Gara-gara ODOP

“Apa cuma aku yang memutuskan berhenti kuliah setelah ikut ODOP?”

Tentu saja tidak sedramatis itu, kawan. Sebenarnya aku juga tidak terlalu yakin saat memutuskan akan kuliah lagi beberapa bulan lalu. Keputusan itu aku buat di tengah kebuntuan mencari jembatan antara pekerjaan yang sedang kutekuni dengan impian yang sejak lama terpendam.

Selama ini aku hanya menulis diam-diam. Tulisan-tulisanku hanya sekedar coretan yang tak berbentuk. Banyak yang berisi cerita hidupku, kisah orang-orang di sekitarku atau apapun yang terlintas dalam pikiran. Aku merasa stuck, keinginanku sejak kecil menghasilkan sebuah karya yang bermanfaat lewat tulisan terasa begitu jauh dan sepertinya semakin tidak mungkin terwujud. Apalagi tiap hari aku harus memeras otak untuk menjalankan bisnis yang masih sangat bayi. Butuh ekstra tenaga, waktu, pikiran dan tentu saja modal.

Di tengah kebuntuan itu, aku nekad untuk kuliah. Aku pikir, masuk dunia akademisi dengan jurusan bahasa akan membuatku membangun jembatan ke dunia penulisan. Tapi, harus menjalaninya selama empat tahun dengan biaya yang juga tidak murah, belum lagi tuntutan kebutuhan yang lain, membuatku keder.

Sampai suatu hari ada program membuat cerita di Instagram selama 30 hari. Di situ, mulai tumbuh semangatku untuk mulai menulis lebih intens, 30 hari tanpa jeda. Saat program itu akan berakhir, aku lantas berpikir, “Setelah ini, apa lagi?” Apa yang akan aku lakukan lagi untuk tetap eksis menulis. Tidak mudah melanjutkan menulis sendiria. Tanpa ada pelecut, pengontrol dan lingkungan yang kondusif, perjuangan untuk menulis sangatlah berat.

Hingga suatu hari aku baca tentang pembukaan kelas ODOP batch 5. Saat aku baca pengumuman dan info yang ada di instagram, aku langsung mendaftar. Paling tidak, aku bisa melanjutkan menulis entah akan jadi seperti apa nantinya.

Ternyata perjumpaanku dengan ODOP benar-benar memberikan energi dan dampak positif perkembangan kepenulisanku. ODOP adalah komunitas menulis yang terbuka. Bagi mereka yang lulus seleksi dapat tergabung dalam grup online. Ada kelas materi dan kelas bedah tulisan. Seperti kepanjangannya, one day one post, setiap peserta diwajibkan menghasilkan satu tulisan setiap hari dan diposting di blog.

Jika memang berhalangan untuk setiap hari menulis, peserta masih diberi toleransi untuk membayar hutang postingnya di hari berikutnya. Asal tidak melewati batas dalam minggu tersebut.

Salah satu yang menarik adalah adanya tantangan yang diberikan pengurus pada peserta di setiap minggunya. Tantangannya bermaca-macam. Pernah kami disuruh membuat cerpen dengan beberapa kata kunci, membuat review produk atau resensi buku dan membuat cerita humor. Aku jadi bisa mencoba berbagai bentuk tulisan yang selama ini tidak pernah kubuat.

Di komunitas ODOP interaksinya juga sangat menyenangkan. Kita bisa saling sharing tentang kepenulisan dan bertanya tentang teknis-teknis menulis. Semua dijawab dengan baik oleh para pj di tiap grup. Para peserta yang sudah jago dalam menulis juga sering berbagi masukan. Tulisan seperti apa pun tetap diapresiasi dan diberi masukan postif.

Kalau ada yang sekiranya mulai kesulitan memenuhi deadline dan seolah hampir putus asa juga akan mendapatkan support untuk terus survive melanjutkan program kelas pemula selama dua bulan. Tidak jarang yang memberikan inspirasi di tengah kebuntuan ide menulis.

Dari ODOP aku benar-benar dapat ilmu banyak. Mulai dari jenis-jenis tulisan, menggali ide, membuat tulisan fiksi dan non fiksi hingga detail-detail seputar PUEBI. Tentu masih jauh untukku bisa menghasilkan karya tulisan yang berkualitas. Tapi dari ODOP, aku belajar untuk tidak mengubur mimpi.

Bulan ini, aku dengan tekad bulat memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah. Selain ingin fokus di bidang bisnis dan literasi, masih ada keponakan-keponakanku yang belum bisa mencapai pendidikan tinggi. Mereka juga masih terbatas biaya pendidikannya. Bagiku, mereka lebih mendesak untuk melanjutkan pendidikan. Semoga aku bisa turut membantu mereka mencapai pendidikan tingginya. Lalu aku? Berkarya tak melulu lewat bangku kuliah. Asal kita tahu apa yang ingin kita tuju, ada seribu jalan untuk mencapainya.

ODOP adalah pintu pembuka untukku lebih serius di dunia kepenulisan. Buatku, ODOP adalah wujud dukungan semesta terhadap mimpiku. Meski sekarang masih kebut-kebutan kejar deadline, tulisan juga masih amatir, ODOP menjadi sahabat untuk konsisten berlatih. Dan tidak ada yang lebih baik dari tulisan yang memberi manfaat. Semoga kelak, aku bisa memberikan manfaat sebaik-baiknya lewat tulisan.

Catatan Sangkila, 25 Februari 2018

 

#onedayonepost #ODOPbatch5 #pekan5day34 #tantangan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: