Menulis untuk Diri Sendiri

“Seegois itukah tujuanmu menulis?”

Dengar dulu penjelasanku. Buatku, menulis itu bukan soal selfish atau altruism. Menulis adalah tentang sejauh mana proses menulis dan tulisan itu bisa membuat perubahan yang positif bagi siapapun yang berinteraksi dengannya.

Siapa yang tak ingin tulisannya bisa bermanfaat untuk orang lain, memberi inspirasi dan membuat pembacanya menjadi lebih baik. Tapi buatku, orang pertama yang terinspirasi dan berubah menjadi lebih baik itu adalah diriku sendiri. Sebelum tulisan itu bekerja pada orang lain, haruslah bekerja pada penulisnya sendiri.

Jadi jangan berharap tulisanku bisa membuatmu atau orang lain mendapatkan hiburan, ilmu, nasehat, insight atau apalah itu dari tulisanku. Tulisan-tulisan ini kubuat bukan untuk membuat orang lain menjadi lebih baik. Tulisan itu banyak kutujukan untuk diriku sendiri.

coba pikir, kata-kata dari mana yang akan paling kau dengar, kalau bukan suara dari dirimu sendiri. kenyataannya, orang tak ingin lebih mendengar cerita orang lain dibanding ceritanya sendiri, begitupun dengan membaca tulisan. Orang lebih menikmati bahkan berulang-ulang betah membaca tulisannya sendiri daripada tulisan orang lain.

Aku harus jadi orang pertama yang terpengaruh oleh tulisanku sendiri. Tulisan-tulisan ini adalah nasehat untuk diriku agar terus berusaha menjadi manusia yang baik. Aku tak mau tulisanku hanya serupa zombie. Ada wujudnya tapi tak ada ruhnya. Bahkan wujudnya serupa manusia, tapi justru memangsa dan membunuh manusia lain. Aku tak mau tulisanku mencederai orang lain.

Tapi kutegaskan sekali lagi, tulisanku tak tertuju secara langsung pada orang lain. Kalaupun kemudian ada yang senyum-senyum saat membaca tulisanku, menjadi tenang, mendapat pandangan baru, atau apapun itu, tentu bukan karena tulisanku. Itu karena mereka sendiri mampu membuka pikiran dan hatinya untuk membiarkan tulisan-tulisanku meresap ke dalam dirinya. Kutegaskan lagi, tulisanku adalah tertuju secara langsung dan lurus pada diriku sendiri.

Dengan begitu aku akan terus menulis selama aku membutuhkan nasehat dan menjaga ingatan hikmah. Namun jika menulis hanya membuatku jadi manusia tak peka, sombong, apalagi pembohong, maka saat itu aku akan berhenti. Karena tak sanggup kelak kupikul dosa dan hisabnya setelah mati.

#onedayonepost

#odopbatch5

#pekan2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: