Kasih Putih (9)

Part 9: Memulai Hidup Baru

Setelah pertengkaran dengan ksatria waktu itu, Kinasih memang sangat kecewa dan sakit hati dengan Ksatria. Tapi dia jauh lebih kecewa dengan dirinya sendiri. Rasa kecewanya terhadap dirinya sendiri jauh lebih besar daripada kecewanya terhadap Ksatria.

“Semua ini salah gue, Ris. Harusnya emang gue ngomong sejak awal ke Ksatria. Masalah udah besar, baru dia tahu. Sejak awal kan Ksatria nyerahin masalah rumah baca ke gue. Tapi gue yang bego, nggak bisa handle. Sekarang, gue cuma ngecewain dan nyusahin banyak orang, terlebih lagi Ksatria.” Begitu yang disampaikan Kinasih ke Haris sebelum dia pergi dari Bekasi.

Haris sudah berusaha untuk menghibur Kinasih dan menyampaikan bahwa apa yang terjadi bukan salah Kinasih.

“Itu kan dinamika yang biasa dalam soal seperti ini, Sih. Lu kan udah berusaha sebaik mungkin buat nyelesain. Tapi emang masalahnya nggak segampang itu. Mungkin ini juga ujian dan tantangan buat Lu. Ambil hikmah dan pelajarannya aja. Emang Lu mau nyerah setelah ini? Masih ada tempat lain, masih ada kesempatan lain. Kali aja, Allah justru mau ngarahin Lu ke tempat yang lebih baik. Kemarin cuma buat pembelajaran aja, biar lu tahu dinamikanya, lu punya pengalaman buat ngadepin soal yang lebih besar lagi. Kalau kata lagu Float, Jangan henti di sini!” Haris panjang lebar menasehati Haris.

Tiba-tiba ekspresi Kinasih berubah, ia terpikir sesuatu dan nampak senyum tergaris di wajahnya. “Lu, bener banget, Ris. Lu emang bijaksana dan sangat menginspirasi. Sip, makasih ya, Bro! gue pergi dulu. Gue minta maaf kalau selama ini ngrepotin Lu dan Elin. Makasih banget lu dan bantuin gue. Lu akan jadi sahabat gue sepanjang masa dunia akherat. Wassalamu’alaikum!”

Kinasih lalu bergegas pergi, bahkan tanpa pamit pada Elin yang sedang sibuk menjemur pakaian.

Melihat Kinasih yang ngeloyor pergi, Haris mencoba memanggilnya, “Woi, Lu mau ke mana, Sih?!”

“Pindah Planeeetttt! Jangan cari gue!”

“Dasar Alien kesambet!” Gerutu Haris karena ditinggalkan begitu saja oleh Kinasih.

Dari kata-kata Haris, Kinasih tiba-tiba teringat dengan Dewa. Laki-laki dari Bandung yang pernah datang ke rumah baca. Ia ingat ajakan Dewa untuk membantunya mendirikan taman baca di kafenya. Setelah kedatangannya di rumah baca kala itu, Dewa beberapa kali menghubungi Kinasih. Tapi karena Kinasih sedang menghadapi masalah rumit di rumah baca dan pertengkarannya dengan Ksatria, semua panggilan dan chat dari Dewa tidak dihiraukannya.

Setelah itu Kinasih selalu kepikiran tentang Bandung dan Bandung. Ia merasa tidak ingin lagi tinggak di Bekasi, Jakata, tidak satu pun di Jabodetabek. Dia ingin pergi dan menjauh dari Ksatria dan segala hal yang menyangkut tentang Ksatria. Sudah cukup! Begitu pikirnya. Agaknya dia berpikir bahwa sudah saatnya benar-benar pergi dan menutup kisahnya dengan Ksatria. Setelah ini Ksatria akan menikah, rumah baca sudah tidak ada, maka keberadaannya juga tidak ada arti lagi bagi Ksatria.

Mungkin untuk ini aku kembali ke Jakarta. Menutup cerita dengan Ksatria. Begitu pikir Kinasih. Selama ini Kinasih tidak benar-benar bisa melepas Ksatria dari hatinya. Meskipun sempat tinggal berbeda kota beberapa tahun, tapi dalam hatinya, Kinasih masih memendam asa. Dalam hati kecilnya berharap, ada keajaiban yang membuat Kinasih bisa bersama dengan Ksatria. Bukan sebagai dua orang yang bersahabat, tetapi menjadi pasangan hidup.

Setelah pertengkarannya dengan Ksatria, Kinasih sadar bahwa memang tidak ada yang bisa diharapkan lagi dari hubungan mereka. Sejak pertemuannya dengan Mustika sampai masalah rumah baca, menyadarkan Kinasih bahwa ia memang harus segera pergi dari kehidupan Ksatria. Ini adalah pilihan terbaik, untuk Ksatria dan terlebih lagi untuk Kinasih sendiri.

Setelah menyelesaikan urusan rumah baca, Kinasih menghubungi teman lamanya, Talita. Talita adalah seorang designer dan merintis bisnis fashion di Bandung. Mendengar Kinasih resign dan pindah ke Jakarta, Talita sempat menghubungi Kinasih. Ia mengajak Kinasih menjadi bagian dari tim marketingnya. Tapi saat itu Kinasih menolak. Kinasih memilih untuk tetap tinggal di Jakarta, merintis usaha online. Setelah dapat ajakan dari Ksatria untuk mendirikan rumah baca, Ia bahkan tak berpikir untuk beranjak kemana pun dari Jakarta.

Tanpa berpikir lama, Talita langsung saja mengiyakan saat Kinasih menghubunginya untuk menawarkan diri masuk dalam timnya. Talita bisa saja mencari orang dengan skill marketing yang lebih baik dari Kinasih, tapi Kinasih adalah orang yang sangat berdedikasi dengan pekerjaan. Dia komitmen dengan pekerjaan, tekun dan tentu saja teman sharing yang nyaman buat Talita.

Setelah menyelesaikan semua urusan rumah baca, Kinasih segera berangkat ke Bandung. Sempat terpikir untuk pamit pada Ksatria. Tapi ia urungkan niatnya. Ksatria mungkin sudah tidak terlalu peduli. Lagipula, Ksatria juga tidak menghubunginya sama sekali. Bertemu dengan Ksatria hanya akan membuat Kinasih bimbang untuk pergi. Ia lantas memutuskan untuk tidak menghubungi siapa pun terkait kepindahannya. Nanti saja kalau sudah sampai di Bandung, begitu pikirnya.

Dan sampai juga akhirnya Kinasih di Bandung. Kota ini dalam hal kemacetan tidak kalah dengan Jakarta. Sama ruwetnya, bahkan mungkin terasa lebih tak teratur. Lebar jalannya tidak sebesar Jakarta, namun kepadatannya cukup tinggi. Banyak jalan yang hanya satu arah, sehingga jika terlewat berbelok ke tempat yang dituju, harus berputar jauh.

Tapi nuansa kota Bandung tetap saja berbeda dari Jakarta. Di Bandung sangat terasa nuansa artistiknya. Di dinding-dinding kota banyak tulisan dan mural yang indah. Sudah barang tentu penduduknya sangat kreatif dan sangat dominan bidang seninya.

Tidak butuh waktu lama untuk jatuh cinta pada kota ini. Kinasih pun segera sibuk dengan pekerjaan barunya. Selain itu, dia juga sudah disibukkan dengan kafe baca yang pernah dibicarakannya dengan Dewa. Sesampainya Kinasih di Bandung, Ia segera menghubungi Dewa untuk minta detail alamat kafenya. Dewa nampaknya juga sangat senang dengan kedatangan Kinasih. Apalagi saat Kinasih menawarkan diri untuk membantunya merealisasikan ide kafe baca.

Tidak butuh waktu lama, seminggu kemudian sudah nampak sebuah ruang dengan rak-rak buku dengan hiasan warna-warni di dinding dan atapnya. Kinasih dan Dewa berhasil menyulap pojok kiri kafe bagian depan menjadi sebuah taman baca mini. Kapasitas ruang tersebut bisa untuk sekitar 25 anak-anak.

“Saya udah mikir ini bertahun-tahun lalu dan kamu bikin ini cuma dalam waktu satu minggu. Makasih ya, kamu seperti peri yang menyulap mimpi saya jadi kenyataan.” Dewa berbicara sambil menatap lembut ke arah Kinasih.

Kinasih jadi agak canggung, “Ah, kan saya cuma bantu angkat-angkat buku dan ngerapiin aja kang.”

Kinasih menatap puas dengan taman baca didepannya. Meski aku nggak bisa nglanjutin rumah baca di Jakarta, tapi aku lanjutin impian kita di sini, Sat. Aku akan terus melanjutkan apa yang jadi cita-cita kita dulu. Kinasih berkata dalam hati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: