Di Ujung Tanduk (1)

“Kamu sudah diujung tanduk, Sang!” Kata Sang pada dirinya sendiri.

“Apa mungkin belum saatnya sekarang?” Sang kembali bertanya pada dirinya.

Dua minggu ini adalah hari yang cukup padat dan melelahkan buatnya. Bukan hanya soal pekerjaan yang sedang menumpuk, tetapi ekspektasinya yang meninggi. Kali ini, meski tak otomatis membuat impiannya terwujud, tapi setidaknya cukup membuatnya merasa maju satu langkah. Sang berharap, kali ini ia bisa mengerjakan semuanya dengan baik. Nyatanya, lagi-lagi seakan sama seperti sebelumnya. Ia melihat dirinya sungguh tak berbakat dan tak cukup baik bisa mengerjakan semua.

Sudah tujuh tahun lebih Sang berkecimpung di dunia manajemen. Dari manajemen lembaga sosial dan lembaga profit. Berhubungan dengan POACE, Planning Organizing, Actuating, Controling, Evaluating. Otak kirinya bekerja sangat keras sepanjang tahun itu. Bekerja di laptop berjam-jam, mengetik berlembar-lembar sudah jadi pekerjaannya sehari-hari. Semua adalah soal Manajemen, laporan, format evaluasi, dan segala hal tentang itu.

Sampai tahun baru kali ini, dia menemukan pelecut yang membuatnya berani untuk kembali merajut impian lamanya. Sang semakin sering mengetik, bahkan hingga tengah malam. Otaknya semakin keras bekerja dari mulai bangun tidur hingga lewat tengah malam. Tapi kali ini tidak lagi hanya bagian otak kirinya saja, tapi juga otak kanan. Ia kembali memainkan kata, merangkainya dalam puisi, cerita imajinasi atau sekedar satir.

Sejak tanggal tahun baru kemarin, Sang ikut program menulis tanpa putus selama satu bulan. Di tengah pekerjaan manajemen yang menumpuk, ia selalu menyempatkan untuk menulis. Kadang ia bisa menemukan ide cemerlang yang membuatnya menulis cerita hingga beberapa seri. Ia bisa begitu antusias, tersenyum sendiri dan terhanyut perasaan saat membaca kembali tulisan-tulisannya setelahnya.

Setelah program menulis selama 30 hari itu selesai, Sang menemukan komunitas menulis lagi. Kali ini tidak seperti yang sebelumnya. Kalau sebelumnya ia bebas menulis apa saja, berapapun kata-katanya, dalam bentuk apapun, tapi kali ada ketentuan tertentu. Meski itu juga tetap memberikan ruang yang besar untuknya menulis apapun.

Tapi malam ini, ia kembali ragu atau lebih tepatnya hampir putus asa. “Apakah aku harus berhenti lagi di sini?”

 

#Onedayonepostt

#odop5

#pekan2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: