Selintas Kenangan dari Masa Lalu

Saat berada di shaf tarawih malam ini (1/6) tiba-tiba terlintas kenangan masa lalu. Dulu saat saya masih sangat kecil, mungkin masih sekitar 7-8 tahun saya pernah berdoa pada Tuhan. “Ya Dewa, Jika Engkau memang berkuasa dan hebat, bisa menjadikan apa saja, maka tolong jadikan saya sebagai orang Islam. Saya ingin bebas menjalankan ibadah saya sebagai orang Islam, saya ingin bisa mengaji dan menyembah Tuhan Allah. Kabulkanlah ya Dewa.”

Do’a saya terdengar aneh tentunya. Kok saya berdo’a pada Dewa? Ya, karena saat kecil saya tidak tumbuh di keluarga muslim. Saya memang lahir di keluarga muslim, tapi sejak balita saya tinggal di keluarga non muslim. Saya diajari tata cara dan keyakinan lain, saya juga hampir tidak pernah absen setiap satu minggu sekali datang ke tempat ibadah.

Saat sudah kelas 3 SD, saya bahkan belum bisa membaca Al Qur’an. Padahal teman-teman saya yang lain sudah bisa membaca Al Qur’an dengan lancar. Kalau pelajaran agama di kelas mulai, selalu keluar keringat dingin, takut kalau-kalau disuruh membaca Al Qur’an. Setiap kali ada kegiatan Pondok Ramadhan di sekolah, saya berharap mendadak sakit sehingga tidak perlu ikut. Saya takut disuruh membaca Al Qur’an, praktek sholat, dsb. Saya belum bisa melakukan semua itu dengan baik.

Dulu saya sangat ingin sekali bisa menghabiskan Ramadhan di kampung halaman, di rumah keluarga besar saya. Di sana saya bisa belajar ngaji, bisa menghabiskan waktu di masjid kampung dengan teman-teman, bisa ikut puasa dan buka bersama keluarga. Pergi ke masjid dengan memakai rukuh bagian atas dan tangannya membawa Al Qur’an, rukuh dan sajadah. Saat di kota, saya jarang bisa menjalankan itu. Kalau tuan rumah tak ada, barulah saya bisa mencuri waktu pergi ke masjid.

Tahun-tahun berikutnya, ternyata perjalanan saya belum mudah. Hidup saya sejak kecil hanya numpang di rumah sebuah keluarga. Tata cara hidup bahkan sampai keyakinan kadang harus mengikuti tuan rumah. Apalagi saat itu saya masih kecil, belum bisa menolak dan selalu ditanamkan harus menurut pada tuan rumah. Tidak hanya masalah agama, tetapi nilai hidup, kegiatan sekolah, pertemanan, cara berpakaian, dsb. Saya sering menangis diam-diam dan berdoa pada Tuhan, entah Tuhan yang manapun itu yang bisa memberikan saya kebebasan dalam memilih keyakinan dan jalan hidup.

Jika malam ini kemudian saya duduk tenang di barisan Jama’ah sholat Tarawih, saya jadi bersyukur sekaligus merasa berdosa. Saya sering terlupa bahwa dulu sekali, saya berulang-ulang memanjatkan do’a pada Tuhan agar diberi kebebasan dalam memilih jalan hidup saya. Saya ingin merdeka atas berpikir, bertindak dan menjalani hidup dengan kesadaran dan nilai-nilai yang saya yakini. Tetapi saat do’a itu telah terkabul, saya masih sering lalai dalam memanfaatkannya.

Dalam perjalanan hidup saya, kebebasan itu tidak terwujud dalam sekejab. Kadang hanya terjadi sebentar lalu terenggut lagi. Saya pindah dari satu tempat ke tempat lain, mendapatkan kebebasan dalam satu hal tapi masih terikat pada banyak hal lain. Sampai ketika pertengahan SMA, saya memutuskan untuk tidak tinggal di tempat yang lama. Di situ saya mulai seperti baru belajar tentang Islam. Meskipun, tidak lama kemudian saya masuk dalam dialektika pemikiran yang cukup panjang antara nilai ideal dan kenyataan.

Keyakinan saya kembali diuji beberapa tahun lalu. Saya seolah terpental jauh dari zona nyaman dan harus kembali ke titik nol. Apa yang saya pelajari selama sepuluh tahun seperti bertubi-tubi saling memepertanyakan, menyanggah dan menjawab. Dialektika yang sangat menguras pikiran dan perasaan. Sampai hari ini saya masih merekonstruksi kembali bangunan yang sebelumnya pernah hancur. Kadang saya melihat jalan begitu sulit akhir-akhir ini, lalu mulai mengeluh. Meski seringnya semua itu saya simpan sendiri. Sepertinya saya harus memutar kembali kenangan masa lalu saya. Bahwa apa yang saya dapatkan hari ini adalah jawaban do’a saya di masa lalu.

Nikmatnya bisa puasa, bisa sholat jamaah saat tarawih, bisa baca Qur’an berlama-lama, bisa datang ke majelis ilmu. Nikmat iman dan kebebasan dalam menjalankan amalannya adalah nikmat terbesar dalam hidup saya. Meski masih banyak hal lain yang belum terselesaikan, tapi Allah sepertinya mengabulkan sesuatu yang paling besar lebih dahulu. Saya percaya jika setelah nikmat ini bisa saya gunakan sebaik-baiknya, maka doa-doa yang lainpun akan segera terjawab dengan cara yang tidak terduga.

Terlepas dari semua pengalaman masa lalu yang pernah saya alami, saya tidak membenci apa yang terjadi dan orang-orang yang pernah hadir di masa lalu. Saya masih berhubungan baik dengan keluarga di mana saya pernah tinggal dulu. Pada akhirnya saya bisa memilih jalan saya dan tidak ada yang memaksakan pilihan lain kemudian. Kesabaran, keikhlasan dan kelembutan adalah kekuatan yang sangat besar. Kemenangan itu sesungguhnya bukan karena kita bisa menang dan benar dari orang lain, tapi karena menaklukan pikiran dan perasaan diri kita sendiri.

Alhamdulillahi ‘ala ni’matil iman, Islam, hidayah, hijrah….Alhamdulillah Ya Allah.

Tabik.

#NulisRandom2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: