu. Tidak ada satu pun panggilan telpon yang dijawab, chat pun tidak dibalas.

Melodi Perjuangan (3)

Selain dari tuduhan-tudahan yang disampaikan Pak Ginanjar kepada mereka bertiga, Kania secara tidak langsung juga mengetahui bahwa pernikahannya dengan Bara tidak akan pernah terjadi.

Melodi Perjuangan (2)

Belum lagi ada keanehan pada sikap Bara, calon suaminya. Harusnya mereka mudik ke Surabaya bersama. Tapi mendadak Bara membatalkan dengan alasan masih ada pekerjaan. Ia masih harus di Jakarta hingga lebaran. Alasan yang masuk akal, Bara sebagai bagian manajemen kantor pusat. Biasanya sangat sibuk bahkan saat lebaran. Tapi, hingga H+3 lebaran, Bara masih belum juga muncul ke rumah Kania. Saat ditanya kapan datang, Bara hanya menjawab singkat, “Nanti aku hubungi kalau udah mau ke sana.”

Melodi Perjuangan (1)

“Dulu ketika aku meminang istriku, aku memberinya suatu janji tentang masa depan. Aku berjanji memberinya kehidupan yang berat sebagai pejuang. Dan dia menerimaku apa adanya. Dia sangat ikhlas dengan keadaanku dan memang mempersiapkan diri sebagai istri seorang pejuang. Dia bukanlah makhluk sempurna. Beberapa kali kucoba mengingatkan dengan halus maupun keras. Dan dia bisa memahami dan... Continue Reading →

Pertemuan Sula Suli

Hari ini, Sula Suli itu sudah terpisah. Sudah cukup lama, tanpa salam perpisahan bahkan tak lagi bersapa sesudahnya. Bukan karena mereka saling benci tapi karena dihadapkan pada situasi lingkungan yang tak terjelaskan. Mungkin suatu hari, suatu waktu yang tak terduga lagi, akan kembali dipertemukan.

Khalifah

Jikalau rencana-rencana yang kubuat harus tak terlaksana, aku percaya garis-garis takdir buatanMu adalah lukisan terbaik. Pada setiap jalan di mana aku harus berbelok atau berputar jauh, itu justru mengembalikan langkahku pada jalan utama yang seharusnya kutempuh. Pada setiap benturan yang membuatku terjatuh adalah caraMu melimpahkan kekuatan dalam kesabaran yang kurajut tiap detak nadiku. Mereka bertanya,... Continue Reading →

Tak Pernah Sempurna

bu, aku tahu selamanya tak akan pernah sempurna bagimu jangankan sejuta harapanmu, mewujudkan satu ekspektasimu saja belum tentu bisa aku kira, apa yang sudah kulakukan akan membuatmu bangga tapi aku cuma bikin kau kecewa selalu aku sudah coba belajar sekeras mungkin tapi katamu aku pemalas aku juga ingin jadi anak pintar, tapi entah kenapa aku... Continue Reading →

Cinta Tanpa Kata

"Bocah, kalau sudah nggak bisa diatur, nggak mau nurut sama Mamak, ya sudah. Tak tinggal aja! Mamak minggat aja, ikut Bulikmu ke Jakarta!" Mbak War berkata dengan nada nelangsa, sambil tangannya meraih baju-baju dalam lemari dan memasukkannya ke dalam tas baju. Melihat Ibunya yang terlihat serius mengemasi pakaian, Adi segera berlari ke arah Ibunya. "Biyungg,... Continue Reading →

Blog at WordPress.com.

Up ↑