Kasih Putih (2)

Part 2 Takdir Membawa Kenangan Kembali

Tiga tahun berlalu, malam itu, Kinasih dan Ksatria sedang berjalan bersama lagi. Melewati jalanan yang basah sehabis hujan malam itu dengan berjalan kaki, memberi nuansa tersendiri bagi Kinasih. sudah lama Kinasih tidak pernah berjalan beriringan dengan Ksatria seperti itu. Terakhir kali adalah saat mereka masih kuliah dulu.

Kinasih tidak menyangka bisa menjalin persahabatan dengan orang yang sering menyebalkan baginya tapi juga orang yang sangat spesial di hatinya. Orang yang paling sering bikin jengkel tapi malah paling selalu ada, begitu pikir Kinasih. Ksatria memang tidak pernah berubah sejak SMA, selain rambutnya yang makin terlihat kribo karena dibiarkan lebih panjang. Ksatria adalah sosok yang sok jaim dengan tatapan mata yang tajam dan senyum yang sangat irit. Meski kalau sedang tertawa juga bisa membuka mulutnya sangat lebar.

Sekilas, Kinasih dan Ksatria seperti dua orang yang sering berdebat dan saling berolok. Kalau tidak ada yang melerai, mereka bisa beradu argumen seharian. Tapi justru itulah mereka tampak begitu mesra. Dan ternyata persahabatan mereka justru awet. Mereka sama-sama tahu kalau kata-kata dan nada yang tinggi atau terkesan merendahkan itu tidaklah seperti itu kenyataannya. Mereka saling respect dan selalu ada satu dengan yang lain.

Mereka berdua seperti dari dua kutub yang berbeda. Kinasih adalah orang yang sangat spontan, suka berimajinasi, supel, dan altruis. Sedangkan Ksatria orang yang sangat konstruktif, logis, cukup jaim, dan lebih sering egois. Tetapi kinasih sangat paham, di balik sifat Ksatria yang cuek, dia sebenarnya sangat peduli dan lembut.

“Sudah lama banget kamu nggak pernah ke rumah, ditanyain sama Ibu tuh,” kata Ksatria memecah keheningan.

“Oh ya, kan aku juga baru datang ke Jakarta lagi. Belum sempat keliling, nanti deh aku main … kapan ya, salam sama tante ya. Nanti kalo aku ke rumah, masakin opor ayam lho, sama mie ayam, sop iga, sate kambing juga. Dibuat menu harian buat sebulan full deh, ntar aku kesana tiap hari, haha.” Kinasih bicara tanpa jeda sambil menggerakkan jari-jarinya dan matanya yang kadang ke kanan, kadang ke kiri seperti serius mengingat sesuatu.

“Bisa … bisa, nanti sekalian setelah makan, cuci piring, nyapu , ngepel, bersihin rumah, cuciin semua pakaian.” Ksatria tidak mau kalah meski dengan nada yang lebih kalem.

“Yah, jabatanku nggak naik-naik dong, Pak. Aku bakal jadi asisten rumah tangga sepanjang zaman?” Kinasih protes.

“Yap, bukankah itu sangat terhormat, Madam?”

“Siap, Komandan!” Kinasih berlagak seperti prajurit yang menerima perintah komandannya.

Mereka lalu saling menatap, menggangguk dan kemudian tertawa bersama. Seolah sama-sama menyadari bahwa mereka berdua adalah makhluk sinting.

Sudah lama ksatria tidak tertawa seperti itu dengan Kinasih. Kinasih buat Ksatria adalah anak yang konsisten aneh, ia sering merespon sesuatu dengan tidak umum dan kadang mengagetkan tapi juga lucu meski kadang menjengkelkan karena juga tidak mau kalah. Entah kenapa semenjak lulus kuliah, Kinasih menjadi orang yang lebih serius dan terkadang berhati-hati dalam bicara. Terlebih selama Kinasih pindah dari Jakarta, hubungan mereka tidak selepas sebelumny. Malam itu, seolah Ksatria bertemu dengan Kinasih yang lama tak pernah dijumpainya.

“Baiklah, ini saatnya aku pulang ke markasku dan kamu pulang ke rumahmu yang membosankan itu,” kata Kinasih setibanya di depan stasiun Manggarai. Setelah mengucapkan itu, ia langsung berjalan masuk.

“Oke, sampai ketemu lagi. Hati-hati ya!”

Kinasih tidak menjawab lagi meskipun mendengar apa yang dikatakan Ksatria. Nggak usah seromantis itu dong Ksatria, begitu katanya dalam hati.

Sudah lewat pukul sembilan malam. Kinasih berjalan menuju kekereta  dengan bergegas, berharap tidak sampai terlalu malam tiba di kosan. Dalam perjalanan, Kinasih duduk di bangku paling pojok. Malam itu kereta ke arah Bekasi sudah cukup lengang, ia bisa duduk nyaman di kereta. Bayangan Ksatria mulai datang di pikirannya. Dia bertemu lagi dengan manusia satu itu setelah selama tiga tahun hanya jadi bayang-bayang.

“Ah, kenapa tidak seperti di novel atau film pertemuan dua orang setelah berpisah selama 10 atau 14 tahun. Kenapa baru 3 tahun 5 hari aku sudah ketemu lagi sama anak itu lagi!” gerutu Kinasih tapi bibirnya tersenyum tipis.

Sebenarnya Kinasih tak berharap kembali ke Jakarta lagi. Tiga tahun lalu ia dipindah tugaskan di Surabaya. Setelah satu tahun, ia pindah tugas lagi ke Jogja. Kinasihpikir itu adalah kota labuhannya yang terakhir, mengingat ibu dan keluarganya tinggal di Bantul. Tapi peristiwa dua bulan lalu membuat Kinasih tidak bisa tinggal di kota sekecil Jogja. Entah kenapa ia justru berlayar menuju ke Jakarta lagi, kota yang sangat tidak ingin Kinasih pijak lagi.

“Gue kan udah bilang, lu kagak bakal bisa lepas dari jeratan kota ini. Sejauh-jauhnya lu ingin kabur dari kota ini, lu bakal balik lagi!” ledek Haris, salah satu sahabatnya sejak masa kuliah.

“Lu nyumpahin gue ya?!” Kinasih tak terima.

“Hahaha … Lo kagak usah disumpahi juga udah sial,” Haris makin terkekeh melihat Kinasih yang cemberut. “Bukan gitu, Neng. Lu kan udah sejak SMP, SMA, kuliah, kerja di Jakarta. Tiga tahun lalu, lu juga waktu pindah ke Surabaya belum sepenuh hati. Nah, setelah tiga tahun dan ternyata lu balik kesini lagi, berarti ada skenario lain dari Allah. Nggak mungkin kan semua terjadi secara kebetulan. Lu cari tuh, ambil hikmahnya, nape lu balik di mari!”

Meski sampai dua bulan di Jakarta, ternyata Kinasih masih belum paham tentang skenario apa yang sedang Allah jalankan untuknya, Kinasih terus mencoba untuk bisa menerima keadaannya sekarang. Meski belum nyaman dengan kondisinya sekarang, tapi ini adalah kondisi terbaik baginya. Ia tidak mungkin kembali ke Jogja setelah ia dikhianati oleh teman dekatnya sendiri di kantor.

Kinasih difitnah telah memanipulasi budget salah satu project penting kantornya. Laporan yang dia buat diganti oleh laporan lain tanpa sepengetahuannya. Setelah ia ingat-ingat, berkas laporan itu sempat Kinasih titipkan ke Cahya, rekan kerja sekaligus sahabatnya. Setelah mengambilnya, Kinasih tidak memeriksa ulang dan langsung melaporkan ke atasannya.

Seminggu setelahnya, Kinasih mendapat panggilan investigasi karena ada pengeluaran yang tidak logis. Kejadiannya begitu cepat dan Kinasih tidak cukup mampu membela diri. Cahya yang manis di depan ternyata justru memojokkannya di belakang. Ia memberikan keterangan tidak benar ke tim investigasi dan mempengaruhi anggota tim project lain untuk menjelekkan Kinasih. Tanpa menunggu surat pemecatan, Kinasih mengundurkan diri. Lebih cepat diakhiri akan lebih baik bagi Kinasih.

Nama baiknya seketika jatuh, tidak hanya di kantornya yang hanya kantor cabang. Tapi sampai ke kantor pusa.  Bukan hanya soal kehilangan karir dan pekerjaan yang sangat dicintainya, tapi juga kekecewaan karena dikhianati dan diperlakukan tidak adil oleh kantor dan teman-temannya. Kinasih akhirnya memutuskan untuk segera pergi dari Jogja. Dan satu-satunya tempat yang paling masuk akal buatnya adalah jakarta.

BeepBeep. Suara notifikasi chat dan getaran hp membuyarkan lamunan Kinasih.

Udah sampe mana? Jangan kebanyakan ngelamun, apalagi inget masa lalu yang gak penting.

Kinasih segera membalas chat itu, Dasar cenayang gadungan!hehe, masih di kereta. Lagi delay.

Hahaha, baru denger ada kereta delay. Yaudah, nanti kalau udah sampe langsung tidur, jangan ngelamun. Lebih baik buat zikir, betul?

Hehehe, siap komandan. Makasih ya, gud night … Berpikir sejenak, Kinasih menghapus kata-kata yang baru diketiknya dan mengganti dengan, betul betul betul. 

Apakah ini skenario yang disiapkan Allah untukku di kota ini, bertemu denganmu … malaikat pengambil bola?

 

#onedayonepost #ODOPbatch5 #tantangancerbung

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: