Melodi Perjuangan (Tamat)

Setelah selesai membaca email dari Kania, Arya segera membuka MS Word dan mulai mengetik. Dalam waktu lima menit, surat pengunduran dirinya sudah selesai dibuat. Posisinya sebagai divisi ekonomi, sosial dan kesejahteraan adalah posisi yang sudah lama ia idamkan sejak aktif di OSIS. Sejak SMA, Arya sudah terlibat dengan banyak kegiatan sosial seperti membantu korban bencana banjir, mendongeng untuk anak-anak di perkampungan marginal, berbagi nasi bungkus dan sembako berkala, hingga sekarang menangani program pemberdayaan ekonomi kaum difabel. Apa yang lebih membahagiakan selain bisa memberikan manfaat yang besar bagi orang lain.

Bisa menduduki jabatan sebagai salah satu ketua divisi pusat butuh perjuangan panjang dan sedikit drama. Ia memulai karirnya dulu sebagai karyawan serba guna. Apa pun dikerjakan, mulai dari mengetik, bersih-bersih, angkat-angkat barang. Lalu sedikit demi sedikit diberi kepercayaan untuk membuat rancangan program hingga jadi ketua project. Tapi ia sempat mewacanakan resign saat dipindahtugaskan ke divisi lain. Kegigihannya pun membuahkan hasil, 6 bulan lalu ia diangkat menjadi ketua divisi di bidang yang sejak lama ia harapkan.Tapi hari ini, ia harus merelakan, apa yang diperjuangkannya selama ini harus ditinggalkan. Belum lama digenggamnya karir itu, sudah harus terlepas.

Mungkin selama ini bukan benar-benar perjuangan yang jadi orientasi gue. Selama ini gue cuma fokus ngejar karir. Sekarang gue diminta Allah lepas semua jabatan, apa nanti gue akan tetap setia pada perjuangan? setia pada prinsip hidup gue memberi manfaat ke orang lain? Atau selama ini gue mau berjuang cuma gara-gara hidup di organisasi dan punya tangga karir. Tiada keimanan tanpa ujian.

Arya menutup malamnya dengan Tahajjud dan membaca surat Ar Rahman, masalah belum berakhir, tapi ia sudah bulat mengambil keputusan.

….

Setelah selesai mengirim email kepada Ragil dan Arya, Kania segera mengemasi barang-barangnya. Baginya, sudah tidak ada lagi yang harus diperjuangkan dalam masalah yang ia hadapi. Ia sudah mencoba menemui Pak Radit secara pribadi, tapi tidak ada respon. Sahabat-sahabatnya sudah menjauh, rekan kerjanya hanya mengeluarkan sindiran-sindiran setiap hari. Di semua grup organisasi, ia dan anak-anak yang dianggap terlibat dalam rencana sabotase organisasi itu terus menerus di bully. Tapi dari pusat, belum ada pemanggilan. Pada pertemuan dengan Pak Ginanjar lalu, mereka disuruh menunggu pemanggilan. Akan ada sidang kode etik dan kedisiplinan organisasi. Tapi hingga satu bulan berlalu tak juga ada kepastian.

Mereka tidak sidang mempersiapkan persidangan kode etik, mereka hanya menunggu kami mengundurkan diri. Begitu kesimpulan Kania. Itu yang kemudian membuatnya menulis email terakhirnya kepada Ragil dan Arya.

Ada kalanya, tidak semua masalah harus benar-benar selesai. Tidak semua pertanyaan harus terjawab. Mungkin butuh momentum yang tepat atau sebenarnya kondisi yang terjadi sudah merupakan jawaban itu sendiri. Allah sedang menguji apa yang sebenarnya menjadi dasar dari pilihan hidup kita. Apakah benar-benar Allah, apakah ketakutan kehilangan ataukah nafsu ataukah dendam. Untuk apa repot membuktikan kebenaran kepada manusia, jika kelak mata, tangan, kaki, kulit, semua akan bersaksi tentang apa yang sebenar-benarnya.

Setelah selesai beres-beres, Kania kembali ke mejanya. Ia masih ingin menulis satu email lagi, kepada seseorang yang selama ini ia anggap sebagai akhir pencariannya. Tidak mudah melabuhkan hati pada laki-laki bagi seorang Kania yang sepanjang hidupnya tak didampingi seorang Ayah. Sosok Ayah yang ia kenal hanyalah seorang yang tidak bertanggungjawab, lari dari keluarga dan menikah lagi. Bara berhasil meyakinkannya. Akhir tahun ini, usia Kania 29 tahun. Di hari ulang tahunnya nanti, direncanakan pula sebagai hari pernikahannya dengan Bara.

Kania ingin juga menulisan surat untuk Bara, menjelaskan apa yang terjadi atau sekedar mengucapkan selamat tinggal.

Assalamu’alaikum, Bara. Agaknya sudah tidak

Kania tidak melanjutkan ketikannya. Que sera sera, gumam Kania. Ia segera men-sutdown laptopnya dan memasukkannya dalam tas ransel.

 

#Onedayonepost #ODOPbatch5 #pekan6day42

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: