Melodi Perjuangan (4)

Kecurigaan Pak Ginanjar dan pimpinan elit lainnya tentang adanya sabotase dalam kegagalan program organisasi sebenarnya sudah cukup lama. Tapi baru memuncak saat tidak terselenggaranya Munas di tahun 2017. Awalnya mereka mengira itu hanya masalah kesalahan manajemen dan kurangnya kualitas SDM. Tapi setahun belakangan, isu tentang lemahnya kepemimpinan Pak Radit makin santer. Di situlah mulai ada kecurigaan, bahwa program-program yang tidak berjalan tersebut adalah sebuah rekayasan untuk melemahkan kepemimpinan Pak Radit.

Belakangan bahkan tersiar kabar adanya beberapa staf yang ingin resign gara-gara tidak nyaman bekerja di bawah kepemimpinan Pak Radit. Meskipun begitu, jika Munas 2017 terselenggara, kemungkinan besar Pak Radit masih akan kembali terpilih menjadi ketua organisasi di periode 2017-2022. Tapi dengan mundurnya Munas, berarti ada peluang bagi pesaing Pak Radit untuk mengumpulkan sumber daya dan pengaruh. Mundurnya Munas di tahun berikutnya, akan menjadi waktu yang cukup panjang untuk calon lain mengumpulkan pengaruh.

Bagi Ragil, Arya dan Kania, sangat tidak masuk akal jika kemudian mereka bertiga yang dianggap sebagai pelaku dari sabotase itu. Lebih jauh lagi, apakah kegagalan program dan mundurnya Munas itu adalah tindakan sabotase atau hanya proses manajemen yang wajar.

Gue nggak habis pikir. Kenapa dari keseluruhan kegagalan manajemen itu, kita yang dianggap bertanggungjawab. Bukannya semua proses di lapangan dan kebijakan udah kita sampaikan? Lu inget kan Arya, pas kita maju bareng ke Pak Ginanjar untuk konsultasi tentang situasi menjelang Munas. Trus pas kita ke Pak Radit, Lu kan juga denger gimana pertimbangan Pak Radit. Di situ juga ada Pak Gani dan Bu Dwi. Udah kita sampaikan juga kan pertimbangan Pak Radit ke Pak Ginanjar. Tapi sekarang malah…”

“Malah kita yang disalahin kan. Kita yang dianggap melintir dan ngadu domba. Percuma bro, sekarang semua pada amnesia. Mendadak lupa kalau pernah ada pembicaraan itu. Kita juga gak ada bukti, semua kompak bilang kita yang ngomongnya gak bener. Tapi kok mereka ngerti ya, waktu kita ketemuan bahas rencana peningkatan program kaderisasi setingkat anak cabang. Padahal itu kan….”

“Itu Bara yang cerita,” Jawab Kania datar dengan tatapan kosong.

“Aku kira Bara bisa diandalkan. Aku kira dia cukup tahu tentang situasi yang kita hadapi. Sorry ya guys, aku udah bikin kalian terseret dalam masalah yang rumit!” Kania segera menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia menangis terisak, dadanya terasa begitu sakit. Bodoh! Makinya terhadap dirinya sendiri. Antara benci dengan situasi terkutuk itu dan kekecewaannya terhadap Bara. Bahkan tidak ada satu pun kata yang disampaikan Bara selama masa-masa menegangkan itu. Tidak ada satu pun panggilan telpon yang dijawab, chat pun tidak dibalas.

 

#Onedayonepost #ODOPBatch5 #Pekan6day40

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: