Review Sirkus Pohon Karya Andrea Hirata

“Bagaimana rasanya merindukan seseorang selama 10 tahun, tanpa tahu siapa namanya dan di mana ia tinggal?”

Itu adalah satu bagian cerita yang ada dalam novel Sirkus Pohon karya Andrea Hirata. Kisah tentang dua orang anak yang bertemu di kantor pengadilan Negeri, menemani masing-masing ibunya mengurus perceraian. Sayangnya pertemuan di situasi yang rumit itu hanya berlangsung beberapa menit. Kedua bocah itu belum sempat bertanya nama dan di mana mereka tinggal.

Cerita selanjutnya adalah bagaimana perjuangan dua bocah itu untuk bisa bertemu kembali. Demi bisa menemukan anak laki-laki itu, Tara si bocah perempuan belajar teknik melukis wajah. Ia melukis wajah anak laki-laki itu setiap bulan, beserta dengan kemungkinan perubahan garis-garis wajah seiring dengan perubahan usia. Berbekal dari lukisan wajah itu, Tara selalu mencocokkan lukisannya dengan setiap anak laki-laki yang ia temui. Berharap salah satu dari mereka adalah laki-laki yang dirindukannya selama ini. Setiap bulan selama sepuluh tahun, 120 lukisan wajah telah dibuat Tara.

Sedangkan si bocah laki-laki, juga tidak kalah perjuangannya untuk menemukan gadis ‘layang-layangnya’, begitu ia menyebutnya. Berbeda metode, Tegar, bocah laki-laki itu paling mengingat bau bocah perempuan yang ditemuinya waktu itu. Ia mencari bau apa yang serupa dengan bau anak perempuan itu dan ternyata diketahuinya bahwa itu adalah bau vanili. Ia kemudian mempelajari segala hal tentang vanili. Bahkan, ia berhasil mendidik seorang temannya agar memiliki penciuman yang tajam. Tujuannya satu, jika suatu hari ada gadis itu lewat, temannya bisa mendeteksi kehadiran perempuan yang dirindunya bertahun-tahun.

Namun, inti cerita Sirkus Pohon bukanlah tentang bagaimana perjuangan dua anak manusia yang saling rindu  itu untuk bertemu. Tokoh utamanya adalah Sobri, yang lebih dikenal dengan Hobri atau Hob. Tokoh utama ini hanyalah seorang laki-laki yang tidak lulus SMP, tidak punya keahlian khusus, bahkan tidak punya pekerjaan tetap. Laki-laki ini bahkan sempat dibui karena begitu lugunya menuruti permintaan temannya. Sekalinya jatuh cinta dan akan menikah, musibah terjadi pada calon istrinya. Impian Hob untuk menikah dengan pujaan hatinya pun kandas. Tak berselang lama, ia harus kehilangan pekerjaannya sebagai badut di sebuah sirkus keliling. Satu-satunya pekerjaan tetap yang pernah Hob dapatkan, nyatanya juga tidak lagi tetap.

Berbeda dengan novel-novel kebanyakan tentang bagaimana seseorang dari zero to hero. Bnovel ini bahkan sangat berbeda dengan novel-novel Andrea Hirata sebelumnya yang banyak berkisah tentang perjuangan seorang anak kampung yang memiliki cita-cita tinggi dan berjuang untuk mewujudkannya.

Meskipun begitu, justru di sinilah letak jeniusnya seorang Andrea Hirata. Ia bisa menyuguhkan keistimewaan dari sosok yang bagi orang kebanyakan sangat biasa. Novel ini justru menggambarkan kehidupan manusia yang tak melulu memenuhi standar sukses manusia kebanyakan. Bahwa hidup bukan soal kekayaan, jabatan, kepintaran. Setiap orang punya kisahnya masing-masing tapi bukan berarti hidupnya tak istimewa. Tidak semua manusia bisa menggapai mimpi-mimpi besarnya, tidak menjadi orang populer, tidak berbuat hal yang luar biasa, tapi setiap orang bisa memberikan cinta, ketulusan, makna dan menjalani peran terbaiknya untuk orang-orang di sekitarnya. Begitulah kira-kira pesan yang bisa saya tangkap.

Di luar dari kisah yang diceritakan, keistimewaan novel ini adalah dari gaya penulisan dan alur cerita yang sangat dinamis. Saat membaca judul dan covernya, saya pikir ini tak jauh berbeda dengan kisah fiksi anak-anak yang menggambarkan tentang dunia sirkus serta dinamika kehidupan orang-orang di dalamnya. Lebih cocok sebagai bacaan anak-anak. Begitu pikir saya.

Tetapi, kemudian saya mulai meralat pikiran saya saat membaca bab 2. Cerita mengalir tentang sebuah keluarga melayu, lalu toko-tokoh dengan karakternya masing-masing. Andrea sangat detail menjelaskan setiap fenomena, sosok dan dialog yang sangat hidup. Kita sebagai pembaca diajak untuk menjadi ‘Melayu’ dadakan dan seolah memang kita berada di latar dalam novel tersebut. Ada banyak perenungan tentang kehidupan di novel ini, tapi juga tidak sedikit kita dibuat tertawa dengan dialog dan lelucon spontan.

Meski begitu, jangan disangka akan mudah mencerna novel ini. Sirkus Pohon adalah novel yang bukan sekedar menceritakan tentang rindu dan perjalanan cinta. Di dalamnya terselip fenomena politik dan kekuasaan yang terjadi di negeri kita. Tetapi, oleh Andrea Hirata dikemas dalam latar kehidupan sosial di sebuah kampung kecil di Sumatera. Kalau tak jeli menangkap setiap kata dan kalimat, kita tidak akan memahami alur cerita di bab-bab selanjutnya.

Buku ini saya baca habis hanya dalam beberapa jam. Novel ini tidak akan membiarkan pembacanya menunda untuk menyelesaikan bacaannya. Setiap kata-katanya begitu detail dan membuat penasaran, tentang apa yang akan terjadi setelahnya. Anda tidak akan pernah menyangka endingnya!

Saya tidak terlalu menyanjung Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang best seller di berbagai negara dan telah diterjemahkan ke dalam 26 bahasa bahkan mungkin lebih. Bahkan saya bukan penggemar Andrea Hirata. Tapi Sirkus Pohon ini membuat saya benar-benar angkat topi kepada Andrea Hirata. Dia adalah penulis yang sangat brilliant, salah satu penulis novel hebat di Indonesia, bahkan mungkin yang terbaik.

 

 

#onedayonepost

#odopbatch5

#pekan3day18_Tantangan

Advertisements

2 thoughts on “Review Sirkus Pohon Karya Andrea Hirata

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: