Kalau Bumi Mendadak Dangdut

Telah terjadi gempa bumi dengan kekuatan 6,4 SR, 81 KM Barat Daya Lebak-Banten. Waktu gempa 23 Januari 2018 13:34:50 WIB. Gempa ini tidak berpotensi tsunami.

Begitu informasi yang kudengar dan kubaca di berbagai media.

Lalu, “ping ping ping ping..,” notifikasi pesan di Hpku datang bertubi-tubi. Layar Hpku seakan juga kena gempa susulan, ikut bergoyang karena chat masuk beruntun. Semua sedang ramai membicarakan gempa, saling menanyakan situasi, saling mendo’akan.

Ah, lihatlah betapa paniknya penduduk bumi tiap kali bumi goyang. Aku membayangkan, mungkin si bumi perutnya agak mules. Atau mungkin dia goyang karena nggak kuat menahan gatal. Siapa yang kuat selama 1,54 miliar tahun jejeg ajeg nggak gerak-gerak. Sesekali dia juga perlu goyang biar nggak kaku. Apalagi nggendong 7,4 miliar penduduk bumi. Sepanjang sejarah kehidupan, kalau ditotal jumlah penduduk yang pernah digendong bumi ini sudah 108,2 Miliar. Sampai hari ini bumi masih kuat memikul beban itu dan melayani umat manusia.

Tapi kepanikan soal gempa toh hanya berlangsung sesaat. Beberapa menit kemudian, aktivitas kembali normal. Manusia mulai kembali bekerja, shopping, makan, ngopi, jalan-jalan, online, ngegosip, nyebar fitnah, nyolong. Bahaya sudah lewat, situasi aman terkendali.

Sepertinya bumi cuma dapat jatah sebentar untuk goyang. Meski lelah, gatal, mules atau apapun yang terjadi di dalamnya, bumi harus tetap menjaga keberlangsungan hidup umat manusia. Kalau udah nggak kuat nahan batuk, boleh muntahin lahar. Tapi tetap nggak boleh lama-lama, biar korban jiwanya nggak terlalu banyak. Toh batuknya juga masih dalam rangka memberikan rahmat untuk umat manusia.

Dan bumi selalu patuh dengan perundang-undangan alam yang dititahkan langsung oleh Sang Maha Kuasa. Meski kenyataannya, bumi mengalami penyiksaan oleh makhluk utama yang selama ini dia jaga. Apa namanya kalau bukan cinta bertepuk sebelah tangan.

Bumi takkan kehabisan stok oksigen kalau pohonnya tidak ditebangi. Ia akan terus megalirkan air bening nan segar, kalau sungainya tak ditumpahi sampah dan limbah. Bumi akan menumbuhkan padi, buah dan bunga asal tanahnya tak dijarah untuk apartemen, menara, mall, jalan tol, pabrik yang katanya juga untuk kesejahteraan umat manusia. Lalu bumi dapat apa?

Ah, bumi tak pernah minta apa-apa. Ia berharap dijaga dan diperlakukan dengan baik juga agar manusia terus hidup sehat dan makmur. Kalau laut tak tercemar, sungai tetap bening, pohon tak ditebang, hutan tak dibakar, asap tak mengeruhkan udara, tembok menyisakan tanah untuk padi tumbuh, manusia akan gemah ripah lohjinawi, toto tentrem karto raharjo.

Tapi yah, namanya juga manusia. Kadang pelupa, sering juga nggak tahu terima kasih. Beruntung, kali ini bumi cuma getar dikit. Coba kalau suatu hari dia sudah nggak tahan dengan musik dangdut yang akhir-akhir ini makin ngehits, kalau dia sudah mendadak dangdut… goyangan mautnya bakal mengjungkir balikkan manusia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: