Matematika Pasar

“Aduh Adi! Dari tadi diajari nggak bisa-bisa!” teriak ibu Adi kesal.

Seluruh anggota keluargaku suka putus asa kalau harus mengajar Adi. Gurunya saja sering bilang pada ibunya, “Ya, gimana lagi Bu, memang anaknya lambat belajarnya. Bisa naik kelas saja sudah syukur, Alhamdulillah.”

Sebagai anak sekolahan, Adi memang tidak begitu rajin. Meski juga tidak bisa disebut pemalas. Tidak seperti aku dulu yang setiap pulang sekolah selalu mereview pelajaran, membaca bab yang mau dibahas di sekolah pada hari berikutnya, apalagi mengerjakan latihan soal. Belajar dalam definisi Adi adalah mengerjakan PR. Jika PR sudah beres, maka selesailah tugas belajarnya. Selebihnya, adalah waktu bermain dan waktu untuk kepo.

Selain tentang cara kerja truk, alat-alat berat dan bangunan, Adi juga sering kepo dengan belanjaan Nenek dan Ibunya setiap dari pasar. Di desa Adi, pasar hanya ada 2 kali dalam seminggu penanggalan Jawa, Pon dan Kliwon. Hari itu jadi hari yang istimewa bagi setiap orang, apalagi anak-anak. Adi juga selalu exited kalau ibu atau neneknya pulang dari pasar. Ia akan menyambut kedatangan mereka dan melihat setiap barang yang dikeluarkan dari ranjang belanja.

“Dapat apa aja, Mak?” tanya Adi sebagai pembuka. Lalu dia akan mulai melangsungkan interograsi, “Ini harganya berapa, itu berapa, berapa beratnya?” Kadang Adi juga menimpali, “Itu mahal, Mak!” atau “Rugi beli itu, mestinya nggak usah.” Kalau Ibu atau Neneknya menghitung total belanjaan dan kembalian, dia juga sering ikut-ikutan. Meski hitungannya sering salah juga dan membuat Ibu atau Neneknya malah bingung. Karena kebiasaannya itu, dia sering dimarahi, “Ora ilok! Orang laki kok ngitungin belanjaannya perempuan! Sana, pergi main!” Kalau sudah begitu, buru-buru dia kabur.

Suatu ketika, mandat mengajar Adi diberikan padaku oleh ibunya. “Dek, ini ajari Adi ngerjain PRnya, pusing aku!” begitu perintahnya. Dan memang, sulitnya luar biasa membuat Adi paham. Kalau soal tambah, kurang dan perkalian, tidak begitu sulit. Tapi kalau sudah soal Matematika dalam bentuk cerita, luar biasa sulit. Aku bacakan pelan dan mengulang soal berkali-kali tapi dia tidak juga paham. Lalu, aku dapat ide untuk mengubah bahasa dan benda dalam soal cerita tersebut. Aku sampaikan dalam bahasa Jawa dan memberi perumpaan seperti belanja di pasar. Bendanya aku ubah menjadi lombok, bawang, endog, pithik. Ajaib! Dia bisa menjawab.

Aku baru paham, buku-buku berbahasa Indonesia itu sulit dimengerti Adi. Tidak jarang juga, cerita yang di buku tidak nyata dalam kehidupan sehari-hari Adi. Jadi dia sulit sekali menangkap maksudnya. Saat Adi membaca buku, itu seperti kita yang sedikit-sedikit tahu bahasa inggris lalu baca buku yang full english. Ya, gitu deh…. Kadang nyambung, banyak nggak nyambungnya.

Padahal, Adi ini suka matematika. Dia sering minta kakaknya dibuatkan soal matematika jika PRnya sudah selesai. Anak ini justru sangat rajin sekolah dibanding anak lain. Selalu mengerjakan PR meski seadanya. Tak lupa sebelum tidur ia siapkan segala keperluan sekolah mulai dari buku, seragam, kaos kaki, sepatu. Bangun pagi tidak pernah lebih dari pukul lima dan sudah berangkat pukul enam. Kalau sudah pukul enam lewat lima menit, dia selalu gelisah, “Aduh, nanti aku terlambat!” Padahal sekolahnya hanya berjarak lima rumah dari tempat tinggalnya.

Adi memang selalu menduduki klasemen terbawah dalam hal akademis. Tapi soal nilai kepribadian dengan indikator tekun, rajin dan semangat… jangan remehkan kawan, Adi juaranya!

 

#onedayonepost

#odopbatch5

#pekan4day24

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: