Melodi Perjuangan (3)

“Saya bukan baru satu dua tahun di organisasi, Dik. Sudah empat puluh tahun lebih aktif di berbagai oragnisasi sejak saya seumuran kalian dan sudah dua puluh lima tahun menjadi pimpinan organisasi. Saya sudah bertemu dengan berbagai macam orang dengan watak dan perilakunya. Saya bisa bedakan, mana yang menjalankan pekerjaan dan mana yang menjalankan siasat. Mana yang kesalahan wajar dan mana yang tindakan politis. Dan apa yang sudah adik-adik lakukan, adalah siasat yang sangat berbahaya.”

Kalimat itu terus berdegung di kepala Kania, Ragil dan Arya. Pertemuan selama empat puluh lima menit itu tidak membuahkan hasil yang signifikan, selain semakin menambah tanda tanya.

“Memangnya kalian pernah melakukan rapat rahasia apa, sih Gil?” Tanya Arya dengan tatapan curiga ke Ragil dan Kania.

Gue nggak pernah bikin rapat rahasia. Itu cuma ngobrol-ngobrol biasa. Lu kan tau sendiri, anak-anak suka kumpul-kumpul, diskusi, tuker ide dan bahas organisasi. Itu juga juga nggak melulu bahas organisasi, banyak bahas tentang pengembangan diri juga.” Ragil menjelaskan dengan nada yang dibuat setenang mungkin, tapi terasa ada emosi yang tertahan.

Gue kan udah pernah ngingetin lu, jangan bertindak gegabah. Apalagi bertindak bodoh yang bisa ngebahayain banyak orang. Akhirnya kejadian kan?!” Nada bicara Arya makin meninggi.

“Oh, jadi menurut lu, ini salah gue?! lu juga punya andil. Apa maksud lu bilang ke Pak Radit kalau banyak yang ngomongin dia di belakang. Banyak yang nggak puas dengan kepemimpinan dia, kalau dibiarin lama-lama bisa bikin organisasi nggak kondusif. Lu mau adu domba kita, trus lu jadi pahlawan kesiangan gitu?” Ragil balik menuding Arya, tak mau kalah.

Lhah, itu kan fakta. Dan gue mau kita fair, clear dalam manajemen. Pada Akhirnya Pak Radit kan ngajak semua ketua dan staf divisi untuk evaluasi dan terbuka dengan masalah organisasi. Apa itu salah?” Arya membela diri.

“Salah! Justru dari situ, lu bikin Pak Radit punya prasangka negatif dan serampangan nuduh. Pakek dihubungkan dengan kegagalan Munas segala dan project-project yang gagal di tahun-tahun nggak enak dulu. Semua itu gara-gara lu!”

“Jaga omongan lu ya!, gue… “

Stop! Stop! Please … Stop!” Kania menyela. “Come on, guys. Kita udah kenal bukan dari tahun lalu kan? Sepuluh tahun! Dan kalian masih saling menyalahkan? Kita sebenarnya tahu, apa yang sedang terjadi. Kita hanya nggak siap untuk menerima kenyataan.”

Sejak tadi, Ragil dan Arya hanya saling berdebat tentang siapa yang salah. Mereka tidak sadar, kalau Kania menangis terisak sejak pertemuan tadi berakhir. Selain dari tuduhan-tudahan yang disampaikan Pak Ginanjar kepada mereka bertiga, Kania secara tidak langsung juga mengetahui bahwa pernikahannya dengan Bara tidak akan pernah terjadi.

Dari Pak Ginanjar tadi, Kania tahu bahwa Bara termasuk salah satu informan kunci dari semua keruwetan itu. Dari kesaksian Baralah, disimpulkan bahwa pelaku-pelaku utama dari semua kegaduhan di organisasi adalah Ragil, Arya dan bahkan calon istrinya sendiri, Kania.

 

#Onedayonepost #ODOPBatch5 #Pekan6day39

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: