Koordinat dalam Berbisnis

“Ingin nggak punya untung satu M? Lima ratus juta buat zakat, tiga ratus juta buat wakaf produktif, dua ratus juta buat bantu duafa n anak-anak yatim? Kalau soal mobil, rumah, barang mewah itu bukan yang utama. Jangan bisnis untuk kaya sendiri, tapi untuk terus berbuat baik dan bermanfaat sebanyak-banyaknya. Jangan cuma invest properti di dunia tapi invest sebanyak-banyaknya untuk akherat.” Seorang pembicara muda berkata dengan intonasi berapi-api. Saya fokus duduk tenang menyimak, tetapi hati ini sungguh bergetar.

Saya sering bertanya-tanya dan terus terpikir tentang suatu ayat, “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya. ” (QS 61: 10-11)

Seperti apa berdagang dengan Allah itu sesungguhnya? Biidznillah, di suatu pertemuan komunitas bisnis, Bekasi Berdaya, terjawablah pertanyaan saya. Bisnis menjadi medan jihad untuk umat.

Sejak terjun dalam dunia bisnis, ikut seminar dan pelatihan bermacam-macam, ada banyak pertanyaan saya tentang orientasi bisnis, idealisme, etika bisnis yang sangat mengganggu. Jebakan matrealisme, kapitalisme dan bisnis asal untung membuat saya masih separuh hati melakoni bisnis. Maklum background saya aktivis sosial dan dakwah, jadi rasanya sungguh berkecamuk kalau menemui nilai-nilai bisnis yang tidak sesuai dengan tata nilai yang saya yakini.

Tapi berada di komunitas pengusaha muslim dan bertemu dengan berbagai sosok yang tidak hanya ‘gila’ karya tapi juga sangat kuat spiritual dan fisabilillahnya, memberi banyak enlightment bagi saya.

Lalu terbayanglah sosok Khadijah, Abu Bakar, Utsman bin Affan, Abbdurrahman bin Auf, Umar bin Khattab dan saudagar-saudagar besar yang memberikan hampir seluruh hartanya untuk berjuang di jalan Allah. Mereka berbisnis untuk berjihad. Hartanya digunakan untuk perjuangan umat, bukan memperkaya diri. Pakaian mereka sungguh sederhana, banyak berpuasa, makan sangat sedikit dan ala kadarnya, apalagi bermewah-mewah, sungguh amat jauh dari itu.

Dan hingga hari ini, Allah tak henti mempertemukan saya dengan komunitas-komunitas bisnis muslim yang dipenuhi dengan gelora fisabilillah. Begitu banyak pengusaha yang berbisnis untuk bisa memberi manfaat dan memberdayakan umat. Pengusaha yang berdagang sekaligus memanjangkan sujudnya pada Allah. Pengusaha yang berbisnis dengan strategi sembari mengetuk pintu langit.

Hal yang tidak kalah penting adalah di dalam komunitas-komunitas bisnis ini punya pondasi spiritual dan etika berbisnis yang baik. Mereka sangat berhati-hati dalam persoalan muamalah. Tidak melulu mengikuti arus dan menelan mentah sistem ekonomi barat.

Ikut dalam komunitas bisnis muslim, tidak saja membuat saya belajar tentang strategi bisnis, tapi juga menanamkan tauhid dan pondasi spiritual. Alhamdulillah, Allah memberi rizki pertemuan yang baik. Tidak saja menemukan arah perjuangan dalam berbisnis, tapi juga saudara-saudara muslim yang menjaga akidah dan bermujahadah.

 

#onedayonepost #odopbatch5 #pekan5day33

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: