Kasih Putih (5)

Part 5 : Batas Pengorbanan

Setelah pertemuan malam itu, Kinasih jadi sering bertemu dan pergi denga Mustika. Sudah beberapa kali Kinasih menemani Mustika pergi, kadang ke toko buku, mengunjungi museum atau hanya sekedar makan di luar. Pernah juga Kinasih menginap di rumah Mustika selama seminggu saat orang tua Mustika pergi ke luar kota.

“Na, tolong dong temenin Mustika di rumah. Kasihan Mustika sendirian, siapa lagi yang bisa aku mintai tolong selain kamu.” Ksatria merengek minta Kinasih menemani Mustika setelah sebelumnya Kinasih menolak ajakan yang sama dari Mustika.

Kamu kasihan sama Mustika, tapi kamu nggak pernah tahu seberapa sulitnya ini buat aku, Sat! kata Mustika dalam hati. Tapi pada akhirnya Kinasih tak bisa menolak permintaan Ksatria.

Pukul 23.35 Hp Kinasih berderin. “Siapa sih, telpon malam-malam begini,” gerutu Kinasih. Dengan malas dia berjalan dari tempat tidur mengambil gawai yang tergeletak di meja. Dokter Mustika. Terlihat nama di layar ponselnya.

“Kinasih, besok temenin aku fitting baju ya? Kamu lagi nggak ada acara mendesak kan?”

“ehmm, sebenarnya….”

“Ayolah, please,” Mustika segera menyela.

Merasa tidak bisa menolak, Mustika pun menyerah, “Baiklah, jam berapa, Dok?”

“Kamu ini ya, masih aja manggil aku dok. Aku ini calon istri sahabat kamu, bukan dokter yang lagi jaga di puskesmas.”

“Eh, iya maaf… iya kak.” Jawab Kinasih canggung.

“Oke, besok aku jemput jam sepuluh ya. Makasih ya, Dek.”

Panggilan Dek itu sudah sering didengar Kinasih sejak Mustika tinggal di rumahnya. Usia Mustika sudah di angka 30 tahun, selisih tiga tahun dengan Kinasih dan Ksatria yang baru berusia 27 tahun. Meski begitu, Mustika masih terlihat seperti wanita berusia 25 tahun.

Di satu sisi, Kinasih senang kalau ternyata kekasih Ksatria adalah orang yang dikenalnya dan juga sangat baik. Mustika sudah seperti sosok peri dalam negeri dongeng. Dia tidak hanya cantik secara fisik, tetapi juga hatinya. Ia pintar dan luwes dalam pergaulan. Ia melihat Mustika sebagai wanita yang diberkati. Mustika memiliki dua orang tua yang masih lengkap dengan dua orang kakak yang juga sudah sukses. Ia bisa menempuh pendidikan dengan tidak memikirkan biaya. Memilih pekerjaan karena passionnya dan tidak ada tuntutan untuk menafkahi anggota keluarganya, bahkan ia kadang masih dibelikan sesuatu oleh orang tuanya.

Kadang juga terbesit, seandainya saja aku cantik dan pintar seperti Mustika, mungkin Ksatria…P ikiran itu tak berani Kinasih lanjutkan. “Astaghfirullahaladzim….” Kinasih sadar telah melampaui batas. ia tidak ingin jadi memiliki iri dan dengki pada orang lain.

“Bagaimanapun Ksatria layak untuk mendapatkan wanita yang baik, dan Mustika juga layak mendapatkan seorang laki-laki yang baik. Dan aku bahagia jika keduanya mendapatkan yang terbaik,” hibur Kinasih dalam hati.

Pernah terlintas juga dalam pikiran Kinasih, seandainya saja Mustika sebenarnya jatuh cinta pada laki-laki lain yang juga baik dan mungkin lebih baik dari Ksatria. Mustika sebenarnya tidak mencintai Ksatria, selama ini ia tersiksa dengan perjodohan itu. Lalu Mustika memutuskan hubungannya dengan Ksatria dan memilih menikah dengan laki-laki yang dicintainya. Dengan begitu Kinasih memiliki peluang bersama Ksatria dan Ksatria pasti menyadari Kinasihlah orang yang selalu setia bersamanya dalam situasi apapun. Pikiran licik! Begitu Kinasih mencemooh dirinya sendiri.

Kinasih kadang merasa bahwa apa yang dipikirkannya adalah dosa. Mengharapkan sesuatu yang buruk terjadi bukankah itu tidak pantas dilakukan. Ia kadang memandang dirinya sebagai sosok yang kejam. Setelah sadar, ia buru-buru menghapus pikirannya. Tanpa tahu bagaimana mengatasi situasi tersebut, tetapi berjanji akan memberikan yang terbaik dan menjadi sahabat yang baik bagi Mustika dan Ksatria. Meski itu seperti mengiris hatinya sendiri.

….

“Jadi kapan kamu nyusul?”

Suara itu mengagetkan Kinasih. Ia tertangkap Mustika sedang menempelkan sebuah gaun pengantin ke badannya. Ia baru saja berpikir, Apakah suatu hari aku juga akan mengenakan pakaian seperti ini? dengan siapa?

Menyadari tingkah lakunya diketahui oleh Mustika, dia segera meletakkan lagi gaun itu di gantungan. Ia kira Mustika masih sibuk dengan desainer yang mengukur badannya dan diskusi soal gaun pengantin. Tapi bayangan wanita itu sudah terpantul di kaca, Mustika sudah berdiri di belakangnya.

“Kalau ada alien dari planet mars datang ke planet Bekasi!” jawabnya asal.

“Memang nggak pernah ada alien yang sempat datang dan menggemparkan hati penduduk planet sepertimu?” Mustika menggoda Kinasih.

“Ehmm… pernah ada … “ Jawab Kinasih sambil tersenyum mengenang. “Tapi radarnya mati, dia nggak akan merasakan keberadaanku, selamanya …. Ah, lupakan… lupakan. Anggap itu tadi lagi ada ganggungan sinyal. Eh, itu sepertinya bagus juga gaunnya. Kak Mustika perlu coba juga deh.” Kinasih mencoba mengalihkan pembicaraa mereka berdua.

Mustika mengikuti langkah Kinasih, tapi ia merasa ada suatu perasaan yang Kinasih coba sembunyikan. Mustika pernah bertanya ke Ksatria, apakah Kinasih pernah punya kekasih atau mungkin sedang menjalin hubungan dengan seseorang. Tapi Ksatria hanya menjawa, “Nggak tahu tuh, nunggu alien dari Mars ke Bekasi kali.” Jawab Ksatria dengan terkekeh.

“Emang nggak pernah ada gitu dia seneng sama siapa gitu?”

“Ya, mungkin pernah ada. Tapi kayaknya radarnya mati trus mereka gak bisa komunikasi lagi. Kan alien komunikasinya pake radar. Meskipun mereka ketemu, kalau radarnya mati ya nggak akan nyambung. Hahahaha.”

“Kamu ini ngomong apaan sih.” Mustika kesal dengan jawaban nyeleneh Ksatria.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: