Kasih Putih (10)

Part 10: Ungkapan Hati

“Minggu ikut pengajian yuk, kamu kan udah lama nggak ikut pengajian,” Dewa memulai pembicaraan setelah semua anak-anak pengunjung taman baca pulang.

“Boleh, temanya apa?”

“Nih, ada teasernya. Aku kirim ke kamu ya. Coba cek Wa,” Kata Dewa sambil menekan gawainya.

Kinasih lalu membuka notif Wa-nya, “Jangan Jatuh Cinta, tetapi Bangun Cinta.”

Kinasih ingin bilang sesuatu, tetapi Dewa sudah lebih dulu bicara, “Coba ikut aja, nggak ada salahnya kan? Bangun cinta itu banyak. Nggak Cuma untuk pasangan, tetapi karir, pekerjaan, persahabatan.”

Mendengar itu, Kinasih tidak bisa menyanggah apa pun. Kinasih pun mengangguk. Tiga bulan di Bandung membuatnya semakin dekat dengan Dewa. Hampir tiap hari mereka bertemu di kafe baca. Mereka berdua menjadi penggerak utama kafe baca. Semenjak ada taman bacanya, kafe Dewa juga semakin ramai. Sudah banyak komunitas yang gathering di sana dan tidak sedikit yang mengadakan kegiatan dengan anak-anak taman baca. Ada yang mengajar, mendongeng, bahkan pernah pula ada yang mengadakan semacam charity.

Meskipun terletak di pinggi jalan raya, tetapi tidak jauh dari area itu terdapat perkampungan padat penduduk. Perkampungannya cukup kumuh dan banyak anak-anak yang putus sekolah. Merekalah yang menjadi sasaran kegiatan kafe baca.

Tiga bulan di Bandung seakan mengalihkan dunia Kinasih. Dari pagi hingga sore, ia bekerja sebagai kepala marketing di bisnis Fashion hijab Talita. Selain berkutat dengan digital marketing, Kinasih juga sering ikut membantu event-event Talita. Beberapa kali, Talita ikuta dalam peragaan busana dan juga pameran fashion. Saat ini Talita sudah dikenal sebagai designer muda, produknya sudah masuk di departemen store besar di berbagai kota besar di Indonesia.

“Kang, saya kayaknya nggak bisa ke kafe sore ini. Karyawan yang jaga pameran ijin pulang ada urusan mendadak, saya yang gantiin. Afwan ya, Kang.”

Harusnya sore itu seperti biasanya, Kinasih datang ke kafe baca. Tapi kalau ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal, Kinasih dengan berat hati tidak bisa datang ke kafe.

“Iya, gpp. Ada relawan yang bisa jaga kok. Aku juga lagi di jalan nih, udah deket ke lokasi pameran kamu. Kita ketemua di sana nanti ya. Ada tawaran dari komunitas untuk kegiatan taman baca, aku butuh diskusi sama kamu.”

“Oke, Kang. Assalamu’alaikum.”

Meski hubungannya dengan Dewa sangat dekat, tapi kadang Kinasih masih merasa canggung dengan Dewa. Tidak seperti dulu yang bicaranya suka aneh dan menggunakan bahasa imajinasi, Kinasih sekarang lebih ‘normal’. Dewa seperti laki-laki sunda kebanyakan, tutur katanya lembut dengan sikap yang sangat ramah. Meski kadang suka bercerita hal-hal lucu, tapi tidak pernah sampai membuat Kinasih tertawa terpingkal-pingkal. Tertawanya wajar dan nampak lebih kalem. Kinasih juga tidak tahu apa yang dia harapkan dalam hubungannya dengan Dewa. Dia hanya menjalani semuanya, tanpa berharap. Dia tidak pernah menolak Dewa tapi juga belum sepenuhnya mengiyakan.

“Jadi ini kerjaan kamu sekarang? Sudah jadi hijaber sekarang.”

Kinasih dikagetkan dengan suara laki-laki di belakangnya. Ia pun berbalik.

“Aku kira kamu adalah orang yang bernar-benar punya komitmen dan bercita-cita sosial yang tinggi, ternyata kamu malah sibuk merubah penampilan dan ikut trend kebanyakan orang menjual life style!”

Kinasih tidak percaya dengan sosok yang berdiri di depannya. Kalau saja tidak mendengar kata-kata barusan, mungkin dia segera saja loncar dan berteriak bahagia bertemu dengan Ksatria. Meski dia pergi dengan luka, tapi sebenarnya ia sangat rindu, sangat sangat merindukan Ksatria. Tapi kata-kata barusan, justru mengiris kembali luka lama Kinasih.

“Siapa kamu Ksatria? Seseorang yang tiba-tiba datang tanpa salam dan hanya bisa memaki. Tahu apa kamu tentang apa yang sudah aku lakukan!” Kinasih membalas ketus. Ia sekuat tenaga menahan air mata yang hendak tumpah dari matanya.

“Apa yang aku lihat sekarang sudah cukup menunjukkan apa yang sedang kamu lakukan.”

“Kamu ke sini cuma untuk menghakimi aku? udah puas? Kalau udah selesai, silakan pergi dari sini, Tuan. Manusia baik dan suci seperti anda tidak layak berbicara dengan saya yang…. “ Belum selesai Kinasih bicara, ia melihat Talita datang ke arahnya.

“Lita, kamu udah selesai? Aku nggak bisa jaga sampe selesai. Kamu yang lanjutin ya. Sorry, sorry banget. Hanya kali ini. Assalamu’alaikum.”

Tanpa menunggu persetujuan dari Talita, Kinasih segera berlari pergi. Saat itu pula, air matanya tumpah tak terbendung.

Ksatria segera mengejar Kinasih, tanpa pamit ke Talita. Ia tidak ingin secepat itu kehilangan Kinasih lagi.

“Na! Na! tunggu!”

Akhirnya Ksatria bisa juga mengejar Kinasih. Ia lalu menghadang Kinasih dari langkahnya.

“Sorry.”

“Ada yang mau aku bicarakan sama kamu. Please, jangan pergi dulu. Tiga bulan aku cari kamu, Na!”
Kinasih masih diam dan tidak mau menatap Ksatria.

“Aku minta maaf, aku salah. Kata-kataku kelewat batas, nggak semestinya aku ngomong begitu.”

Kinasih masih diam dengan air mata yang masih berjatuhan.

“Naaa, please.” Ksatria semakin memohon.

“Oke. Tapi cuma sebentar. Kita bicara di sana saja,” Kata Kinasih datar sambil menunjuk tempat duduk di area taman.

“Na, aku sadar aku sudah kelewat batas. Aku udah bikin kamu kesel, nyusahin kamu dan ngebiarin kamu nyelesaiin semua masalah sendiri. Aku minta maaf, soal rumah baca, soal kata-kataku yang kasar, soal aku yang….”

“Semua sudah berlalu, Sat. Aku sudah melupakan semua. Toh, semua juga udah selesai.” Kinasih sudah mulai bisa mengontrol dirinya. Meski masih terasa sesak dadanya, tapi ia berusaha menahan diri agar air matanya berhenti menetes.

“Tapi ada yang belum selesai, Na”

“Soal apa?” Kinasih menoleh ke Ksatria.

“Kita.”

“Maksudnya?” Kinasih tidak mengerti dengan arah pembicaraan Ksatria.

Ksatria yang tadi hanya menolehkan kepalanya, sekarang mengarahkan badannya ke samping kanan, “Na, sebenarnya aku tahu, sudah sejak lama kamu … kamu punya perasaan lain sama ku. Aku yakin, kamu tidak sekedar menganggapku sebagai sahabat.”

Deg. Jantung Kinasih seakan berhenti satu detik dan kemudian berdetak lebih cepat. “Apa pentingnya bahas itu sekarang.” Kinasih berusaha tetap tenang.

“Setelah kamu pergi … aku sadar … ehm, kamu … kamu orang yang selama ini selalu ada dan paling kubutuhkan. Kamu bahkan sudah berjasa banyak atas hidupku.”

“Hahaha … gurumu lebih berjasa daripada makhluk alien kayak aku.” Kinasih mencoba memecah kecanggungannya.

“Kamu sudah berkorban banyak buatku, Na”

Kinasih menatap Ksatria, “Aku nggak pernah berkorban. Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan.” Kali ini Kinasih mulai bicara lebih halus, sambil mengatur nafasnya.

“Aku melakukan semua itu bukan buat kamu, Sat. Jangan ge-er, itu buat aku sendiri juga.”

“Na… “ Ksatria semakin tajam menatap Kinasih. Kinasih makin grogi dengan tatapan Ksatria kali ini. “Aku mau kamu menikah sama aku”

“Hah! Kamu mau poligami!” Spontan Kinasih merespon dengan suara agak kencang.

“Bukan, bukan begitu. Aku lebih memilih kamu, Na!”

“Hah, maksudnya? Kamu kira aku barang yang bisa kamu pilih gitu?” Kinasih makin tak mengerti dengan apa yang disampaikan Ksatria.

“Na, dengar dulu … Aku sudah lama cinta sama kamu, sejak kelas dua SMA. Sejak pertama kali aku melihatmu main volly di lapangan. Aku bahkan ingin melamarmu setelah sidang skripsi. Tapi ternyata, orang tuaku sudah menjodohkanku.”

Ksatria, kamu ngomong apa sih! Kinasih berkata dalam hati. Ia tidak paham dengan apa yang sedang terjadi. Ia bahkan berpikir mungkin ini hanya mimpi. Ayo bangun Kinasih! Bangun dari tidur sekarang!

Tanpa kinasih dan Ksatria sadari, ada seseorang yang sejak tadi mengamati apa yang terjadi antara mereka. Dewa, tidak begitu jelas mendengar percakapan antara Kinasih dan Ksatria, tetapi apa yang dilihatnya cukup membuatnya mengerti apa yang terjadi diantara keduanya. Ia jadi tahu kenapa selama ini seperti ada jarak antara dia dan Kinasih. Kenapa Kinasih tidak pernah bisa lepas saat berinteraksi dengan Dewa. Meski tidak pernah menanyakannya, tapi Dewa tahu Kinasih tidak pernah punya rasa lebih padanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: