Pemaknaan Ramadhan (2) Puasa dan Berbuka

Kalau dipikir-pikir puasa Ramadhan itu baru sekedar latihan puasa dalam seluruh hakekat puasa sesungguhnya. Di puasa Ramadhan, kita masih diberi manajemen waktu yang tertib. Ada kejelasan kapan waktu sahur, imsak, buka puasa, tarawih, membayar zakat, dsb. Jadi kita bisa mengira-ngira dan merencanakan psikologis, fisik juga materi untuk menjalankan seluruh sistem yang ada di bulan Ramadhan. Rentang waktunya juga jelas, selama 1 bulan yaitu sekitar 29 atau 30 hari.

Bulan Ramadhan yang nampaknya begitu berat untuk dijalani, kenyataannya sangat banyak kemudahan yang tersedia. Terlebih kita yang hidup di Indonesia. Sahur dibangunkan oleh anak-anak kecil dan marbot masjid yang teriak, “Sahur, sahur, sahur!!”. Warung-warung tidak buka di siang hari, kalaupun ada yang buka juga ditutup etalasenya supaya tak terlihat dari luar. Keluarga, saudara, tetangga, teman, semua kompak untuk berpuasa. Di mana-mana mengingatkan tentang nilai puasa, amalan di bulan Ramadhan, ajakan untuk berbagi. Yayasan-yayasan selalu dipenuhi donatur yang mengadakan acara buka bersama dan santunan anak yatim. Dermawan berbondong-bondong menyebar makanan dan bingkisan lebaran ke dhuafa. Ah seperti dunia ini indahnya. Mulai dari ceramah di masjid, pengajian di TV, sinetron sampai iklan semua tentang ibadan di bulan suci. Bahkan setanpun katanya dirantai di bulan suci Ramadhan. Nah, kurang enak apa puasa di bulan Ramadhan? Kita cuma tinggal menahan diri dari subuh sampai magrib datang, lalu berbuka puasa. Jelas sekali rule, tantangan dan rentang waktunya.

Tapi apa puasa hanya berhenti di Bulan Ramadhan saja? Apa makna puasa itu hanya menahan makan, minum, hawa nafsu pada bulan Ramadhan saja? Perintah pengendalian diri dari segala yang berlebihan dan mengumbar hawa nafsu itu adalah perintah sepanjang hayat. Berarti tentunya akan ada puasa di bulan-bulan lain yang juga dijalankan manusia. Tidak sekedar puasa lambung, tapi juga puasa syahwat, kekuasaan, harta dan segala yang dapat merusak keseimbangan.
Jadi apakah puasa Ramadhan adalah puncak ibadah dan optimalisasi amalan-amalan terbaik? Atau malah sekedar momentum latihan untuk siap terjun dalam medan puasa yang sesungguhnya? Medan puasa itu ada di bulan-bulan lain di mana kita tidak dapat mengira-ngira kapan waktunya kita harus puasa dan berbuka. Di bulan setelah Ramadhan, bermilyar-milyar setan mungkin berseliweran bebas di sekitar kita. Di depan, belakang, kanan, kiri bahkan di dalam hati kita sendiri, setan datang menodongkan godaan-godaan yang asyik untuk ingkar terhadap aturan Allah.

Lebih besar lagi tantangan itu manakala orang-orang baik tidak sebanyak di bulan Ramadhan. Masjid tidak seramai di bulan Ramadhan, tadarus Qur’an tidak lagi terdengar sepanjang malam, sinetron dan iklan di televisi sedikit sekali yang mengondisikan ibadah. Kadang-kadang kita merasa sebatang kara berjuang melawan arus matrealisme dan hedonisme.

Apalagi jika situasi sulit tiba-tiba datang seperti badai el ni no. Masalah bertubi-tubi, musibah datang, mungkin juga krisis keuangan, membuat kita harus puasa dari banyak hal. Warung-warung makanan tidak ada yang tutup, orang-orang berseliweran membawa makanan enak, gadget mahal, pakaian mewah, tapi kita malah puasa karena tak punya materi itu. Hidup kita terjungkir 180 derajat. Apa kita benar-benar bisa puasa atau memilih jalan suap, santet, copet dan jalan haram lainnya. Atau kita bisa bertahan dengan puasa yang amat melilit perut dan perasaan, tanpa kita tahu kapan waktu berbuka akan tiba. Jungkir balik, memeras tenaga dan otak, kerja berat tapi tak ada tanda-tanda kapan waktunya berbuka.

Atau sebaliknya, kita berada di situasi di mana segalanya serba melimpah. Hidangan segala rupa tersaji, kita tinggal pilih dan ambil yang kita mau. Tidak ada pengingat imsak, bahwa makan harus segera disudahi dan mulai berpuasa untuk tetap dalam batas. Tidak banyak iklan, ajakan teman kantor, atau perusahaan untuk mengadakan acara amal di panti asuhan. Masjid-masjid tidak lagi memasang spanduk, “Menerima dan menyalurkan Zakat Fitrah, infaq dan Sedekah”. Sampai akhirnya kita terlalu banyak menimbun harta dan sedikit mengeluarkannya.

Jadi agaknya, kita perlu menata dan menyiapkan diri jauh lebih besar menghadapi medan puasa yang sesungguhnya. Ramadhan ini adalah momentum latihan agar kita tidak kaget menghadapi momentum puasa di bulan-bulan setelahnya. Kalau kita sudah terbiasa dengan puasa Ramadhan, terbiasa dengan menahan diri dan tahu batas, maka di bulan selanjutnya kita lebih terlatih. Meski tak ada imsak, kita sudah bisa mengira-ngira kapan saat berhenti untuk makan. Kita sudah bisa menentukan kapan kita harus segera menahan diri, menekan hawa nafsu bahkan meninggalkan sesuatu yang tidak seharusnya. Kita yang terlatih dengan puasa tidak akan terkaget-kaget jika harus berpuasa tiba-tiba, kehilangan atau kelimpahan terlalu banyak. Karena kita sudah tahu batas di mana kita harus menahan diri dari sesuatu atau bahkan tidak memakan apapun.

Jadi mari berhenti mengeluh dan berlebih-lebihan di Ramadhan ini. Kalau latihannya saja sudah tak sanggup menjalani, bagaimana kita melewati medan puasa yang sesungguhnya.
Tabik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: