Ambilkan Bulan, Bu (Lanjutan 2)

“Buat apa aku jadi sarjana, Blu? Dari kecil di perantauan, habis lulus langsung kerja. Lima tahun, Blu! Aku jadi karyawan loyal di kantor. Keluarga dan orang-orang di kampung selalu bilang, wah mbak Nala udah jadi pegawai, hebat. Huh, hebat apanya Blu. lihat aku sekarang ? cuma mbak-mbak bakul nasi. Apa aku jadi pembantu aja ya Blu?.” Nala bicara sambil mengelus kucing kecil yang suka main ke warungnya. Kucing berbulu putih bersih dan bermata biru. Nala menamainya, Blue.

Sadar dengan apa yang baru saja diucapkannya, Nala segera meralat. “Ah, nggak, nggak. Mending jadi mbak-mbak bakul sayur, daripada jadi pembantu, Blu!” katanya sambil geleng-geleng dan merem melek.

Tidak lama kemudian, ia kembali mengelus si Blue. Ia lalu teringat saudara sepupunya yang sudah delapan tahun jadi pembantu dan sepertinya akan terus melakoni pekerjaan itu. Padahal Ratih, saudaranya itu punya perjuangan yang tidak kalah keras dengan Nala.

Ratih anak yang sejak kecil rajin sekolah. Ia juga punya tekad kuat untuk bisa sekolah hingga jadi sarjana. Orang tuanya hanya petani dan buruh harian lepas di kampungnya. Setelah lulus SMA, Ratih ingin melanjutkan kuliah. Karena orang tuanya tidak sanggup membiayai kuliahnya, ia bertekad untuk bekerja sambil kuliah. Pergilah ia ke Jakarta. Bekerja sebagai pengasuh balita. Senin hingga jumat ia bekerja, sabtu dan minggu ia kuliah. Ia punya majikan yang meskipun pelit, tetapi juga baik. Memperbolehkan Ratih kuliah di akhir pekan.

Sampai suatu ketika, keluarganya di kampung mendapat musibah. Ratih harus pulang sementara. Ia akhirnya keluar dari pekerjaannya. Setelah masalahnya di kampung selesai, ia kembali ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah. Tetapi majikannya yang dulu, tidak bisa menerimanya lagi karena sudah memiliki pengasuh anak yang lain.

Ternyata tidak lama kemudian, Ratih dapat majikan baru. Awalnya, dia masih bekerja sambil melanjutkan kuliah. Tetapi justru saat tinggal menyelesaikan skripsi, kuliahnya terbengkalai dan akhirnya sampai saat ini tidak jelas bagaimana kabar kuliahnya. Ratih masih jadi pembantu, semakin terampil dan semakin tidak punya keinginan untuk lepas dari pekerjaan itu.

Nala sudah berulangkali mengajak dan membujuk Ratih untuk melanjutkan kuliahnya dan mencari pekerjaan lain. Tetapi saudara sepupunya itu selalu bilang, “Mau kerja apa, mbak? Takut aku, nggak mau ah, “ atau kalau tidak, “Ya, nanti-nanti deh, tak pikirkan dulu.” Nala lama-lama juga lelah dan putus asa membujuk Ratih.

“Terus buat apa nduk, sekolah sampe tinggi. Kalau akhirnya juga cuma jadi pembantu. Malu Bu Likmu ini di kampung, jadi omongan orang. Kata mereka, ealah Yu, katanya Ratih kuliah di Jakarta. Kuliah-kuliah opo? Jadinya pembantu juga. Gitu katanya, Nduk. Isin aku nduk, isin!,” begitu curhat ibu Ratih berkali-kali pada Nala.

“Ah, Blu..apakah hidup akan terus seperti ini?”

Kalau kau pernah takut mati, sama. Kalau kau…

Nala reflek meraih Hpnya dan menjawab telepon tanpa melihat siapa yang memanggil. “Iya, halo, Assalamu’alaikum.”

“Halo, Nak. Assalamu’alaikum. Gimana kabarmu? Mbak Caca bilang, kalau di kantor temennya di Jakarta ada yang buka lowongan kerja. Kamu coba daftar kesana, siapa tahu bisa cocok,” Suara ibu Nala cepat-cepat di seberang telepon.

“Oh, gitu..emang pekerjaan apa, syaratnya apa?”

“Nggak tahu ibuk, pokoknya sama kayak mbak Caca nanti. Di Perusahaan Travel. Pokoknya coba dulu, trus ntar kalau diwawancara kalau ditanyain mau lepas jilbab atau nggak, bilang aja mau. Nggak apa-apa, bilang gitu dulu. ntar urusan belakangan. Pokoknya kamu coba dulu, Mbak Caca udah nyari-nyariin lowongan buat kamu lho!”

Hening.

(bersambung…)

#onedayonepost

#odopbatch5

#day5

Advertisements

2 thoughts on “Ambilkan Bulan, Bu (Lanjutan 2)

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: