Masih Menilai sesuatu dari cover?

Jangan nilai sesuatu dari tampilan luar. Tapi ayo coba jujur, tampilan luar masih mendominasi penilaian kita dalam kehidupan sehari-hari kan?
Kalau di jalan atau di public transportation misalnya, ketemu dengan sekelompok wanita bercadar hitam-hitam atau ketemu pria bertato pakai celana jeans sobek-sobek. Apa yang pertama terlintas dalam pikiran kamu? curiga? tak nyaman? Padahal kita belum tahu bagaimana kesehariaannya.

Itu contoh udah terlalu biasa sepertinya ya. Coba kita evaluasi pertimbangan yang kita gunakan saat memilih pasangan deh, dominan cover atau kualitas pribadinya. Sering saya ketemu dengan orang yang memasang kriteria pasangannya: pendidikan min.SMA/sederajat, tinggi minimal155 cm, berat badan tidak terlalu gemuk dan tidak terlalu kurus alias ideal, berpenampilan menarik, diutamakan yang sudah berpengalaman. Eh. Itu cari pasangan atau cari SPG kakak?

Padahal kita juga sudah tahu kalau yang muda akan menua, yang mapan suatu ketika akan goncang, yang langsing akan gemuk juga pada akhirnya. Padahal juga, sudah berkali-kali mendengarkan pengajian dari ustad internasional, nasional bahkan ustad di Mushola kalau mencari pasangan jangan melulu soal fisik apalagi cari yang sempurna seperti bidadari dan bidadara. Sudah khatam Al Qur’an berkali-kali dan baca hadist-hadist tentang memilih pasangan.

Tapi tahu tidakk berarti menerapkan. Kepala boleh mengangguk, tapi hati belum tentu tunduk. Ini tentu jadi renungan untuk kita. Agaknya sekarang tidak cukup hanya memperbanyak teori. Satu ilmu tapi dipraktekkan secara konsisten di berbagai situasi akan lebih bermanfaat ketimbang 1000 ilmu tapi tanpa amal.

Jadi bahan evaluasi juga untuk diri, apakah kita selama ini lebih banyak meningkatkan kualitas diri atau sibuk hanya memperbaiki cover. Tentu tidak bisa dijadikan kebanggaan jika orang melihat kita hanya dari cover saja, tapi sebenarnya dalam diri kita tak sebaik yang mereka kira.

Alangkah baiknya jika kecantikan tampilan luar, tingginya tingkat pendidikan, tingginya skill juga dibarengi dengan kebaikan akhlak dan ketaqwaan. Bukankah segala fisik dan materi itu akan ada batasnya dan lenyap? sedangkan teman sejati adalah amal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: