Kasih Putih (11)

Part 11: Dilema Besar

Kinasih hanya menangis di sudut kamarnya. “Kenapa sekarang? Kenapa baru sekarang?” Berulang kali Kinasih menanyakan itu pada dirinya sendiri.

Ada rasa bahagia ketika Ksatria bilang bahwa Ia mencintai Kinasih. Tetapi rasa itu sekarang justru tidak ada artinya, bahkan malah menyakitkan. Apa gunanya cinta itu terucap jika pada akhirnya tidak ada yang bisa dilakukan. Terbayang wajah Mustika dan bagaimana pengorbanannya selama ini untuk Ksatria. Betapa Kinasih tahu besarnya cinta Mustika pada Ksatria. Lalu betapa jahatnya Kinasih jika kemudian mematikan cahaya kebahagiaan itu. Tapi apakah Kinasih yang harus selalu terus berkorban? Apakah tidak bisa posisinya dibalik, menjadi orang lain yang berkorban untuknya? Tidak layakkah dia menerima pengorbanan?

Dulu Kinasih sangat berharap ada keajaiban terjadi. Ksatria datang dan menyatakan cintanya, lalu mereka bisa hidup bersama sebagai pasangan hidup. Tapi itu pikirannya beberapa bulan lalu. Setalah Kinasih tahu bahwa Ksatria akan menikah dengan Mustika, saat persiapan pernikahan itu sudah direncakan, keinginan itu sudah Kinasih bunuh.

Kinasih sekarang berpikir, harusnya Ksatria tidak perlu menyampaikan perasaannya, itu akan lebih baik untuk Kinasih saat ini. Paling tidak, Kinasih tahu bahwa hanya ada satu jalan untuknya, berhenti mencintai Ksatria.

Masih terbayang-bayang oleh Kinasih percakapannya dengan Ksatria tadi sore.

“Kenapa kamu hanya diam, Na? Bukankah kamu juga mencintaiku selama ini?”

“Kita bukan seperti satu atau dua tahun yang lalu, Sat. Kamu akan menikah Ksatria. It’s too late”

“Aku akan menikah, bukan sudah menikah, Na”

“Gila, kamu gila, Sat!”

“Aku gila sejak kamu pergi gitu aja! Aku gila nyari-nyari kamu selama tiga bulan!”

“Kamu mau aku jadi wanita jahat yang merusak hubungan dua orang yang mau nikah? Aku nggak mau jadi penghianat, Sat!” Air mata Kinasih tumpah lagi.

“Ini bukan penghianatan, kamu sudah berkorban cukup banyak juga, Na? Mustika bahkan sudah menyadari sejak lama kalau kamu cinta sama aku lebih dari sekedar sahabat. Dia sudah tahu, tapi dia juga diam. Dia….”

“Jadi dokter Mustika sudah tahu? Oh, Ksatria, kenapa semua jadi begini?! Kamu bukan Ksatria yang aku kenal!”

Kinasih lalu meninggalkan begitu saja Ksatria. Meski mendengar Ksatria memanggilnya, ia tidak menghiraukannya. Ia segera menyetop angkot, menaikinya dan hilang dari pandangan Ksatria.

…….

Berhari-hari Kinasih hanya mengurung diri di kamar kosnya. Ia ijin cuti ke Talita selama satu minggu. Talita pun sangat paham dengan kondisi Kinasih dan memberinya waktu untuk menenangkan diri. Talita hanya berpesan ke Kinasih untuk memutuskan dengan jernih, “Kemaren aku sempat liat Dewa pas kamu dan Ksatria lagi ngobrol. Kayaknya kamu juga perlu ngobrol ma Dewa juga biar dia nggak salah faham.”

Mengingat Dewa, Kinasih makin bimbang. Apakah lebih baik ia putuskan saja bersama Dewa? Apakah Dewa adalah takdir pasangan hidupnya? Lalu bagaimana dengan ksatria? Bukankah Ksatria yang ia harapkan sejak dulu?

“Assalamu’alaikum, Kang.” Kinasih mengirim pesan ke Dewa.

“Wa’alaikumsalam.” Kinasih mendapat balasan singkat dari Dewa. Jawaban yang tidak biasa dari Dewa, biasanya Dewa tidak hanya membalas salam, tapi menanyakan kabar Kinasih bahkan kadang mengawali dengan cerita kegiatan kafe atau taman baca.

Sampai beberapa menit, tidak ada yang mengetik. Kinasih pun bingung mau mulai daripada. Dia juga tidak mungkin menanyakan tentang perasaan Dewa atau kelanjutan hubungan mereka. Selama ini Dewa sangat perhatian dan begitu baik dengan Kinasih, tapi Dewa juga tidak pernah menyatakan apa pun pada Kinasih. Tidak mungkin tiba-tiba Kinasih memulai dulu.

Akhirnya Kinasih mulai mengetik, “Kang, punten. Saya ijin nggak bisa ke kafe baca dulu untuk beberapa hari. Nanti saya kabari lagi kalau mulai bisa ke sana lagi.”

“Iya,nggak apa2.” Dewa membalas chat dengan singkat.

Kinasih semakin merasa tidak nyaman dengan jawaban singkat dari Dewa.

Tidak lama kemudian, Dewa menelpon. “Assalamu’alaikum, kalau kamu mau menyelesaikan masalah kamu dengan Ksatria nggak apa-apa. Aku rasa kita juga perlu ambil jarak dulu. Aku ada urusan ke Surabaya, mungkin agak lama. Semua urusan kafe dan taman baca sudah aku delegasikan. Mungkin kita butuh ruang dan waktu masing-masing untuk berpikir.”

Suasana menjadi hening. Kinasih paham dengan maksud Dewa. Mungkin ini jawabannya, pikir Kinasih. Kinasih mulai yakin dengan keputusan yang akan dia ambil.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: