Kasih Putih (8)

Part 8: Penyesalan Selalu Datang Terlambat

Sejak pertengkaran dengan Kinasih, Ksatria terus saja kepikiran. Dia sebenarnya sangat merasa bersalah dan ingin segera minta maaf ke Kinasih. Tapi agaknya egonya terlalu tinggi. Ia tidak mau memulai untuk menghubungi Kinasih lebih dulu. Baginya, Kinasih juga yang salah karena sudah menyulut emosinya bahkan mengungkit hal yang tidak berhubungan dengan masalah rumah baca.

Mustika juga mulai bertanya-tanya tentang Kinasih. Ia berkali-kali menghubungi Kinasih tidak bisa. Telfon atau chatnya tidak dibalas. Mustika ingin menengoknya di kosan tapi masih belum sempat. Belakangan, ia sangat sibuk dengan pekerjaannya.

“Kinasih kenapa ya, Sat? kok, aku hubungi nggak bisa. Chatku nggak dibales, telpon juga nggak diangkat.”

“Nggak tahu.” Ksatria menjawab singkat tanpa melihat Mustika.

Tidak puas dengan jawaban itu, “Kalian lagi berantem?”

“Hah, Nggaklah, kayak anak kecil aja berantem. Kinasih kan udah gede, punya kehidupan sendiri juga. Aku nggak mesti tahu dia lagi ngapain, lagi ada apa. Emang hidup Cuma soal Kinasih!” Ksatria menjawab dengan kesal.

“Hei, kok kamu jadi sensi sih, kan aku cuma tanya, kalian lagi berantem? Jawabannya cukup ya atau nggak.” Jawaban Ksatria malah membuat Mustika tertawa geli. Tapi juga meyakinkannya bahwa sedang ada masalah antara Ksatria dan Kinasih.

“Emang kamu nggak kangen sama Kinasih. Coba temui sana, nanti kalau ternyata dia pergi jauh gimana? Kamu siap nggak ketemu dia lagi?” Meski terdengar agak aneh, entah kenapa kata-kata Mustika meluncur begitu saja. Mustika hanya ingin memastikan kondisi Kinasih dan tidak ingin kedua sahabat itu bertengkar terlalu lama.

Gimana kalau Kinasih pergi jauh dan aku nggak bisa ketemu lagi. Tiba-tiba Ksatria memikirkan apa yang dikatakan Mustika. Sepertinya memang sudah waktunya dia harus menghubungi Kinasih lebih dulu. Tidak terasa sudah dua minggu mereka saling diam dan tidak memberi kabar.

Keesokannya, Ksatria datang ke rumah baca. Terakhir kali, pertengkarannya dengan Kinasih di rumah baca dan sejak itu Ksatria malah tidak membantu apa-apa untuk menyelesaikan urusan rumah baca. Muncul rasa bersalah dalam diri Ksatria. Ia merasa memang apa yang dikatakan Kinasih ada benarnya. Ia tidak pernah ada untuk rumah baca. Padahal pendirian rumah baca itu atas inisiasinya. Tapi dia justru tidak bertanggungjawab untuk mengurusnya. Ia terlalu merasa berjasa karena mengurus dan membiayai legalitasnya di awal. Padahal ruh berdirinya rumah baca, jauh dari sekedar soal legalitas.

Sesampainya di rumah baca, Ksatria melihat pintunya terkunci. Spanduk Rumah Baca yang biasanya terpasang di depan juga tidak ada. Ia lantas menempelkan wajah dan kedua tanggannya di kaca, mencoba mengintip bagian dalam. Ternyata kosong, tidak ada buku-buku terjejer, hanya ada rak-rak kosong serta meja. Kursi pun juga tidak ada.

“Jadi rumah baca ini benar-benar udah tutup,” guman Ksatria.

“Cari siapa, bang?” suara anak remaja laki-laki mengagetkan lamunan Ksatria

“Oh, eh, ini rumah bacanya udah tutup ya?”

“Iya, Bang. Udah seminggu lebih. Udah kagak ada orang di situ. Pulang aja, Bang” Jawab anak itu lalu pergi.

Ksatria lalu mencoba telpon Kinasih. Tapi ternyata nomornya tidak aktif. Ia coba untuk chat WA.

Na, lagi di mana?

Dari pesan yang dikirim Ksatria, dilihatnya hanya ada tanda centang satu. Itu berarti Wa Kinasih juga tidak aktif. Ksatria mulai gelisah. Jangan-jangan Kinasih benar-benar pergi, begitu pikirnya. Ia segera menuju mobilnya dan melaju menuju kosan Kinasih. Tapi ternyata sia-sia, Kinasih sudah tidak tinggal di sana. Kata Ibu kosnya sudah seminggu yang lalu pindah.

Ksatria lemas, terdiam duduk di mobil. Ia tidak menyangka Kinasih benar-benar pergi. Sepertinya dia sudah berbuat kesalahan yang sangat fatal.

“Aaarrggghhh!” Ksatria memukul-mukulkan tanggan sendiri ke stir mobilnya. Ia sangat kesal pada dirinya sendiri.

Seandainya saja, dia mau menurunkan egonya sedikit saja. Datang ke tempat Kinasih seminggu yang lalu mungkin belum terlambat. Ia bahkan tidak punya nomor relawan rumah baca satu pun. Paling tidak, Kinasih pasti pamit ke relawan rumah baca dan mengatakan dia akan pergi ke mana. Tapi Ksatria tidak ada kontak mereka. Kali ini Ksatria baru menyadari, betapa tidak pedulinya dia dengan Kinasih, rumah baca, relawan.

“Apa Kinasih pulang ke Jogja?” Ksatria lalu teringat adik Kinasih. Ia buru-buru mencari kontaknya. Mungkin saja Kinasih sedang mudik. Begitu pikirnya. Tapi dari keterangan adik Kinasih, kakaknya tidak sedang di Jogja. Adiknya malah mengatakan kalau kakaknya di Bekasi. Sepertinya Kinasih juga tidak cerita ke adik dan ibunya tentang masalahnya dan pindah kosan.

Satu-satunya harapan terakhirnya adalah Haris dan Elin. Mereka berdua beberapa kali masih ikut mengurus rumah baca. Ksatria berpikir, mereka paling tidak juga diajak diskusi tentang penanganan rumah baca dan mungkin mereka juga tahu di mana Kinasih sekarang.

“Waktu itu Kinasih ke sini, dia emang bilang kalau mau pindah. Tapi kagak bilang mau pindah kemane.” Haris menjelaskan ke Ksatria.

“Masa sih, dia nggak bilang lu mau pindah ke mana?” Ksatria masih bertanya tak percaya.

“Yah, Lu aje kagak dipamitin, apalagi gue! Lu kan soulmate diye! Lu kan tau, Kinasih itu orangnye tertutup. Kalo bukan kite yang nebak-nebak, ngajak ngomong duluan, diye kagak mau bilang. Diye itu ngerasa dirinya alien, kagak mau ngrepotin penduduk bumi macem kite ini. Nah, Lu gimane sih. Bukannye yang paling diandelin ma diye, eh malah sekarang kebingungan.”

Setelah cukup lama berbincang dengan Haris, Ksatria pamit pulang. Haris benar-benar tidak tahu keberadaan Kinasih. Haris dan Elin bahkan kaget mendengar pertengkaran yang terjadi antara mereka berdua sebelumnya.

“Lu juga sih, Sat. Jadi orang kagak peka bener dah! Kinasih itu sayang banget ama Lu sejak dulu. Diye udah ngelakuin banyak hal buat lu sejak kuliah. Sampe kemaren die bela-belain ngurus rumah baca sendiri. Kelimpungan ngadepin masalah, die pikir sendirian juga. Die pengen bisa ngewujudin cita-cita lu juga.”

Kata-kata Haris itu terngiang terus di pikiran Ksatria dan semakin menambah rasa bersalahnya. Sekian lama dan dia baru tahu. Tidak, dia bukan tidak tahu tapi dia berusaha mengabaikan apa yang dia sebenarnya ketahui.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: