Melodi Perjuangan (5)

“Kita belajar banyak dari sejarah. Bahwa tak ada perjuangan yg berjalan mudah. Sejarah selalu diwarnai dengan adanya orang-orang yang tidak peduli dengan kehidupan akherat, yang tidak takut dosa. Mereka yang kemudian memilih untuk keluar dari jalan lurus dan menghitamkan tujuan. Maka kelak kita akan juga berada di masa munculnya penghianat. Mereka berdalih mengutamakan kepentingan organisasi, untuk kebaikan umat tetapi justru menggiring organisasi pada kesesatan tujuan. Kita akan dibuat bingung membedakan macam-macam orang. Membedakan mereka yang benar-benar tulus dan satu cita-cita atau mereka yang munafik. Bahkan bisa jadi,kita juga bingung mengidentifikasi diri kita sendiri. Masuk dalam golongan manakah.

Tidak hanya dihadapkan pada golongan munafik, bahkan kita juga akan berhadapan dengan kelompok atau orang yang sama-sama ingin kebaikan, yang sama-sama  berharap kemajuan, yang sama-sama ingin menagakkan kebenara. Tetapi memiliki cara pandangnya sendiri, punya definisi sendiri tentang kebenaran, kebaikan dan kemajuan.

Itu adalah benih-benih pertikaian. Ada kalanya konflik dapat teratasi,dianggal sebagai hal yang wajar dalam dinamika organisasi. Maka tentu yg dipilih adalah jalan tengah dan kesepakatan. Namun ada pula konflik menjadi berlarutlarut, tak kunjung selesai, menyimpan dendam. Lalu hiduplah permusuhan, terbagilah umat dalam kelompok-kelompok.

Di sisi manakah kita?

Jika menelaah dari masalah-masalah yang pernah ada, mungkin situasi ini adalah kombinasi dari kecerobohan, ketidaktahuan, semangat membara kita dan bisikan setan. Sebab kita mungkin tidak terlalu menghitung dampak dari perbuatan kita. Kita menilai segala sesuatu lebih kepada niat dan aktualisasi untuk kemajuan organisasi. Tetapi kita lupa bahwa kita hidup dalam lingkungan organisasi yang punya rule ketat dalam persoalan tertentu. Kita tidak banyak menghitung dampak persepsi, dampak terhadap sistem lain. Kita mungkin menghitung, tapi hitungan kita meleset. Ditambah dengan saluran komunikasi yang tidak langsung ke atas. Banyak yang serba perwakilan, meski seakan ikut prosedur, tapi setiap tingkat prosedur sangat memungkinkan ada reduksi dan informasi tak utuh.

Aku tidak sepenuhnya bisa menilaimu ataupun menilai yang selainnya. Apa yang aku ketahui tentangmu dan selainnya sebatas apa yang pernah kutemui, yang tertangkap oleh inderaku, yang dapat ternalar oleh otakku. Tapi kita sama-sama tidak tahu siapa teman-teman kita, begitupun kamu juga tidak benar-benar tahu siapa aku. Tidak hanya itu, bahkan kita sendiri juga berulang-ulang kali menanyakan kepada diri kita sendiri, siapa aku? Apa yang ingin aku capai? Dan aku sedikitpun tidak pernah menemukan jawaban bahwa aku ingin menghancurkan organisasi ini, ingin menyebarkan permusuhan pada orang-orang di dalamnya, ingin menghancurkan pimpinan, ingin menguasai organisasi ini atau tujuan negatif apapun.

Kalian Masih ingat, tentang ikrar yang pernah kita ucapkan bersama? Bukan janji persahabatan ala-ala anak ingusan. Tapi janji persahabatan dalam perjuangan. Bahwa kita akan saling mendukung dalam kebenaran, saling menopang dalam perjuangan. Jika ternyata salah satu dari kita berkhianat terhadap prinsip kebenaran, maka akan menjadi musuh bagi selainnya.

Hari ini, ikrar kita diuji. Apakah perjuangan adalah orientasi kita? Apakah prinsip kebenaran yang jadi pegangan kita? Sekarang situasi sudah sangat jelas. Apakah kita mau berkata sesuai kebenaran, tetap memegang kejujuran atau ikut dalam arus ketakutan dan menyelamatkan diri. Semua orang bukannya tak tahu tentang kebenaran, tapi mereka hanya takut jika tak selamat. Biarlah seratus, dua ratus orang bersaksi sesuai dengan prinsip mereka masing-masing. Kita tahu apa yang telah kita lakukan, Allah tahu apa yang ada di dalam hati kita. Jikalau dosa yang telah kita perbuat, maka hanya padaNya kita bersujud, menyembah dan merengek-rengek minta ampunan. Tapi dengan manusia, berlepas dirilah atas apa yang sudah di luar batas tanggungjawab kita.”

Kania, 29 Agustus 2017, 23.30.

Ragil membaca dengan bersuara, Naya istrinya ikut mendengarkan isi email dari Kania itu. Jauh di dalam hati Ragil, ada perasaan bersalah. Bukan Kania yang membawanya dalam masalah pelik ini, tapi bagi Ragil ini adalah salahnya. Ragil terlalu ambisius untuk membuat inovasi-inovasi program yang kadang meski tidak disetujui manajemen, ia tetap diam-diam mencari jalan untuk mewujudkannya. Kania adalah orang yang paling bisa menterjemahkan pikirannya dalam langkah taktis dan diplomatis. Kania bisa diterima semua pihak dan dipercaya oleh Pak Radit. Dalam banyak kesempatan, Kania membantu menjembatani komunikasi antara Ragil dengan Pak Radit ataupun kepala divisi lain dan juga ketua-ketua cabang. Tapi Ragil juga sama sekali tidak menduga apa yang diupayakannya untuk kemajuan organisasi justru dianggap sebaliknya oleh pimpinan. Bahkan dianggap akan menghancurkan dan menghimpun rencana strategis yang terorganisir.

Ragil tak lagi membalas email Kania. Ia sudah menangkap maksud dari surat itu. Babak Final. Kisah ini harus segera diakhiri, begitu pikirnya. Selesai membaca surat itu, ia mengambil Satria dari gendongan istrinya. Bayi laki-laki itu baru sebulan lalu, menghirup udara bumi. Kulitnya masih memerah, Inderanya belum semua berfungsi dengan baik. Tapi anak itu, tentu sudah merasakan tetesan air mata ayah dan ibunya yang kerap jatuh saat menimangnya.

“Kamu akan jadi anak yang kuat, Nak. Sejak lahirmu, kau rasakan betapa dunia dan isinya tak berarti apapun. Bahwa nama baik, karir, persahabatan, pengabdian tak berarti apa pun di mata manusia. Tapi tak perlu kau risau, selama kau bersama Maha Raja, Maha Kuasa, Maha Benar, Maha Pengasih. Ia akan selalu bersamamu, menjamin hidupmu dan tidak setik pun meninggalkanmu.” Ragil Menimang-nimang anaknya sambil melantunkan surat Ar Rahman.

 

#Onedayonepost #ODOPbatch5 #Pekan6day41

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: