Ambilkan Bulan, Bu (Tamat)

“Kamu ini! Udah dicariin kerjaan, malah ditolak!”

“Bu, di sana itu aku nggak boleh pake jilbab.”

“Trus, kamu mau kerja apa? mau kayak gini terus? pendapatanmu aja nggak beda jauh sama ibuk. Buat apa kuliah kalau cuma jualan. Orang nggak kuliah aja juga banyak yang jualan! Mending kayak Ratih sekalian. Jadi pembantu, nggak bayar kontrakan, makan ditanggung. Tabungannya banyak, liat rumahnya sekarang bagus,” Ibu Nala bicara tanpa jeda.”

Nala menarik nafas dan menghembuskan pelan. Ia berusaha mengontrol diri dan tetap melembutkan suara.

“Bu, Nala kan masih merintis usaha. Ada prosesnya, nggak bisa langsung hasil besar. Nala kan nggak punya modal besar, jadi harus benar-benar merintis dari bawah. Nanti kalau jalannya udah kebuka, Insya Allah bisa kelihatan hasilnya.”

“Makanya, kamu kerja aja, lebih pasti. Usaha belum tentu juga berhasil, Kalau malah rugi trus bangkrut gimana?”

“Insya Allah, selalu ada jalan, Bu. Kalau Nala bisa dapat pekerjaan yang baik sesuai dengan kondisi Nala, Nala juga nggak akan nolak. Tapi kalau usaha Nala sekarang adalah hal yang paling mungkin dilakukan, Nala juga akan jalani sebaik mungkin,” Nala mencoba menjelaskan sambil menahan suaranya agar tak terdengar gemetar.

“Yasudah, terserah kamu saja.” Telepon ditutup.

Tepat setelah pembicaraan anak dan ibunya itu selesai, meneteslah butir-butir air mata Nala. Sesak kembali memenuhi dadanya. Terbayang kembali masa kecilnya. Hari-hari yang ia lalui dengan omelan dan tuntutan ibunya. Nala kecil sering merasa serba salah. Menurutnya, apa yang dilakukannya tidak pernah benar di mata ibunya.

Sejak Nala SMP, ibunya sering menyuruhnya berhenti sekolah dan bekerja saja. Itu terus terjadi hingga Nala kuliah. Pada akhirnya setelah lulus kuliah, Nala bekerja di NGO dengan gaji yang tidak begitu besar tapi pekerjaannya luar biasa banyak

Ibunya sering meminta Nala untuk keluar saja dari pekerjaannya, gajinya sedikit tapi kerjaannya banyak. Hari minggu dan hari liburpun sering Nala lalui di kantor. Ibunya sering bilang, “Kamu mbok ya coba-coba usaha gitu. Dari dulu, Ibuk itu pengen buka warung nasi. Coba kita usaha sendiri, daripada ikut orang terus.”

“Nala nggak suka dagang, Bu. Nala mau kerja seperti ini saja. Nala bisa kerja sambil membantu orang. Balasannya dunia akherat, Bu.” Pendirian Nala tak tergoyahkan.

Hingga suatu ketika ada peristiwa yang membuat Nala memutuskan resign dari pekerjaanNya. Waktu terus berjalan, Nala sempat bekerja di tempat lain. Tetapi tidak bertahan lama. Sudah ratusan email dan surat lamaran yang ia buat, tapi tidak ada yang nyantol. Sampai akhirnya ia memberanikan diri untuk memulai usaha.

Tapi lagi-lagi itu tak membuat ibunya bisa menerima pilihan Nala. Ibunya sering menyalahkan Nala dengan keputusannya resign dari kantor NGO-nya dulu. “Udah kerja enak-enak, kok malah keluar,” begitu protes ibunya.

Meski begitu, Nala tidak pernah berhenti berusaha memberikan penjelasan yang baik dan lembut pada ibunya. Meski kadang terlintas kecewa bila mengingat seluruh proses yang pernah ia lalui. Bahwa apa yang sesungguhnya ia usahakan sejak kecil adalah ingin membahagiakan dan membuat bangga ibunya. Bahwa peristiwa demi peristiwa yang ia lalui juga atas harapan-harapan ibunya. Bahkan meski ibunya sendiri telah lupa dengan keinginan yang pernah ia utarakan.

Tapi Nala tak pernah sekalipun mengungkit apapun tentang ibunya. Ia tak ingin ibunya merasa bersalah atau bertambah sedih dengan keluhannya. Bertahun-tahun, hubungan ibu dan anak itu berjalan begitu rumit. Menyimpan begitu banyak cinta sekaligus luka.

Nala membangun cita-citanya begitu tinggi menembus langit. Orang yang paling ia harapkan bisa mengiringinya mencapai impian itu adalah ibunya. Karena sejak kecil tak pernah ada sosok bapak, bahkan ia tak mengenal siapa bapaknya. Ibu adalah satu-satunya orang yang sangat ia harapkan. Ia ingin ibunya yang paling kuat mendorongnya untuk mewujudkan hal yang seakan tidak mungkin untuk digapai. Kalau bisa bahkan ibunya bisa mengambilkan bulan, seperti lagu anak-anak yang sering ia dengar sewaktu kecil.

Tapi apa daya, itu hanya fantasinya. Semakin dewasa, Nala semakin realistis. Ia tak lagi ingin ibunya mengambilkan bulan untuknya. Tidak menariknya jatuh ke bumi saja, ia sudah puas.

 

 

#odopbatch5

#onedayonepost

#pekan3hari15

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: