Surat untuk Bapak

Assalamualaikum, Bapak..

Ini kali pertama aku menulis surat untukmu, karena kata sudah mendesak ingin dilampiaskan. Aku tak janji akankah ada lagi surat-surat yang lain, atau ini sekaligus yang terakhir. Di jaman yang begitu canggih ini, harusnya aku cukup mengirimkan pesan lewat SMS atau WA, praktis. Bahkan kita dengan mudah bisa video call-an, tapi bagaimana aku bisa melakukannya, bapak? Aku cari nomor telponmu di buku telpon, tidak ada. Aku searching di google juga tidak ketemu.

 
Ah, Bapak, aku bahkan lupa menanyakan dulu bagaimana kabarmu saat ini. Apakah Kau sehat dan bahagia? Maaf sebelumnya karena tanpa basa basi, sebab entah apa dampaknya buatku mengetahui kabarmu baik atau tidak. Sepertinya tidak akan merubah apapun. Oh ya Bapak, kemarin aku baru berulangtahun ke-29, apa Kau ingat? Mungkin Kau bahkan tak tahu tanggal kelahiranku. Tapi Kau ingat kan kalau aku adalah anak kandungmu satu-satunya? Sedangkan yang di rumahmu itu hanyalah anak angkatmu. Meski dia juga sama-sama perempuan dan seumuran denganku.

 
Pak, kemarin ibu menasehatiku untuk jangan membencimu karena bagaimanapun Kau adalah bapakku. Tanpa kau, aku tidak pernah jadi jabang bayi. Tentu saja aku tidak akan pernah lupa dan sampai kapanpun aku tidak bisa membencimu. Kau tak pernah memarahiku, tidak pernah kasar padaku, tidak pernah melarangku ini itu. Aku tak pernah tahu seperti apa karaktermu, Kau tak pernah di sisiku, jadi tak mungkin hatiku bisa menilai rasa terhadapmu.

 
Satu-satunya rasa yang bisa kuterjemahkan adalah rindu. Kau mengisi tiga perempat ruang rindu di hatiku. Tidak pernah ada yang kurindu, melebihi rinduku padamu. Bahkan aku tak terlalu merindukan mantanku. Kau tahu kenapa? Kata teman-teman sekolahku dulu, punya bapak itu enak. Kalau berangkat sekolah diantar, pulang dijemput, hari libur diajak pergi ke kebun binatang atau taman kota. Kalau mau mainan, bapak juga yang belikan. Kalau ada anak nakal, bapak yang maju di depan. Temanku bilang kalau bapak itu juga nggak cerewet seperti ibu. Meskipun bapak nggak banyak omong, tapi bapak selalu perhatian. Bapak adalah laki-laki yang paling sayang pada kami di muka bumi ini, bahkan tidak terganti oleh suami kita nanti. Sebesar itukah cintamu padaku, Pak?

 
Dulu aku sering berangan-angan juga punya bapak seperti itu. Tapi akhir-akhir ini, aku kok merasa ruang rindu ini sudah jadi bagian hidupku. Aku mulai takut jika Kau sekarang datang, justru aku akan kehilangan indahnya rindu ini.

 

Bapak, apakah Kau juga merasakan rindu yang sama sepertiku? Kata orang, kita sangat mirip. Mata, alis, hidung, dagu, sifatku bahkan cara berjalanku juga seperti dirimu. Jangan-jangan hatiku juga mengandung komponen identik seperti hatimu, dingin dan rindu. Apakah karena itu Kau tidak pernah menemuiku? Ah, bagaimana Kau bisa menemuiku Kalau kau tak tahu tempat tinggalku. Tapi pernahkah kau coba sekali saja mencariku? Setidaknya sekali saja terlintas niat untuk mencariku. Atau Kau adalah manusia paling tangguh di muka bumi ini? yang kuat ditikam rindu, yang kuat membunuh ingatan tentang anak gadisnya.

 
Bapak, sejauh apapun jarak kita dan lamanya kita tidak bertemu, aku masih saja mendengar kabarmu. Sungguh, aku tidak bohong. Meski aku sudah pindah kota berkali-kali, tetap saja sayup-sayup masih kudengar kabarmu. Hanya saja tak mungkin aku menemuimu. Aku takut dengan istri dan anak angkatmu itu. Kalau mereka tahu aku datang, pasti mereka akan kalap dan bawa clurit.

 
Tapi apakah kabarku juga sampai padamu, Pak? Kabarku yang tak pernah alpa juara satu di sekolah, lulus jadi sarjana, pindah kota, batal tunangan, difitnah orang, menang lomba ngeblog, merintis usaha kecil-kecilan dan kabarku yang lain-lain. Kalau tak sampai, mungkin burung merpati kelewat sentimentil padaku. Aku tidak pernah kirim kabar lewat pos, karena aku tak tahu alamat lengkapmu apalagi kode posmu. Makanya selalu kulewatkan merpati. Merpati tidak butuh alamat lengkap untuk menyampaikan kabar. Ia punya jajaran intel dan jaring informasi yang akurat tentang keberadaan seseorang. Tapi mungkin kabarku tidak penting-penting amat untuk disampaikan. Itulah sebabnya Kau tak pernah menerima sedikitpun kabar tentangku. Ya, aku haru tetap khusnudzon pada merpati.

 
Pak, cukup sekian ya, aku sudah ngantuk. Ini sudah lewat jam dua belas malam. Kalau aku ingat, besok akan kukirimkan surat ini. Ah, bapakaku lupa lagi, kan aku tidak tahu alamat lengkapmu. Ya sudah kalau begitu tunggu merpati saja ya. Semoga ia sudah tak sentimentil lagi padaku.

 
Salam rindu dan peluk dari anak perempuanmu satu-satunya di dunia.

 

#onedayonepost

#odopbatch5

#pekan2

Advertisements

2 thoughts on “Surat untuk Bapak

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: