Kasih Putih (1)

Part 1: Malaikat Penangkap Bola

Di salah satu SMA Negeri di kota Jakarta, seorang anak laki-laki menatap dengan pandangan aneh kepada seorang gadis seangkatannya. Dari lantai 2 depan kelasnya, laki-laki itu memandangi gadis yang sedang bermain volly di lapangan. Sekolah itu bangunannya berbentuk kotak dengan lapangan persegi panjang di tengahnya.

Kebetulan jam pelajaran di kelas siswa laki-laki tersebut sedang kosong. Ia ingat bahwa saat itu adalah jam olah raga kelas XI IPA 2, ada yang menarik perhatiannya. Perhatian siswa itu tertuju pada seorang gadis berjilbab yang tengah asyik bermain dengan teman-temannya yang semuanya adalah laki-laki. Nampak gadis itu melakukan serving, passing dan smash.  Ia tidak terlalu jago tapi bisa mengimbangi permainan teman-temannya. Beberapa kali juga meledak tawa diantara mereka. Gadis itu terlihat sangat menikmati permainannya. Ia tidak sadar ada seseorang yang tengah memperhatikannya.

Laki-laki itu juga teringat saat jam olah raga gadis itu minggu lalu, ia melihat gadis itu melakukan lemparan bebas. Dalam 1 menit, gadis itu bisa 36 kali memasukkan bola tepat ke dalam ring dalam waktu 1 menit. Anak itu bahkan mendapat skor tertingi di kelasnya dan mengalahkan teman-temannya yang justru pemain basket. “Ah, gadis yang aneh,” gumam laki-laki itu.

Laki-laki yang sejak tadi memandangi gadis itu bernama Ksatria. Sedangkan gadis yang dipandangi itu adalah Kinasih. Mereka teman satu angkatan tetapi beda kelas, keduanya hanya sekedar kenal dan tidak begitu akrab. Hanya karena mereka satu ekskul di Pramuka, pernah beberapa kali saling menyapa.

Di hari yang lain…

Seorang siswi dengan jilbab yang kedua ujungnya dikaitkan di belakang, masuk ke ruang ekskul Pramuka. Ia mencari seseorang yang ia butuhkan tanda tangannya. Ia memutar pandangannya ke seluruh sudut ruangan itu, tapi ia tidak mendapatinya. Meski sudah tahu orang yang dicarinya tidak ada, ia masi memutar pandangannya sekali lagi, berharap ada yang terlewat dari pandangannya. Ruang 4 x 6 itu selalu penuh saat jam pulang sekolah.

“Heh!” Tiba-tiba terdengar suara dari belakang Kinasih dan sangat mengagetkannya.

“Astaghfirullah!” seru Kinasih seraya berbalik ke belakang, ke arah suara itu. Lalu dilihatnya sesosok laki-laki dengan rambut keriting kecil dengan tatapan dingin. Ia ingin marah, tetapi kemudian ia tahan. “Ngagetin itu bisa jadi salah satu bentuk kedzaliman tak termaafkan, apabila orang yang kamu kageti itu ternyata punya sakit jantung.”

“Ah, kepanjangan ngomongnya. Lagian ngapain sih berdiri di tengah jalan, ini kan tempat buat orang lewat,” Laki-laki itu menimpali dengan ketus.

“Oke mister freezer, saya mencari anda untuk minta tanda tangan. Silakan dibaca dengan cepat dan segera tanda tangan. Anda punya waktu 60,1 detik mulai dari sekarang.”

Laki-laki itu memandang heran terhadap sosok yang di depannya itu. Semakin meyakinkannya bahwa Kinasih adalah anak yang memang berbeda. Dengan gerakan yang dibuat terlihat malas, ia mengambil berkas yang diberikan Kinasih. Membacanya sebentar lalu menandatanganinya, tidak lupa menuliskan nama terang, Ksatria Putra Dewa. Setelah itu memberikannya kepada gadis itu lagi.

“Ke-sa-tri-a -Pu-tra-De-wa”, gadis itu mengeja pelan nama yang tertera di tanda tangan tersebut. “Jadi kamu Ksatria dari anak Dewa apa?” tanya gadis itu dengan tertawa sedikit tertahan.

“Urusannya udah selesai, kan?” Ksatria lalu masuk ke ruangan melewati Kinasih, tanpa menjawab pertanyaannya.

“Hmmm, mister freezer bin tembok, hihihi.” Gadis itu justru malah terkekeh mlihat tingkah laki-laki itu. Meski ditanggapi dengan ketus, Kinasih tahu bahwa Ksatria bukan orang yang sombong apalagi jahat. Sudah beberapa kali Ksatria mengambil dan melemparkan bola padanya. Saat bola basket atau bola vollynya keluar lapangan, entah sering sekali pas Ksatria ada di dekat bola itu. Ksatria lalu menagkap dan melemparkan kembali bola itu ke Kinasih. Itu membuat Kinasih tidak perlu berlari jauh mengambil bolanya. Kinasih bahkan sempat berpikir, bahwa anak laki-laki itu mungkin adalah malaikat penangkap bola. Malaikat khusus yang dikirimkan Tuhan untuk menangkapkan bola untuknya, mengurangi letihnya walau hanya sedikit. “Oh, so sweet,” Kinasih meringis sendiri mengingat hal itu.

Saat kelas XII, mereka berada di kelas yang sama. Saat itulah mereka jadi semakin dekat. Mereka jadi sering main volly atau basket bareng saat olah raga atau jam kosong. Pulang sekolah mereka juga masih suka nongkrong di sekretariat Pramuka. Kinasih yang anak kosan, juga sering mampir ke rumah Ksatria sepulang sekolah.

Suatu hari Kinasih pernah bertanya pada Ksatria. “Kenapa sih namamu pake huruf K di awal, nggak cukup satria aja? Kan orang jadi susah ngomongnya … Ke-Sa-Tri-a. Lebih enak Satria.”

“Kalau namaku Satria, kita nggak bisa jadi double K dong. Klo Ksatria kan kita jadi bisa duo K. Ksatria, Kinasih.”

“Dasar Jaka Sembung, nggak nyambuuuungggg!” Meski begitu, Kinasih tersipu. Merasa bahwa semesta memang sedang bersepakat mempertemukan duo K, Ksatria dan Kinasih.

Sepuluh tahun berlalu, Ksatria tidak lagi jadi malaikat penangkap bola. Ia bahkan sudah menangkapkan apa saja untuk Kinasih, mulai dari tumpukan tugas kuliah, hp yang sering tersenggol jatuh, gelas yang terlepas dari tangannya karena saking terlalu banyak barang yang sedang ditenteng. Ksatrialah yang sering menangkapkan semangat untuk Kinasih saat gadis itu sedang tidak termotivasi.

“Sat, aku minggu depan aku mau pindah ke Surabaya.”

“Hah! Serius? Kamu mau melebarkan kerajaan alien ke Surabaya? Waduh, malapetaka nih buat penduduk Surabaya!” Sambil tertawa Ksatria merespon kabar dari Kinasih.

“Kita mungkin nggak akan ketemu lagi setelah ini.”

 

#Onedayonepost #ODOPbatch5 #tantangancerbung

 

Advertisements

2 thoughts on “Kasih Putih (1)

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: