Kasih Putih (4)

Part 4 : Bertemu sang Ratu Hati

Kinasih diam mematung di depan kaca setengah badan yang menggantung di tembok kamarnya. Perasaan Kinasih kacau balau. Ia meyakinkan dirinya bahwa hari ini adalah hari yang bahagia. Sudah seminggu lalu, Ksatria mengajak Kinasih untuk makan malam yang tidak biasa.

“Pokoknya, kamu harus datang. Bunderin kalender, pasang alarm. Aku kenalin ma calon ratuku. Kalau sampai kamu nggak dateng, push up seribu kali!” ancam Ksatria pada Kinasih kala itu.

Kinasih tahu bahwa hari itu akan datang, lalu disusul dengan acara lamaran dan pernikahan. Itu sudah pasti dan tidak akan berubah. Tetapi Kinasih tidak dapat membohongi perasaannya. Ia takut, sungguh sangat takut. Bertahun-tahun ia menyembunyikan perasaannya, lalu tiba hari yang akan semakin menusuk hatinya.

“Lalu apa, apa yang kamu inginkah Kinasih?” tanya Kinasih pada dirinya sendiri. Apakah kamu akan menolak datang dan mengecewakan sahabatmu? Tidak, itu terlalu egois. Kamu harus tegar, seperti biasa, kamu adalah seseorang yang tegar.

Kinasih pun akhirnya pergi. Saat ia sampai di restoran tempat ksatria mengundangnya, Haris dan Elin ternyata sudah sampai di sana lebih dulu. Melihat dua orang itu sudah datang lebih dulu, Kinasih sedikit lebih tenang. Haris dan Elin adalah kisah dua orang sahabat yang akhirnya menikah. Elin adalah salah satu sahabat perempuan Kinasih saat kuliah. Sedangkan Haris adalah sahabat Ksatria. Lambat laun, mereka berempat jadi dekat juga, karena terpengaruh dengan persahabatan Ksatria dan Kinasih. Setelah lulus kuliha, Haris dan Elin tiba-tiba memberi undangan pernikahan. Ternyata tanpa sepengetahuan Ksatria dan Kinasih, mereka diam-diam sudah menyiapkan rencana pernikahan setelah lulus kuliah.

Seandainya, itu juga terjadi padaku dan.… Kinasih sempat berharap kisah itu juga terjadi antara dia dan Ksatria.

Kinasih berusaha sebisa mungkin untuk tenang dan menguasai emosinya. Ia berbicang dengan Haris dan Elin meski tidak sepenuhnya paham dengan apa yang sedang mereka bicarakan. Lalu dari jauh, dia mulai melihat sosok Ksatria datang dengan seorang wanita. Samar-sama ia melihat wanita itu, tinggi, berhijab segi empat polos yang diikatkan ke belakang. Wanita itu memakai gamis jeans, terlihat tinggi semampai. Ksatria dan kekasihnya mulai berjalan menuju meja dengan senyum yang tenang dan terlihat bahagia.. Jantung Kinasih semakin berdegup kencang dan semakin Ksatria dan kekasihnya mendekat, ia sepertinya semakin mengenal perempuan yang datang bersama ksatria.

“Sudah lama nunggu ya? Sorry,agak macet. Nah, Kenalin ini Mustika dan Mustika, ini sahabat-sahabatku yang sudah seperti saudara buatku.”

“Oh, ini bidadarinya, yang selama ini tidak pernah diexpose!” Haris menyambut kedua pasangan itu.

“Kinasih!” Wanita berkulit putih itu sedikit berteriak kaget lalu disusul dengan tawa dan pelukan ke wanita yang sejak tadi mematung.

“Iyaa…oh, dokter Mustika, peri nan baik hati. Saya tidak menyangka. It’s So Surprise!” Kinasih segera menyambut pelukan wanita yang sangat ia kenal itu.

Acara makan malam itu berlangsung lancar dan terlihat membahagiakan. Kelima orang itu saling melempar cerita, kadang banyolan yang membuat mereka saling tertawa. Tanpa ada yang menyadari, ada salah satu diantara mereka yang sejak tadi terus menggerak-gerakkan kakinya karena gelisah dan berharap segera selesai acara malam itu.

Selepas pertemuan itu, Kinasih ingin membiarkan tubuhnya jatuh … jatuh kemana pun, sedalam mungkin dan tak pernah muncul lagi di permukaan.

Ia tidak menyangka bahwa kekasih Ksatria selama ini adalah dokter Mustika. Dokter Mustika adalah orang yang selama ini tinggal dan sekaligus merawat ibunya di kampung, di sebuah desa di Bantul. Kinasih tahu bahwa dokter Mustika berasal dari Jakarta yang sedang ditugaskan menjadi dokter pembantu di kampungnya. Dokter Mustika juga pernah cerita kalau dia punya kekasih di Jakarta. Dia dijodohkan oleh orang tuanya dengan anak sahabat ayahnya. Tapi Kinasih tidak pernah menyangka bahwa laki-laki yang dimaksud itu adalah Ksatria. Kinasih juga tidak tertarik untuk masuk dalam kehidupan pribadi dokter muda itu.

Selama tingga di rumahnya, dokter Mustika banyak membantu ibu Kinasih, terutama dalam hal kesehatan. Ibu Kinasih sering sakit, bahkan pernah terkena TBC. Dokter Mustika merawa ibu Kinasih dengan telaten. Tidak pernah mau dibayar bahkan memberikan obat dan vitamin secara gratis. Meskipun di rumah ada adik Kinasih, namun adik perempuannya itu belum cukup bisa diandalkan. Dokter Mustikalah yang paling banyak membantu bahkan juga mau melakukan pekerjaan rumah seperti membersihkan rumah dan memasak.

Kinasih sendiri jarang bisa lama di rumah. Pekerjaannya terlalu banyak menuntut waktunya. Tidak jarang di hari minggu atau hari libur pun Kinasih harus tetap bekerja. Dokter Mustikalah yang seakan menggantikan posisi Kinasih sebagai anak pertama. Dua tahun, dokter Mustika tinggal di rumahnya dan Kinasih sama sekali tidak tahu betapa dekatnya pertautan kisah mereka berdua. Kinasih juga tidak pernah cerita tentang Ksatria. Jangankan pada dokter Mustika, bahkan tidak pada ibu atau adiknya. Ia hanya pernah cerita bahwa di Jakarta memiliki sahabat-sahabat dekat yang sudah seperti saudara.

Hingga malam itu, ia melihat gambaran dari keseluruhan kisah. Pertalian nasib, pertemuan yang tak terduga, kisah-kisah yang saling terhubung.

“Apakah untuk ini aku kembali ke Jakarta? Untuk melihat semua ini?” Lagi-lagi Kinasih bertanya pada dirinya sendiri.

Sesampainya di rumah, Kinasih segera membersihkan diri dan mengambil wudlu. Malam itu ingin dia habiskan berlama-lama dalam sujud.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: