Cinta Tanpa Kata

“Bocah, kalau sudah nggak bisa diatur, nggak mau nurut sama Mamak, ya sudah. Tak tinggal aja! Mamak minggat aja, ikut Bulikmu ke Jakarta!” Mbak War berkata dengan nada nelangsa, sambil tangannya meraih baju-baju dalam lemari dan memasukkannya ke dalam tas baju.

Melihat Ibunya yang terlihat serius mengemasi pakaian, Adi segera berlari ke arah Ibunya. “Biyungg, Mamak! nanti kalau Mamak minggat, siapa yang ngurusi aku?!” kata Adi masih dengan nada marah tapi juga agak memelas, matanya terlihat sedikit berkaca-kaca.

Itu sekilas drama yang biasa terjadi antara Adi dan Ibunya. Lazimnya anak-anak, meski lucu tetapi juga sering nakal. Apalagi Adi adalah anak laki-laki, berbeda dengan kakak perempuannya yang cenderung lebih penurut. Adi lebih keras kemauannya, kalau tidak dituruti suka ngamuk. Kalau sudah ngamuk, dia suka bikin rumah berantakan. Buku-buku dan pakaiannya dikeluarkan dari lemari.

Ancaman untuk pergi dari rumah adalah jurus paling ampuh untuk meredakan kemarahan Adi. Bocah yang nggak pernah nangis kalau jatuh atau terkena pisau, yang bisa seharian main panas-panas dan lari sana-sini, yang kalau minta apa harus keturutan, tapi kalau sampai Ibunya pergi, maka rasanya akan kiamat lah dunianya. Dia akan menangis dan merengek agar Ibunya tidak meninggalkannya.

Meski sudah kelas 5 SD, tapi Adi belum bisa tidur kalau belum dielus-elus punggungnya oleh Ibunya. Dia juga masih tidur bersama Ibunya. Kadang Ibunya sering kesal dan marah kalau seharian lelah bekerja, tapi Adi masih saja merecoki Ibunya saat mau tidur. Meski seharian ngambek dan cekcok dengan Ibunya, tapi saat mau tidur, tetap saja dia akan ndusel ke Ibunya.

Memang sudah fitrah, anak-anak terlahir dengan penuh cinta pada orang tuanya, khususnya Ibunya. Senakal-nakalnya seorang anak, ia akan luluh juga dihadapan Ibunya. Satu-satunya harta yang paling berharga untuknya adalah Ibunya. Allah sudah meletakkan cinta itu dalam kalbu setiap anak. Kalau diamati, meski seorang ibu kasar, pemarah, suka membentak anaknya tapi anaknya tetap akan memeluk Ibunya, mencium dan menangis jika diabaikan ibunya.

Kadang orang tua kesal dan marah dengan tingkah laku anaknya yang nakal. Tidak jarang yang tidak sabar menghadapi rengekan dan tingkah polah anaknya. Padahal sebenarnya anaknya sedang meminta perhatian dan presiasi. Meski hanya menunjukkan gambar yang berisi coretan, pasir atau tanah yang tak berbentuk, rumput atau batu yang tidak berharga. Kadang itu justru adalah ungkapan cinta dan perwujudan karya mereka.

“Adi, kalau sudah sunat itu berarti udah nggak tidur sama Mamak e! Kalau masih tidur sama Mamakmu, luka habis sunatmu itu nggak akan sembuh-sembuh, ” begitu kata Bu Ponirah, tetangga Adi.

Waduh…. Adi mulai takut. Setelah efek bius lokalnya hilang, rasa sakit sehabis sunat itu terasa sekali. Tidak hanya anunya yang terasa panas, tetapi rasanya seluruh tubuhnya terbakar. Panas dan perih bukan main. Tentu saja Adi tak mau menderita seperti itu terlalu lama.

Lalu, sejak diberitahu tetangganya itu, Adi tidak lagi tidur dengan Ibunya. Dia tidur di ruang depan dengan Bapaknya. Sepertinya, kata-kata Bu Ponirah sangat ampuh menakut-nakuti Adi.

Piye, Di… masih tidur sama Mamakmu?” keesokannya Bu Ponirah mengecek.

“Udah nggak, Bu. Semalam tidur sama Bapaknya” Ibu Adi lebih dulu menimpali.

“Ya gitu, sip! Itu namanya Laki!” Bu Ponirah memuji.

Ibu Adi juga merasa senang. Ia bisa tidur lebih tenang. Selama ini, tidurnya jarang pulas. Kalau tidur, Adi tingkahnya seperti kungfu, tendang sana-sini, berputar 180 derajat. Tapi sepertinya itu tidak akan terjadi. Ibu Adi sudah bisa menikmati tidurnya.

Tapi malam itu, sepertinya Ibu Adi mimpi buruk. Ia seperti merasakan gempa. Gempa adalah hal yang cukup menakutkan. Pengalaman Gempa Jogja tahun 2006 membawa trauma tersendiri bagi penduduknya, salah satunya di desa Adi. Belum selesai hilang takut akan goncangan yang baru saja terjadi, tiba-tiba ada benda besar yang datang dari atas, membentur keras ke kepalanya dan….

Ibu Adi lalu terbangun dengan nafas agak berat, “Astaghfirullah!”

Menyadari itu cuma mimpi, dalam hati bersyukur. Ia membetulkan posisi tidurnya dan hendak melanjutkan tidur. Begitu menoleh ke kanan, “Lhah!” Sudah ada makhluk kecil dengan kedua tangan terlentang dan sarung yang sudah porak poranda, tidak lagi menyelimuti badan anak laki-laki itu. Adi tidur pulas dengan mulut sedikit terbuka.

Ternyata cuma satu malam Adi betah tidak tidur dengan Ibunya. Biar sakitnya tak sembuh asal dalam dekapan Ibunya, ia rela. love you pul Mamak!

 

 

#onedayonepost #odopbatch5 #pekan4day27

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: