Pertemuan Sula Suli

Setiap hari manusia saling dipertemukan. Banyak pertemuan yang hanya sekedar lewat bahkan tanpa saling memandang. Tapi, terkadang pertemuan itu bak magic. Seseorang bisa tiba-tiba klik dengan orang yang baru ditemui. Ada juga yang seolah pernah bertemu di kehidupan lalu, Ah agaknya lebay. Tapi kenyataannya perasaan seperti itu ada. Seperti pertemuan dua manusia dalam kisah ini.

Diawali dengan tiga huruf yang sama S-U-L dan diakhiri dengan huruf –I, Sulastri dan Suliyati. Orang tua kedua anak ini sepertinya juga memiliki kesamaan dalam konsep nama,  sama-sama memiliki ide kesederhanaan dalam pemberian nama. Cukup singkat, padat dan nyaman didengar.

Bisa ditebak pula bahwa orang tua kedua anak ini pasti Jawa tulen. Ada karakter yang sangat melekat pada nama-nama orang jawa, yaitu Su-, -No, dan -Em. Seiring perkembangan zaman, nama dengan akhiran -Em mulai ditinggalkan. Kalau pun digunakan hanya di daerah-daerah pelosok. Hari ini, sangat jarang dijumpai ada nama Paijem, Wartinem dan –Em yang lain pada anak-anak Jawa milenial. Namun, nama dengan awalan Su dan Akhiran No masih cukup laris meski tidak sefantastis era di bawah tahun 90-an. Di zaman globalisasi ini, sudah banyak orang desa di Jawa menamai anak-anak mereka dengan nama arab bahkan kebarat-baratan, misalnya saja Tony, Agustin atau Emilia bahkan Robert. Meski mereka tidak tahu apa arti nama tersebut.

Ini bukan kali pertama Sulastri bertemu dengan orang yang namanya sama atau mirip, seperti Suliyanti, Sukarseh, Sukarni, Suciati dan Su- yang lain (jangan pernah berpikir untuk menambahkan hurufA di depannya!). Di kampusnya, juga ada kakak kelasnya yang justru namanya persis sama, Sulastri. Tetapi mereka tidak pernah berkenalan secara langsung. Hanya pernah tau satu sama lain, tentu tanpa kesan.

“Sul, Sul!” teriak Sulastri. Seorang anak gadis nyengir ketika namanya dipanggil. Ia tahu kalau dia tidak benar-benar sedang dipanggil, sebenarnya orang itu cuma suka memanggil namanya sendiri.

“Suka banget sih, manggil namanya sendiri,” balas Suliyati.

“Iya, dong! Ha … Ha… Ha….” celetuk Sulastri sambil tertawa geli.

Begitulah kalau dua orang itu bertemu. Mereka memang tidak kerja di bidang yang sama, jadi jarang diskusi atau terlibat kerja bareng. Bertemu hanya sesekali waktu, terutama saat absen finger print di kantor. Sulastri lebih senior di kantor, tetapi Suliyati agaknya lebih jenius untuk urusan dunia alien. Kenapa begitu? Cuma pakar dunia alien yang selalu bisa bikin orang tertawa sampe guling-guling dan sepertinya itu cuma Suliyati. Kalau ada penobatan Miss World Alien, Suliyati pasti jadi pemenangnya.

Baru satu kata celetukan saja, sudah bisa membuat orang tertawa. Kalau diajak ngomong tiba-tiba bisa pindah topik. Saat yang lain serius menganalisa suatu berita, bisa-bisanya Suliyati membicarakan tentang kejadian bertahun-tahun yang lalu tentang masa kecilnya. Bukan karena nyambung dengan topik diskusi, tapi benar-benar dia ingin cerita tentang masa kecilnya. Hehehe.

Paska lebaran kala itu, 1434H Sulastri sudah bertekad untuk memisahkan diri dari kehidupan asrama para bujang yang disediakan kantor sebagai fasilitas. Bukan karena dia bakal melepas masa lajangnya, dia masih On Top Jomblowati. Bukan juga karena sudah lebih kaya dari sebelumnya, sehingga bisa sewa apartemen. Masalah utama adalah suasana gaduh yang bikin dia tidak bisa. Tidur adalah kegiatan eksklusif, mewah dan privat bagi anggota alien. Kalau sedang hibernasi, sehari bisa tidur sampai 18 jam bahkan 20 jam. Selain itu, dia sudah menghabiskan waktu sejak SMA tinggal di asrama. Kali ini, kejenuhannya memantabkan hatinya untuk merelakan tiga ratus ribu rupiah diberikan pada ibu kos.

Hal serupa nampaknya dialami juga oleh Suliyati. Dia juga tinggal di asrama yang justru tingkat kegaduhannya mencapai “excellent level”. Bisa dibilang, dia justru punya istana tempat berkumpulnya para alien galaksi lain. Entah karena tidak bisa mencapai kesepakatan dengan para alien itu atau karena merasa tersaingi dalam hal “kealienan”, Suliyati juga memantabkan hati untuk segera mengurus kepergiannya dari istana itu.

Istana alien itu adalah rumah singgah adik-adik yang dibina oleh salah satu lembaga sosial di kota Surabaya. Sedikit banyak Suliyati juga berkecimpung di sana. Bertemu dengan anak-anak kecil yang lugu tentu memberikan rasa tersendiri, tapi kali ini Suliyati juga perlu sedikit ruang untuk dirinya sendiri. Kalau sedang ganas, alien-alien kecil itu bisa berlari, melompat, berguling sambil teriak-teriak dengan bahasa yang sangat asing. “Waa lala boaaa boaa, halo halo brader brader, hahaha!!”

Akhirnya, kos menjadi salah satu pilihannya. Meski pada akhirnya konsekwensi yang sama harus ia terima, hidup hemat cermat demi bayar kos.

Hari demi hari berlalu, media sudah seperti bak sampah yang setiap hari berisi informasi-informasi, beberapa diantaranya penting, sebagian besar hanya menumpuk di tempat pembuangan. Dan semua itu tidak ada hubungannya dengan Sulastri dan Suliyati. Tak ada isu, tak ada media, mereka akhirnya tahu bahwa mereka sama-sama ingin ngekos.

Sudah dua minggu Sulastri mencari kos di sekitar lokasi tempat kerjanya, tapi semua mahal-mahal, setidaknya menurut standarnya. Ia Cuma punya budget tiga ratus ribu, tidak lebih tapi boleh kurang. Dia bisa saja mendapatkan harga senilai itu atau bahkan lebih murah jika dia ngekos sekamar berdua. Dari situlah dia mulai mengincar Suliyati untuk mau menjadi teman sekamarnya menanggung beban biaya kos berdua.

“Ayo Sul, kita ngekos berdua! Ntar aku carikan kos yang cocok buat kita,” ajak Sulastri.

“Wahh, Ayo-ayo!” jawab Suliyati antusias.

Tanpa banyak bicara, mereka berdua sudah sehati. Bulan berikutnya menjadi waktu yang sudah disepakati untuk menempati kerajaan baru. Saat kesepakatan itu, mungkin itulah saat radar mereka berdua mulai menyala.

Untuk urusan cari kos, janjian sama ibu kos, pembayaran dan persiapan kamar, semua sudah diurus oleh Sulastri. Sebagai pencetus ide, sudah menjadi tanggungjawab Sulastri untuk menyiapkan kamar kos. Setelah melewati hambatan dan rintangan, serta prosedur ini itu, finally 10/11/13 adalah tanggal di mana mereka berdua pertama kali menghuni kamar kos baru.

“Tanggal cantik, ya!” celetuk Suliyati.

“Apanya? Nggak ada dua belasnya, Sul” kata Sulastri sambil menunjuk tanggal di hpnya. Mulai deh punya pikiran sendiri, gumam Sulastri dalam hati.

“Dan, inilah kamar kita!” seru Sulastri sambil membuka pintu kamar.

“Horeee,” Suliyati tertawa sambil tepuk tangan, seperti anak umur 5 tahun yang dibelikan balon..

Setelah melepas lelah sebentar, Sulastri menyalakan laptopnya untuk mengerjakan tugas kantor yang belum selesai, begitupun juga Suliyati. Tapi namanya juga malam pertama (begitu Suliyati menyebutnya), merekapun akhirnya lebih banyak ngobrol.

Sambil otak-atik laptop, Sulastri ngobrol dengan Suliyati. Mereka membicarakan soal masa kuliah, pekerjaan, kehidupan di desa mereka, masa kecil, kucing kampung, cicak di dinding apa saja yang bisa dibicarakan.

“Lhoh, kok nama flasdiskmu SOUL? Aq juga sering pake nama itu soul-soul-soul”, kata Suliyati tiba-tiba ketika melihat tampilan disk dengan nama SOUL di komputer Sulastri.

“Yee, aku kan lahir dulu daripada kamu, jadi aku yang pake nama ini dulu,” Sulastri memberikan argumen untuk menjadi pemilik label Soul.

“Oya?? Emang kamu lahir taun berapa, Mbak?” tanya Suliyati tak mau kalah.

“delapan-delapan”, jawa Sulastri cepat

“Ya sama! Emang bulan apa? Jangan-jangan sama!”, tanya Suliyati sambil menebak

“Bulan tujuh, emang kamu bulan apa?”

“Lhoh, kok sama!kok sama!”, teriak Suliyati kaget dengan kepala geleng-geleng seperti boneka India. “Jangan-jangan, jangan-jangan … Mbak, aku merinding, aku merinding…. ” kata Suliyati sambil menunjukkan lengannya. Padahal tidak tampak tanda-tanda merinding itu.

Sulastripun juga kaget tak percaya, tapi lucu juga mengetahui kesamaan ini, dia jadi ikut tertawa.

“hayoo, kamu tanggal berapa? Jangan-jangan … di bawah tanggal dua puluh, di atas tanggal sepuluh?” Suliyati menggoda

“Lhoh, iya Sul … bener!”

“Lhoh, aduh, aku tambah merinding. Aku Jugaaa! Tanggal berapa?” Suliyati semakin penasaran

“tanggal tujuh belas, kamu?!”

“Waaa, Sama!” jawab Suliyati sambil memegang kepala dengan ekspresi tak percaya luar biasa.

“Masak sih? Coba liat ka-te-pe mu, aku gak percaya!” Sulastri dengan tanggan meminta

“Sini, aku juga liat KTP-mu!” Suliyati tak mau kalah

Akhirnya mereka berdua saling bertukar KTP dan “Waaa!”, mereka sama-sama teriak.

“Kok hampir sama? Aku tanggal tujuh belas, kamu tanggal delapan belas. Tapi masih lebih senior aku! hehe” kata Sulastri nyengir. Tunggu-tunggu, “Golongan darahmu apa?”

“Be”, jawab Suliyati cepat

“Lhoh … sama juga! Astaga!” kali ini Sulastri yang terheran-heran

“jangan-jangan kita kembar? Atau dua putri yang terpisahkan, atau … waaa!!”, Suliyati mulai mengeluarkan pemikiran aliennya.

“Hahaha…. Gila! beneran gak nyangka.”

Jadi, malam itu mereka saling cerita tentang kehidupan mereka, tentang kesenangan, kesehatan, kebiasaan dan berbagai hal yang juga mirip. Sama-sama punya masalah dengan gigi, punya masalah yang sama dengan pekerjaan, sampai apa yang mereka pikirkan tentang masa depan.

“Wah, sepertinya kita bisa bikin list persamaan dan perbedaan Sulastri dan Suliyati”

“hahaha..iya, jadi gimana kalau kita kasih judul duo Soul?”

“Atau Sula-Suli, atau Su-La-Li”

“Hahaha….” mereka tertawa bersama

Tidak disangka, berawal dari tiga huruf yang sama, ternyata mereka punya kemiripan di berbagai hal yang lain. Mereka sama-sama berpikir bahwa ini ”Aneh” tapi juga lucu.

Di masa lalu, mungkin kita pernah berpisah dari orang-orang yang kita kasihi. Perpisahan bukan suatu hal yang diinginkan, namun terkadang harus terjadi. Tapi suatu hari, entah kapan, kita berjumpa dengan orang-orang berbeda, baru dan tidak pernah ada ikatan darah. Awalnya adalah orang-orang yang asing, tetapi dipertemukan dengan berbagai sebab. Mungkin sebagai pengganti atas perpisahan yang lalu, tapi tentu lebih berarti untuk masa depan. Tidak saja karena kita punya sederetan list persamaan, tetapi pertemuan akan melahirkan harapan dan kenangan baru terbentuk. Hingga ada saatnya, orang lain pun menjadi orang yang dekat dengan kita. Mereka yang tanpa punya sejarah hubungan keluarga, menjadi saudara yang saling menguatkan.

Begitulah dan dunia terus berputar. Hari ini kita dipertemukan, esok mungkin ada saatnya kita berpisah. Tetapi semoga perpisahan itu adalah perpisahan yang indah. Bukan perpisahan yang saling menyakiti, tetapi perpisahan karena kebaikan.

Hari ini, Sula Suli itu sudah terpisah. Sudah cukup lama, tanpa salam perpisahan bahkan tak lagi bersapa sesudahnya. Bukan karena mereka saling benci tapi karena dihadapkan pada situasi lingkungan yang tak terjelaskan. Mungkin suatu hari, suatu waktu yang tak terduga lagi, akan kembali dipertemukan.

#Onedayonepost #ODOPbatch5 #Pekan6day36 #tantangan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: