Kasih Putih (7)

Part 7: Segalanya jadi Runyam

Sudah dua minggu, tapi masalah rumah baca belum juga terselesaikan bahkan makin rumit. Agaknya peluang untuk bisa diselesaikan semakin kecil. Isu negatif tentang rumah baca semakin santer, banyak orang tua yang melarang anaknya datang ke rumah baca.

Semenjak pendiriannya, rumah baca sudah sangat menyita waktu dan pikiran Kinasih. Tidak hanya dalam menjalankan kegiatannya, masalah pendanaan juga menambah beban Kinasih. Operasioanal rumah baca cukup banyak menguras kantongnya. Meski secara nominal nampaknya tidak terlalu besar, tapi bagi Kinasih yang profit penjualan onlinenya tidak begitu besar, tidak bisa dianggap sedikit.

Pagi ini Kinasih janjian dengan Ksatria bertemu di rumah baca. Malam sebelumnya, Ksatria menemui tokoh setempat dan mencoba melakukan negosiasi agar rumah baca tetap diperbolehkan melakukan kegiatan. Tapi tidak berhasil. Keputusan tokoh dan kesepakatan warga, Rumah baca harus ditutup.

“Kamu kok nggak cerita sejak awal sih kalau ada masalah-masalah di rumah baca? Kalau sudah besar seperti ini, jadinya susah untuk diselesaikan!” Sejak mendengar kabar permasalahan di rumah baca, Ksatria sangat marah. Apalagi dia justru mendengar masalah itu bukan dari Kinasih, tapi dari Haris.

“Sorry, aku kira waktu itu bisa kuselesaikan sendiri. Aku nggak nyangka kalau masalahnya bisa seserius ini.”

“Kamu harusnya nggak meremehkan masalah. Kita kan pernah diskusi, kalau pendirian rumah baca semacam ini sangat sensitif di masyarakat. Kita juga udah sepakat kan, kalau nggak ngajar ngaji di sini karena di sini sudah ada Ustad Rahmat yang ngajar ngaji sejak lama. Ngapain kalian pada ngajar ngaji!”

“Kita juga nggak ada program ngaji, Sat. Waktu itu ada anak yang ngrengek minta diajari ngaji karena katanya ngaji di ustad Rahmat nggak enak, dimarahin terus. Padahal besoknya ada tes di sekolah.” Kinasih mencoba menjelaskan.

“Ya, kan bisa ditolak. Kita tahu resikonya pasti akan panas kayak gini.”

“Itu kejadian cuma kasuistis anak itu aja dan itu juga cuma dua kali. Setelah aku tahu…. ”

“Harusnya kamu lebih teliti dan bisa ngajari relawan-relawan untuk ikut sama aturan di rumah baca.” Ksatria nampaknya tidak mau mendengar alasan apapun dari Kinasih.

“Kok kamu jadi nyalahin relawan sih? Mereka udah setengah mati lho buat ngadain kegiatan di sini.”

“Kenyataannya mereka juga yang bikin hancur rumah baca ini!” Nada bicara Ksatria semakin tinggi.

“Hei, Ksatri Putra Dewa! Rumah baca ini nggak akan bisa berdiri dan berjalan tanpa ada relawan. Kamu kira rumah baca ini punya siapa? Punya kamu? Iya, kamu yang urus legalitasnya, nama kamu tertera di dokumen pendirian rumah baca ini. Tanda tanganmu juga ada di semua surat tentang rumah baca. Tapi fisik dan pikiran kamu apa pernah ada di sini? Di mana kamu pas relawan ngajak anak-anak di sini? Di mana kamu pas kita pernah kebanjiran dan separuh buku-buku kita hanyut? Di mana kamu pas ada salah satu anak didik kita yang ditabrak lari motor di depan gang dan harus segera dirawat di rumah sakit sementara orang tuanya nggak punya biaya? Sibuk kerja? makan malam, jalan-jalan sama kekasih kamu?”

“Kok, kamu bawa-bawa masalah yang nggak berhubungan sih!”

“Trus aku harus bawa apa? Memang apa yang sedang kamu sibukkan selain itu? kerja dan asik jalan-jalan sama calon istri kamu. Sibuk bikin pesta pernikahan yang mewah kan?!” Kali ini justru Kinasih yang emosinya makin tinggi.

“Memang apa salahnya dengan apa yang aku lakuin? Kamu kira aku juga nggak mikirin buat rumah baca? Kamu ingat berapa dana yang aku keluarin untuk sekedar pendirian rumah baca kayak gini. Ngurus legalitasnya, beli peralatan, dari mana semua itu? itu juga hasil dari kerjaku! Trus kalau nanti aku nikah bikin resepsi mewah salah juga? Siapa kamu sok ngatur-ngatur hidup aku?”

Kinasih tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari Ksatria. Cara Ksatria mengungkit apa yang dia lakukan untuk rumah baca. Cara dia mengutarakan pernikahannya dan protes dengan Kinasih, seolah bukan Ksatria yang biasanya dia kenal.

“Nggak, kamu nggak salah. Nggak ada yang salah dari kamu, Ksatria. Aku yang salah!”

Setelah mengucapkan itu, Kinasih menyambar tasnya yang tergeletak di atas meja dan bergegas keluar tanpa menghiraukan panggilan Ksatria.

Ksatria baru sadar, dia telah melakukan kesalah besar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: