Melodi Perjuangan (1)

“Dulu ketika aku meminang istriku, aku memberinya suatu janji tentang masa depan. Aku berjanji memberinya kehidupan yang berat sebagai pejuang. Dan dia menerimaku apa adanya. Dia sangat ikhlas dengan keadaanku dan memang mempersiapkan diri sebagai istri seorang pejuang. Dia bukanlah makhluk sempurna. Beberapa kali kucoba mengingatkan dengan halus maupun keras. Dan dia bisa memahami dan merubah secara cepat maupun perlahan. Akupun juga bukan makhluk sempurna. Seringkali aku melenceng dari jalan juang. Tapi kami sama-sama belajar berproses. Beberapa waktu setelah aku menikah kami mulai menghadapi tantangan. Tapi kami dapat menghadapinya dengan tegar dan masih berusaha lurus dalam jalan Juang.Ttantangan-tantangan itu kami lihat secara indah. Karena kami diikatkan dalam hati pejuang meski seberat apa pun kami berusaha saling menguatkan.

Namun tiba-tiba aku mengalami musibah yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Musibah yang sangat berat. Musibah yang membuatku dan istriku hampir mundur dari identitas sebagai keluarga pejuang.Musibah yang membuatku menghabiskan malam-malam dengan tangisan dalam sujudku. Musibah yang membuatku beribu kali menanyakan pada diriku sendiri, Siapa aku? Apa niatku? Apa yang sudah kulakukan? Apakah aku manusia atau sesungguhnya setan?”

Ragil,  1 Agustus 2017, 22.00.

Air mata Kania tak terbendung. Bukan satu dua tahun Kania mengenal Ragil. Meski baru sejak kuliah, ia kenal dekat dengan Ragil, tapi mereka sudah saling kenal sejak SMA. Jika dihitung, sudah sepuluh tahun lebih perkenalan mereka. Mereka bukan seperti sahabat pada umumnya yang sering saling curhat atau jalan bareng. Mereka dekat karena satu kelas saat kuliah, satu asrama dan banyak terlibat dalam project sosial bersama. Di sela-sela kegiatan tersebutlah mereka saling bercerita tentang keluarga, mengerti kebiasaan masing-masing dan berbagi pemikiran.

Dalam beberapa kesempatan, Kania pernah bertemu dengan kakak Ragil. Kania juga pernah mampir ke rumah orang tua Ragil di Jogja saat sedang rekreasi ke sana. Meski hanya beberapa kali, tapi Kania tahu betul bagaimana kehidupan Ragil dan keluarganya. Tidak ada cerita yang berbeda, tidak ada fakta yang salah.

Bagi Ragil, Kania adalah satu-satunya sahabat kepercayaannya. Ragil punya pemikiran yang visioner dan ambisius untuk berbuat sesuatu yang memberikan efek signifikan bagi kemajuan karir maupun organisasinya. Tapi situasi Ragil, ibarat berada di sebuah perahu kecil tapi bermimpi menakhkodakan kapal Titanic.

Berbeda dengan Ragil, bagi Kania, teman laki-laki tidak akan pernah cukup untuk menjadi sahabat. Bagaimanapun selalu ada batas dan ruang yang tak bisa ia bagi. Kania lebih suka menghabiskan waktunya dengan sahabat-sahabat perempuannya. Tidak hanya satu, siapa pun bisa jadi sahabatnya. Ada yang sudah ia anggap sebagai kakak, adik dan partner of crime yang menyenangkan.

Tapi, beberapa hari ini, Kania tersentak. Orang yang justru tidak ia masukkan dalam daftar sahabatnya, justru orang yang seratus persen percaya padanya dan bercerita apa adanya. Seorang laki-laki yang meruntuhkan egonya, menceritakan keraguannya akan dirinya sendiri.

“Bagaimana bisa aku menjawab pertanyaanmu, sedangkan pertanyaan itu juga tertuju pada diriku sendiri. Kau tahu, ini malam yang paling memilukan dalam hidupku. Aku yakin, ini akan jadi malam yang terakhir berkumpul bersama sahabat-sahabat perjuanganku. Tahu tidak, malam ini aku masih berbagi kisah inspirasi, berbicara di depan tentang harapan dann rencana pembangunan organisasi. Hari ini mereka masih berpikir aku akan bersama mereka, menjadi rekan, panutan yang akan mengiringi mencapai visi, perbaikan dan kemajuan. Malam ini sungguh pilu … hatiku menangis, meronta sedangkan mulutku tetap harus bertutur dan wajahku harus menunjukkn semangat optimis.

Tapi, tidak lama lagi, mereka akan mendengar kisahku sebagai orang jahat yang jadi musuh organisasi. Lalu menganggap semua yang kulakukan selama ini hanya kepalsuan. Setelah ini mereka akan menganggku tak ubahnya seperti two face atau bahkan medusa. Licik, licin dan berbisa seperti ular.

Oh ya, apa kau dengar kabar Bara? Aku tahu tidak mudah menjelaskan masalah ini kepada istrimu. Situasi ini sungguh rumit untuk dijelaskan, bahkan kita masih tidak tahu situasi apa yang sebenarnya kita hadapi. Apakah tuduhan yang disematkan pada kita adalah pelanggaran disiplin, etika, penyelewengan jabatan atau apa.

Tapi tidak ada yang lebih tragis diantara semua situasi ini, selain kekasih yang tidak menjawab semua pesan. Bara hanya diam, dia juga tidak mau menemuiku. Apakah dia akan membatalkan rencana pernikahan kami setelah ini?

Ah, sudahlah. Ini adalah urusan pribadiku. Kita fokus menyelesaikan saja masalah ini. Apa ada rencana menemui Pembina organisasi?”

Kania, 1 Agustus 2017, 22.30.

 

Send email.

 

#Onedayonepost #ODOPBatch5 #Pekan6day37

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: