Bocah Realis

“Anak-anak, kita harus punya cita-cita yang tiinggiiiii sekali. Ingat kata pepatah, gantungkan cita-citamu setinggi langit. Mengerti?”

“Mengerti Bu Guuruuu!” Jawab murid-murid kompak.

“Bagus! Sekarang Ibu tanya. Candra, apa cita-citamu?”

“Ehmm … jadi polisi, Bu Guru,” jawab Candra malu-malu

“Pemberani! Laras, apa cita-citamu?”

“Dokter, Bu Guru!”

“Cerdas! Kalau kamu, Adi. Kalau sudah besar, mau jadi apa?”

“Supir trek (read: truk), Bu Guru!” jawab Adi lantang dan tegas.

Duh, mateng aku! Keluh Bu Guru dalam hati.

…..

Aku juga pernah bertanya tentang cita-cita pada Adi. Saat SD kelas 1, diamenjawab ingin jadi supir truk bego, semacam truk alat berat. Itu karena di masa itu, sedang ada pembangunan jalan lingkar selatan, tidak jauh dari kampung tinggalnya. Baginya, bisa mengemudikan mesin sebesar itu, meruntuhkan batu-batu raksasa, mengeruk tanah, itu sungguh luar biasa. Adi sering bercerita bagaimana mesin itu bisa meruntuhkan batu, bagaimana supir memegang kemudi, menggerakkan mesin itu. Maka, ingin sekali dia menjadi supir semacam itu kalau sudah besar.

Tapi, setelah pembangunan jalan itu selesai, Adi sudah jarang melihat bego. Saat kelas 2 SD, cita-citanya berubah jadi tukang rencek. Tukang rencek adalah pencari kayu bakar lalu dijual. Itu karena  dia sedang mengidolakan Bapaknya yang saat sehari-hari ngrencek. Bapakku idolaku! Begitulah kira-kira yang terpikir.

Kelas 3 SD, Adi merubah lagi cita-citanya, jadi supir truk tengki (truk pembawa air). Di desanya, sering dilanda kekeringan saat musim kemarau. Tidak ada sumber air selain air hujan. Saat hujan, masyarakat menampung air di bak sebesar kolam renang. Tapi saat musim kemarau, bak-bak itu tidak menyisakan air. Maka, warga mengandalkan air dengan membeli air dari mobil tengki seharga seratus tiga puluh ribu rupiah. Truk tengki selalu ditunggu warga. Nah, buat Adi, menjadi supir truk tengki itu bergengsi dan duitnya pasti banyak!

Ternyata cita-cita itu juga hanya bertahan satu tahun. Saat kelas 4, aku bertanya lagi. “Adi, ponakanku yang ganteng, yen wes gedhe pengen dadi opo, Le? (kalau sudah besar mau jadi apa, nak?)”

“Supir trek rencek!” Jawab Adi sedikit malu-malu.

Hmmm, pasti anak ini terpesona melihat truk besar pembawa muatan kayu bakar atau kayu jati yang sering lewat di kampungnya, pikirku. Truk ini membawa muatan kayu dari hutan untuk dibawa ke kota. Sekali membawa muatan, selalu penuh bahkan kadang terlihat overload.

Mendengarcita-cita Adi itu, aku lalu berkata, “Kalau mau jadi supir, sekalian jadi supir pesawat terbang, ben iso mabur dhuwur (supaya bisa terbang tinggi)”. Sempat berpikir sebentar lalu dia menimpali, “Lha, aku ora iso, piye carane nyupir pesawat. (Lha, aku nggak bisa, gimana caranya mengendarai pesawat)”

Hahaha … aku langsung tertawa. Aku baru sadar, kalau aku yang salah. Adi tidak pernah melihat bagaimana pilot bekerja mengemudikan pesawat. Adi bisa sangat detail menjelaskan tentang bagian-bagian truk dan bagaimana cara supir truk memegang stir, ngegas dan ngerem. Tapi Adi tidak punya gambaran sama sekali tentang bagaimana mengendarai pesawat. Apa yang ada dalam pesawat saja, Adi tidak tahu.

Duh, bulik..ngomongnya jangan ketinggian, nanti ditabrak pesawat! kataku di dalam hati.

 

#onedayonepost

#odopbatch5

#pekan4day23

 

Advertisements

4 thoughts on “Bocah Realis

Add yours

  1. Hmm…agak miris sama cerita ini. Sebuah gambaran bagaimana kita, orang tua yang punya persepsi sendiri terhadap suatu profesi, lalu ketika si anak punya cita-cita berkecimpung di profesi itu, secepat kilat kita mengernyitkan dahi seolah berkata, “What?! Are you kidding me?!”

    Memangnya apa salahnya kalau si anak kepingin jadi supir truk, atau tukang sampah sekalipun?

    Apakah itu berarti cita-cita mereka tidak tinggi? Come on.

    Liked by 1 person

    1. setiap orang tua pasti ingin anaknya jadi yang terbaik. cuma memang kadang caranya yang salah. seringnya menggunakan standar mainstream alias yang berlaku di masyarakat umum yang cenderung matrealis. oleh karena itu, pendidikan yang diperhatikan dalam keluarga bukan hanya untuk anak-anak sebenarnya. tapi juga orang tua. bagaimana orang tua punya ilmu tentang parenting dan memahami psikologi serta dunia anak.

      kalau orang tua punya persepsi dan cara mendidik yang benar, insya Allah anak-anak bisa tumbuh sehat jiwa, berkarakter dan bisa mengembangkan potensi dengan baik.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: