Arah Hijrah

“Ngapain pergi? Apakah kamu akan meninggalkan medan perjuangan dan pengabdianmu? Apakah kamu akan berubah dari seorang yang mengabdi pada umat menjadi orang yang hidup untuk dirinya saja?”.

Pertanyaan itu terus menggema di telingaku, saat memutuskan hijrah 2 tahun silam. Hijrahku bukan tentang Surabaya ke Jakarta. Jakarta ini bukan tujuan, tapi batu yang harusku pijak sementara untuk bisa sampai pada titik tumpu yang lebih matang.

Hijrah adalah perjalanan manusia menjadi lebih baik, menuju jalan keselamatan dan cahaya. Hijrah bukan saja soal perpindahan fisik, pergi dari satu tempat ke tempat lain, beralih dari satu profesi ke profesi lain, berganti dari satu aktivitas ke aktivitas lain. Suatu peristiwa atau perilaku yang nampaknya sama, belum tentu sama bermakna hijrah. Hijrah bukan sekedar aktivitas fisik semata, melainkan juga proses jiwa yang meliputi pikiran, perasaan. Hijrah harusnya mengantarkan seseorang mencapai titik kulminasi dari spiritualnya, mendekat pada Tuhannya, bukan sebaliknya.

Rasa bersalah dan takut adalah rasa yang bercampur saat akan melangkah hijrah. Takut akan bahaya di jalan baru yang akan ditempuh. Takut kehilangan kenikmatan dan kenyamanan yang ada. Rasa bersalah bahkan lebih menyiksa saat terkesan dengan hijrah itu kita telah mengkhianati kasih sayang dan harapan orang-orang di sekeliling kita. Tapi langkah harus diayun.

“Lalu kapan seseorang harus mulai memutuskan untuk berhijrah?” Bukan hanya mereka yang tenggelam dalam hitam maksiat saja. Tapi kita yang meski seakan baik-baik saja tapi condong hati pada selain Allah.

Saat ruang tak lagi kondusif untuk menjaga nilai kebenaran dan kebaikan. Saat taat ada karena ketundukkan pada manusia, bukan pada Ilah. Di lingkungan sebaik apa pun, di pekerjaan sehahal apa pun bahkan di aktivitas dakwah sekali pun, baiknya bersegera berhijrah.

Maka hijrah membuat kita membedakan mana yang hanya pakaian, identitas semu dengan yang esensi.

Jika begitu, medan perjuangan bukan cuma terletak di tanah kelahirannya, tapi di bumi Allah manapun yang dihamparkan. Mengabdikan diri pada umat tidak selalu terikat pada satu profesi, kelembagaan dan aktivitasnya saja, tapi kemudi hati yang benar. Mengabdikan diri bisa lewat berbagai cara, bidang dan aktivitas dalam koridor tuntunanNya.

Tapi hijrah juga bukan lagu tidur atau harapan semu. Hijrah bukan merasionalisasi aktivitas menjadi selalu bernilai baik. Hijrah bukan zona nyaman baru untuk memunculkan kepuasan diri, kemenangan, merasa telah baik lantas melahirkan kesombongan baru. Hijrah itu perjalanan merengkuh kemenangan atas penaklukan terhadap nafsu dan ego diri. Bahwa tak ada yang patut dituju selain penghambaan dan ketundukan pada Allah. Maka, bertasbilah, mengagungkan Ia sepanjang jalan hijrahmu.

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS 4: 100)

#onedayonepost #ODOPBATCH5 #pekan5day30

Advertisements

One thought on “Arah Hijrah

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: