Di Ujung Tanduk (2)

“Aduuhhh, udah tinggal 15 menit lagi, habislah aku di minggu ini!” Nada putus asa mulai terdengar dari Sang. Meski tangannya masih menari-nari di keyboard laptop tuanya. Laptop yang sudah sepuluh tahun menjadi tempat berkarya, berimajinasi atau sekedar ia pandangi saat tak ada ide.

Sang menekan huruf demi huruf. Tidak terhitung berapa kali ia sering menekan tombol back space. Ia ragu dengan apa yang diketiknya, menghapus dan mengganti kalimatnya berulang kali. Entah memang kalimatnya salah, atau ia kehilangan kepercayaan diri.

Dalam program yang Sang ikuti kali ini ada ketentuan untuk menghasilkan satu tulisan setiap hari dengan minimal kata yang ditentukan, kecuali puisi. Tapi Sang hanya bisa berpuisi saat perasaannya benar-benar sedang meletup. Dalam frekuensi standar, Sang belum sanggup menghasilkan puisi walau cuma satu bait. Padahal saat SMP, dia suah punya tiga buku dyari yang berisi puisi karangannya.

Kali ini, dia juga tidak boleh terlalu banyak hutang menulis. Baiknya, setiap hari bisa posting satu tulisan. Kalau tidak memungkinkan, panitia mentolerir untuk membayar ‘tunggakan’ menulisnya asal tidak lebih dari 3 kali. Kalau tidak, dia bisa di kick dari komunitas itu.

Padahal ia sangat berharap bisa terus mendapatkan ruang kondusif untuk menulis. Bergabung dalam komunitas menulis, membuat Sang merasa mendapat aliran energi yang besar. Meski harus ekstra memacu pikiran dan ketikan agar segera menyelesaikan satu tulisan, tapi ia sangat senang setiap kali bisa menyelesaikan setiap tulisannya. Apapun itu hasilnya.

Tapi keinginannya tidak selalu lurus dengan kenyataan. Dua minggu ini ia harus menyelesaikan banyak pekerjaan. Sang mendapat proyek penting untuk segera diselesaikan. Apalagi pekerjaan kali ini akan memberikan dampak signifikan bagi pengembangan kantornya. Ia tidak mungkin mengurangi intensitas atau menurunkan targetnya dalam pekerjaan, bahkan perlu ditambah berkali-kali lipat.

“Bagaimana aku bisa menjalani keduanya dengan baik?” Itu pertanyaan yang sering diulang-ulang Sang pada dirinya sendiri.

Ia bahkan sering mempertanyakan niat dan kesungguhan sendiri untuk terus menulis. Ia ingin terus menulis, memperbaiki tulisannya hingga bisa menghasilkan suatu karya yang bermanfaat. Tapi jika sudah dekat tengah malam dan ia masih bergelut pada pekerjaannya, ia mulai ragu.

Seperti malam ini, waktu sudah tinggal beberapa menit. Ia mengetik terburu-buru sambil terus memeriksa jam, mengetik lalu melihat jam. Kembali mengetik, lalu melihat jam, begitu berulang kali. Secepat mungkin ia selesaikan tulisannya, tak terasa sudah lewat dari jumlah kata yang ditargetkan. Ia melihat lagi jam, masih ada waktu lima menit. Semoga jaringan internetnya tidak terganggu karena hujan deras malam ini. Ia harus segera mengirimkan tulisannya.

Masih ada waktu Sang, kejar terus kesempatan yang ada. Ingatlah Sang, “Kalau keinginanmu baik dan kamu yakin, semesta pasti akan mendukungmu!”

“Jangan henti di sini” -Float

 

 

#odopbatch5

#onedayonepost

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: