Kasih Putih (12)

Part 12: Cinta yang Memberi Bahagia

Kinasih mengenang segala peristiwa yang pernah ia lewati. Sejak perkenalannya dengan Ksatria dahulu. Hari-hari yang telah dilewati bersama dengan Ksatria. Buatnya, masa-masa itu adalah masa yang paling indah.

Dia juga mengingat segala harap cemasnya, sedih dan takutnya ia kehilangan Ksatria. Mencintai satu orang selama bertahun-tahun tanpa bisa mengungapkan bahkan sebisa mungkin menutupinya. Meski Kinasih ingin bersama Ksatria, tapi ia selalu menyembunyikan perasaannya. Ia terlalu takut, jika suatu ketika Ksatria tahu dan ternyata Ksatria tidak suka, hancurlah persahabatn mereka.

Kinasih tak pernah siap kehilangan Ksatria. Lebih baik dia menjaga dan menutup perasaanya rapat-rapat, tapi masih bisa membuat Ksatria nyaman dengan persahabatan mereka.

Lalu sampai pertemuannya dengan Ksatria beberapa waktu lalu. Ksatria yang selama bertahun-tahun dinantikannya, peristiwa yang hanyabdalam angan-angannya, terwujud nyata. Sesuatu yang hanya dibayangkannya selama bertahun-tahun sungguh hadir dalam hidupnya. Meski dalam waktu yang tidak tepat.

“Sat, sejak SMA kita selalu bersama. Kita saling ada untuk satu sama lain, meski tidak pernah saling meminta. Kita saling cinta, meski tidak pernah saling mengucap. Tapi hati kita sudah sama-sama tahu dan terikat.”

Kinasih menarik nafas perlahan.

“Kita sampai kapan pun akan selalu bersama…. ”

Hening.

“Tapi tidak hidup bersama. Aku tetap sahabatmu seperti dulu. Semoga pernikahanmu berjalan lancar. Kamu tidak bisa memilih untuk jatuh cinta pada siapa pun. Tapi kamu bisa memilih untuk membangun cinta pada orang yang sudah ada di sampingmu. Salam buat kak Mustika. Assalamu’alaikum.”

Tanpa menunggu sepatah kata pun dari Ksatria, Kinasih menutup telponnya.

Tidak semua cinta harus bersatu. Cinta saja tidak cukup untuk menyatukan dua orang. Cinta yang baik adalah cinta yang berdiri di atas etika. Etika itu berada dalam dimensi persahabatan dan kemanusiaan. Kita tidak harus egois untuk memiliki cinta.

Cinta itu bukan Cuma perasaan dua orang manusia berbeda jenis yang berharap untuk bersatu dalam ikatan pernikahan. Cinta itu adalah perasaan universal dari proses memberi, bukan memiliki. Ia tidak hanya berada dalam ruang sepasang kekasih, tetapi persaudaraan dan persahabatan. Tidak ada yang lebih indah, keduanya sama indahnya.

Bagi Kinasih, cinta itu bukan meminta kebahagiaan, tapi memberi bahagia. Ia tidak ingin mengambil kebahagiaan, tapi justru memberi kebahagiaan. Ia pun berharap Ksatria juga melakukan hal yang sama. Kinasih beserta orang tuanya, dan kedua orang tua Ksatria layak mendapatkan cinta itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: