Kebun Naga

“Yeee … besok Aku ikut bapak ke buah naga (baca: kebun buah naga)!” pekik Adi senang.

Perkebunan buah naga ini berada persis di pinggir laut selatan. Perjalanan ke sana memakan waktu sekitar 1 jam berjalan kaki. Tidak seperti sekarang yang jalannya sudah mulai bisa dilewati kendaraan, dulu untuk menuju ke sana hanya bisa dengan jalan kaki. Tapi Adi dan Bapaknya berjalan bukan karena akses jalan yang sulit, ya karena mereka memang nggak punya motor.

Pekerbunan buah naga ini belum lama ada sebenarnya. Kalau aku tanya tentang siapa yang punya, keluargaku selalu bilang, “Pengusaha dari Jakarta.” Dulunya, tanah-tanah sepanjang laut di desa kami adalah milik penduduk setempat. Turun temurun diwariskan dari simbah-simbah kami. Tapi, karena semakin sedikitnya generasi penerus yang bertani, tanah yang agak jauh dari pemukiman jadi tidak terurus. Ketika ada tawaran untuk menjual tanah, dijual lah tanah-tanah tersebut. Uangnya dari penjualannya biasa digunakan untuk memperbaiki rumah, beli motor, beli sapi, menikahkan anak atau bayar hutang.

Sekarang, tanah-tanah itu kuasa orang-orang nun jauh dari desa kami. Sebagian dibangun perkebunan buah naga, sebagian lagi hutan jati dan desas-desusnya ada  mau dibangun pabrik dan resort.

Kembali cerita tentang Adi. Meski berjalan cukup jauh, tapi Adi sangat bersemangat dengan perjalanannya. Apalagi setelah melihat ribuan pohon buah naga, beberapa ada yang sudah berbuah. Warna merah merekah diantara batang hijau yang kaku dan berduri, menggiurkan bagi yang melihat.

“Itu sebelah sana, tanah kita dulu, Di,” terang Bapaknya sambil menunjuk sebuah area. Adi melempar pandangannya ke arah yang ditunjuk Bapaknya. Sudah tidak bisa dibedakan lagi mana tanah miliknya dulu. Semua terlihat sama, karena hamparan tanah itu hanya berisi pohon buah naga.

Saat berkeliling, sesekali Adi bertanya  tentang tanah yang di sini dulu punya siapa, kalau yang itu, kapan panen, nanti buahnya dibawa ke mana, harga satu pohon berapa. Dia terlihat sangat curious. Tapi dalam perjalanan pulang, Adi mulai mengomel dan pasang muka kusut. Begini celetuknya, “Pak, Pak, ngerti ngono, ndisik lemahe ora usah didol. Kene tanduri dewe buah naga. Nek mung ngene awakdewe yo iso. Ngko panen iso kene dol dewe, dipangan dewe, iso sugih Pak. Ngopo biyen lemahe didol. Jannn, salah!

Begini kalau diterjmahkan, “Pak, Pak, tahu gitu, dulu tanahnya nggak usah dijual. Kita tanami sendiri buah naga. Kalau cuma seperti ini, kita ya bisa. Nanti bisa dijual sendiri, dimakan sendiri, bisa kaya, Pak! Dulu ngapain tanahnya dijual. Bener-bener salah!”. Kalimat itu diungkapkannya berkali-kali, bahkan sampai di rumah, pemikirannya juga disampaikan pada Ibu dan neneknya.

Ealah Le..le..mbesuk yen wis gedhe, tukunen meneh lemahe! Ambil tanahmu kembali!

 

 

#onedayonepost #odopbatch5 #pekan4day26

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: