Kasih Putih (6)

Part 6: Berjalan Sendiri

Project rumah baca mulai berjalan. Kinasih cukup disibukkan dengan pendirian rumah baca tersebut. Meski dibantu oleh Haris, Elin dan beberapa temannya yang juga aktif di komunitas literasi tapi mereka tidak banyak membantu. Teman-teman Kinasih juga punya kesibukan masing-masing, jadi tetap saja Kinasih yang paling banyak menghandle project tersebut. Mulai dari mencari lokasi yang tepat untuk pendirian rumah baca, mencari lahan atau ruang yang bisa dimanfaatkan untuk rumah baca, menghubungi tokoh setempat, mengumpulkan donasi buku hingga mengecat sendiri ruang yang akan dijadikan rumah baca. Semua begitu melelahkan, tapi Kinasih sangat antusias. Beruntungnya, saat kegiatan di rumah baca sudah berjalan, Kinasih mendapat kedatangan tiga relawan yang cukup bisa diandalkan dalam menghidupkan kegiatan di rumah baca.

Ksatria sendiri mulai sibuk dengan pekerjaannya di kantor dan menyiapkan pernikahan yang akan diselenggarakan enam bulan mendatang. Sebenarnya ada beberapa kali kesempatan Kinasih bertemu dengan Ksatria. Tetapi saat itu selalu hanya saat Ksatria menjemput Mustika atau saat mereka bertiga makan di luar bareng. Dan mood Kinasih sudah tidak terlalu baik setiap kali mereka jalan bertiga. Ia jadi segan untuk membahas persoalan rumah baca.

“Kak, kenalin ini kak Dewa dari Bandung.” Wahyu, salah satu relawan rumah baca mengenalkan seorang laki-laki di sampingnya pada Kinasih.

Laki-laki di depan Kinasih itu tersenyum dengan lesung pipi yang jelas terlihat. Kulitnya putih dengan wajah khas sunda.

“Oh, hai… Kumaha damang?” Kinasih mencoba mengakrabkan diri.

“Damang. Simkuring teh ningal ti ngawitan pangwangunan rumah baca ieu ti instagram anjeun. Kaleresan ieu nuju aya padamelan di Jakarta, janten nyempetkeun we ngalongok.” Dewa menjawab dengan bahasa sunda fasih.

“Aduh, bahasa planet sunda, saya nggak bisa. Tahunya punten dan kumaha damang aja. Hehehe.” Jawab Kinasih sedikit dengan sedikit sungkan.

“Hahaha, saya juga cuma pamer.”

Setelah itu mereka berbincang tentang rumah baca. Dewa menjelaskan ketertarikannya dengan kegiatan sosial semacam itu, hanya saja karena sibuk bekerja ia belum bisa begitu aktif. Tapi kalau ada waktu, dia sempatkan untuk berkunjung di beberapa rumah baca. Dewa juga menyampaiakan keinginannya sejak lama untuk memfungsikan sebagian ruang di rumahnya untuk taman baca, tapi dia butuh ada yang bisa mengelolanya. Dewa yang sehari-hari sebagai pengusaha café, cukup sibuk dan jarang ada di rumah.

“Kenapa nggak buka rumah baca di café aja? Kan bisa sekalian, sambil kerja sambil ngelola rumah baca. Eh, jadinya café baca,” Kinasih seolah baru saja mendapatkan ilham.

“Hemm, bener juga ya! Tapi kan aku pengennya rumah baca itu bisa untuk anak-anak, terutama anak-anak yang kurang akses, bukan pelanggan café,” Dewa masih ragu.

“Nggak masalah, tempatnya nggak harus di dalam. Nanti buat sedikit space di luar, nggak usah terlalu besar. Luasnya bisa tiga kali tiga atau empat kali empat juga udah lumayan. Tinggal penataannya aja yang diatur ntar. Justru itu juga bisa ngundang perhatian pengunjung café juga, siapa tahu malah justru jadi tempat komunitas gathering dan ikut tergerak untuk bikin aksi sosial ke depannya. Tapi emang perlu dihitung juga sih, sesuai nggak sama branding cafenya, trus lokasinya terjangkau nggak sama anak-anak-anak, layoutnya juga mesti dipikirkan dan…”

Belum selesai Kinasih berbicara, Dewa langsung menyela, “Kalau gitu, gimana kalau kapan-kapan kamu datang ke cafeku. Kamu tahu lebih konkrit situasi di sana dan bisa kasih advice yang lebih detail.”

“Hahaha … saya bukan konsultan pendirian rumah baca, mister. Masih baru belajar juga.”

“Setidaknya kamu sudah berhasil mendirikan rumah baca ini. Kata Wahyu, semua proses pendirian dan pelaksanaannya hampir kamu semua yang ngerjain.”

“Ah, Wahyu lebay. Ini juga….”

Belum selesai Kinasih menyelesaikan kalimatnya, “Assalamu’alaikum!” terlihat tiga orang laki-laki setengah baya berada di depan pintu.

“Wa’alaikumsalam!”Kinasih, Dewa dan Wahyu menjawab bersamaan.

“Mana ketuanya, saya mau bicara!” Kata Salah seorang pria berbadan besar, hampir semua jarinya dipenuhi dengan cinci akik. Ekspresi wajahnya terlihat sangat tidak ramah.

“Punten, Bapak. Ada keperluan apa ya?” Dewa segera merespon nada tak ramah dari pria di depannya.

“Situ ketuanya bukan! Saya mau bicara sama ketuanya!”

“Saya penanggungjawab kegiatan di sini, pak. Silakan masuk dulu. Kita bisa bicarakan baik-baik, Pak kalau ada keperluan.” Melihat gelagat tak ramah dari ketiga laki-laki tersebut, Kinasih segera mengajak mereka masuk. Dari ketiga laki-laki itu, Kinasih hanya kenal satu orang, Pak Mukid. Orang itu adalah ketua RW di wilayah rumah baca.

Kedatangan Bapak-bapak itu ternyata ingin menyampaikan bahwa warga menolak pendirian rumah baca karena mengganggu ketertiban. Selain itu, Pak RW juga menyampaikan bahwa ada keluhan bahwa rumah baca hanya memanfaatkan anak-anak, sama seperti yayasan atau rumah baca kebanyakan. Mereka menilai bahwa pendirian rumah baca semacam ini hanya modus. Pengurusnya cari dana, tapi uangnya tidak disalurkan ke anak-anak.

Kinasih mencoba mengklarifikasi tuduhan tersebut, tapi agaknya tetap saja tidak dapat diterima oleh Bapak-bapak yang nampaknya sudah sangat emosi. Mereka menuntut penutupan rumah baca sepatnya kalau tidak, akan ditutup secara paksa oleh mereka.

Kinasih sangat shocI dengan pembicaraan tadi. Ia sama sekali tidak menduga ada masalah sepelik itu. Ia merasa selama ini kegiatan rumah baca berjalan dengan baik. Sejak awal proses pendiriannya, Kinasih sudah melakukan pendekatan ke tokoh setempat. Bahkan juga ke Pak Mukid yang tadi juga ikut menekannya.

“Ini pasti ada kesalahan. Wahyu, kamu hubungi semua relawan ya. Besok kita adakan rapat, tapi jangan di sini tempatnya. Nanti kita cari tempat lain aja.”

Wahyu hanya mengangguk, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Mungkin dia juga lebih shock dari Kinasih. Apalagi dia belum berpengalaman menghadapi persoalan seperti itu.

“Saya minta maaf ya kang, baru sekali ke sini malah pas ada masalah,” Kinasih menyampaikan tidak enak hatinya ke Dewa.

“Oh, tidak apa-apa, hal seperti ini sudah pasti jadi tantangan rumah baca. Kalau ada yang perlu dibantu, jangan sungkan ya,” Dewa menjawab dengan senyum. Ia berusaha menenangkan Kinasih juga dan menawarkan beberapa gagasan penyelesaian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: