Ambilkan Bulan, Bu

“Memang kamu malu punya ibu pembantu?” Tanya ibu Nala dengan nada tinggi.

“Bukan begitu Bu, aku nggak malu punya ibu pembantu. Ibu tahu sendiri setiap kali ditanya apa pekerjaan ibu, aku selalu jawab apa adanya. Aku hanya ingin hidup kita lebih baik. Aku ingin mengangkat derajat keluarga kita, Bu. Aku ingin jadi orang sukses. Biar orang lihat, meskipun aku anak pembantu, aku bisa berhasil.”

Masih jelas dalam ingatan Nala, obrolan dengan ibunya lima belas tahun silam. Saat itu dia masih kelas satu SMA. Sudah tak terhitung berapa kali ibunya membujuk untuk berhenti sekolah dan bekerja saja. Jadi SPG, buruh pabrik, baby sister atau pembantu juga tak soal, yang penting bekerja. Daripada sekolah, hanya buang-buang uang, nanti juga belum tentu berhasil. Toh, anak perempuan juga akan berakhir di dapur.

Tetapi semakin dilarang, tekad Nala untuk terus melanjutkan sekoalh hingga pendidikan tinggi semakin besar. Nala sudah berjanji sejak kecil, bahwa dia harus jadi sarjana. Dia akan bekerja lebih baik dari anggota keluarganya yang lain. Suatu ketika, dIa pasti akan membuat mereka bangga.

Nalapun bisa melewati masa pendidikan dengan baik. Dia hampir selalu peringkat satu di kelas, bahkan beberapa kali ranking paralel. Hingga kuliah, dia juga masuk jajaran mahasiswa berprestasi di kampus.

“Ini dia nih, anak paling pinter di sekolah. Waktu SD selalu ranking satu. SMP juga ranking satu. SMA juga ranking satu. Tahu nggak pas kuliah? Juga ranking satu. Pokoke, bocah iki ranking satu sepanjang masa lah.” Itu kata sahabatnya suatu ketika saat reuni SD. Lalu disambut tepuk tangan dan tawa dari teman-temannya yang lain.

Sejak Nala menyandang status anak pembantu yang tinggal di rumah majikan ibunya, ia bersumpah untuk tidak akan mau jadi pembantu. Seberapapun sulitnya hidup Nala nanti, ia akan mencari pekerjaan lain. “Hidup bebas, merdeka dan bermartabat!” itu mottonya dulu.

Sebenarnya Nala tidak menganggap rendah pekerjaan pembantu. Baginya, pekerjaan apapun yang halal, apalagi juga di situ ada perjuangan seseorang mencari nafkah untuk keluarganya adalah pekerjaan yang mulia. Tapi Nala tak pernah rela, jika harus tunduk pada apa saja yang diperintahkan majikan. Tidak jarang pula, kesalahan sedikit saja sudah kena omel habis-habisan dari majikannya. Pembantu harus kuat menahan dikatai goblok, nggak punya otak, nggak berpendidikan, dan kata-kata yang lebih kasar dari itu.

Tidak saja soal perkataan, Nala paling tidak suka dengan kasta sosial. “Kamu harus ingat, nduk. Di rumah ini kamu siapa. Kamu anak pembantu, harus tahu diri, “ begitu kata ibunya mengingatkan Nala. Nala hanya diam. Tetapi dalam hatinya berontak, “Memangnya kenapa kalau pembantu? Apakah pembantu tidak boleh punya hak sama untuk dihormati dan diperlakukan dengan baik seperti manusia lain!”

Pembantu sering ditempatkan di kamar paling belakang. Dengan ukuran kamar 1,5 x 2 Meter. Kalau beruntung bisa dapat 3 x 2 Meter. Kalau makan tidak boleh di meja makan seperti majikannya. Piring, gelas juga tidak boleh pakai yang sama seperti punya majikan. Kalau duduk, tidak boleh di kursi. Hanya boleh di lantai atau di kursi khusus untuk pembantu. Perlakuan-perlakuan semacam itu, bagi Nala adalah ketidakadilan.

Nala kecil, sering menangis diam-diam saat di kamar sendiri. Setiap pukul sembilan malam, ia sudah harus tidur. Sedangkan penghuni rumah yang lain masih asik menonton TV. Saat seperti itu, Nala sering berbaring menghadap tembok. Menutupi tubuhnya dengan selimut hingga ke bagian kepala, lalu menumpahkan air matanya tanpa suara. Sampai ia tertidur dan bangun keesokan harinya, menjalani hidup seperti yang sama.

Kalau Kau pernah takut mati, sama. Kalau Kau pernah patah hati, aku juga iya…

Lagu grup band Letto itu tiba-tiba membuyarkan lamunan Nala. Suara itu berasal dari Hpnya. Ia segera meraih telepon genggamnya itu dan melihat siapa yang menelponnya, Emak.

“Halo, Assalamu’alaikum. Iya bu.”

“Wa’alaikumsalam. Halo. Nak, Ibuk nggak jadi pulang bulan ini. Bulan depan ya, masih diperpanjang ijinnya sama Nyonyah,” terdengar suara dari seberang.

“Oh gitu, yaudah nggak apa-apa. Yang penting ibu sehat, jangan lupa makan, istirahat kalo capek. Usahakan tetap sholat ya buk.”

“Iya, kamu hati-hati juga ya di sana. Musim hujan gini, jangan pergi malam-malam.”

“Iya Bu. Bu, kemarin Mbak Ratih telpon. Katanya di desa lagi…halo Bu, Bu..halo.” Tut

Percakapan itu terhenti, sambungan putus. “Ah, selalu begini,” desah Nala.

Ia lalu merebahkan tubuhnya, menghadap ke tembok. Ia mulai menangis, persis saat waktu kecil dulu di rumah majikan ibunya. Ia menumpahkan air matanya, tetapi suaranya tak ia tahan seperti dulu. Ia merintih, merasakan sakit yang dirasakan bertahun-tahun. Luka yang tak pernah sembuh. Rasa bersalah yang tak pernah hilang.

(bersambung…)

 

#onedayonepost

#ODOPbatch5

#day4

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: