Ambilkan Bulan, Bu (Lanjutan 1)

“Jadi pembantu? Kamu nggak salah?,” Tanya Nala dengan nada yang sebisa mungkin tetap tenang.

“Iya, kenapa? Yang penting kerja dan halal. Jadi pembantu kan nggak hina juga,” Jawab Lani.

“Ya, nggak sih. Tapi kalau ada pilihan lain, pilih yang lain aja. Jadi admin, kasir, guru les atau apa gitu. Atau jualan nasi bareng aku aja gimana?”

“Aku cuma nggak punya link, ijazah cuma SMA, usia udah segini, nggak punya keterampilan khusus. Sulit Na, untuk dapet kerja. Aku butuh pemasukan tiap buat melanjutkan hidup. Aku.” Lani tidak bisa melanjutkan perkataannya. Seolah ada yang tiba-tiba menyumbat kerongkongannya. Lalu menetes air matanya tak terbendung.

Nala lalu memeluk tubuh sahabatnya itu. Dia juga kehabisan kata. Dalam hatinya, ia memaki dirinya yang tidak berdaya. Ia begitu sedih tidak bisa membantu sahabatnya. Jangankan untuk membantu sahabatnya, menolong dirinya sendiri saja dia belum bisa. seandainya…seandainya. Nala berkata dalam hati.

Nala tidak ingin membiarkan sahabatnya jadi pembantu. Walaupun ia tahu itu hanya sementara. Nala tahu kalau tidak semua majikan memperlakukan pembantunya dengan kasar dan diskriminatif. Apalagi sekarang zaman Hak Asasi. Istilah pembantu saja dihapus, diganti dengan Asisten Rumah Tangga. Itu diangap lebih menghormati dan setara seperti profesi-profesi lain. Tapi perubahan istilah itu apa benar-benar merubah pandangan dan perlakukan terhadap para pembantu itu? Apakah negara benar-benar menjamin hak orang yang mereka sebut sebagai ‘Asisten Rumah Tangga itu?”.

Nala sudah biasa bangun sebelum subuh, karena ibunya sudah mulai bersiap untuk bekerja. Ia melihat ibunya mulai menyiapkan bahan-bahan untuk memasak. Pekerjaan pertama yang ia lakukan adalah memasak lalu memasukkan nasi dan lauk yang sudah matang ke dalam kota-kotak makanan. Itu akan jadi bekal sekolah anak majikannya. Selain itu juga menyajikan masakan di meja untuk sarapan anak-anak majikannya dan tuannya yang akan berangkat kerja.

Setelah itu menyiapkan seragam, sepatu dan perlengkapan yang dibutuhkan oleh anak-anak majikannya sebelum berangkat sekolah. Jika anak-anak itu bangun kesiangan, ibu juga ikut kelabakan dan berjalan mondar-mandir menyiapkan ini itu sambil menyuapi anak yang paling kecil.

Setelah anak-anak sekolah berangkat, ibu segera beres-beres. Jika bahan untuk memasak habis, ibu pergi ke pasar untuk belanja. Setelah itu masak untuk makan siang dan malam. Selesai masak, mencuci baju, membersihkan kamar yang jumlahnya pasti lebih dari satu, membersihkan kamar mandiri, menyapu, mengepel, menyiram halaman, cuci piring, dan seterusnya. Saat sudah malam, kadang masih ada permintaan untuk memasakkan mie instan, membuatkan kopi, membersihkan tumpahan susu di kamar. Hingga pukul sepuluh bahkan sebelas malam, semua pekerjaan baru selesai. Begitu hari-hari ibu setiap hari, bertahun-tahun.

Kalau hanya masalah beratnya pekerjaan, Nala tidak begitu mempermasalahkan. Sekarangpun, dia juga berjualan dari pagi hingga malam. Pukul tiga pagi, dia harus bangun untuk memasak. Pukul lima pagi, lapaknya sudah harus digelar. Selesai melayani pembeli yang mencari menu sarapan, ia tutup lapaknya. Merapikan etalase dan sisa jualannya ke dalam warung. Ia mulai memasak untuk dagangan seharian. Hingga pukul sebelas malam, ia baru selesai merapikan warungnya dan kembali ke kosan untuk istirahat.

Menjadi pembantu dan berjualan nasi, sama-sama capeknya. Jualan nasi bahkan lebih melelahkan dari menjadi pembantu. Itu yang dirasakan Nala. Tapi baginya, kemerdekaan dan harga diri itu penting. Paling tidak, statusnya adalah pedagang bukan orang yang disuruh-suruh. Apalagi bisa dibentak-bentak, dimarahi atau diremehkan secara verbal ataupun non verbal.

“Tapi itu kan masa lalumu Na. Nggak semua majikan itu kayak majikan ibumu dulu. Banyak kok majikan yang baik, bahkan malah mendorong pembantunya untuk maju,” Lani menyanggah Nala yang tidak rela dengan keputusan Lani.

“Iya, aku tahu. Pengalamanku bisa jadi nggak dialami orang lain. Kamu bisa saja dapat majikan yang baik, tapi bisa juga kamu bahkan dapat majikan yang lebih jahat. Ayolah La, kamu nggak tahu rasanya kalau sudah masuk ke sana.” Nala masih mencoba membujuk Lani untuk tidak meneruskan niatnya jadi pembantu.

“Trus kamu bisa kasih solusi apa? Udahlah Na, jangan jadikan trauma masa lalumu sebagai generalisasi kisah pembantu dan majikannya. Aku paham tentang hak asasi manusia, tahu hukum. Aku pernah kuliah, Na. Aku juga nggak mau kok selamanya jadi pembantu.”

Nala sudah kehabisan argumen untuk mendebat Lani. “Kamu bisa bilang gitu sekarang La, tapi mungkin tidak lagi setelah kamu menjalaninya,” Kata Nala dalam hati.

(bersambung..)

 

#onedayonepost

#ODOPbatch5

#day5

Advertisements

One thought on “Ambilkan Bulan, Bu (Lanjutan 1)

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: