Rumah Baca, Rumah Belajar Sejuta Ilmu

Dari luar seakan hanya rumah biasa, namun begitu saya memasuki pekarangannya, ada berbagai jenis pepohonan dan nampak buku-buku tersusun rapi di sekeliling teras. Akhirnya saya tiba di Taman Baca yang lebih dari sekedar tempat membaca. Teh Herni, pendiri taman baca Kai Cantigi menyambut kedatangan saya hari itu dengan ramah . Saya sudah punya firasat, bahwa pertemuan ini akan istimewa.

Taman Baca Kai Cantigi terletak di desa Cikahuripan, Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Hari itu saya berangkat dari Jakarta pukul lima pagi dan sampai di Bandung pukul delapan pagi. Tidak menunggu lama, saya langsung lanjutkan perjalanan ke Lembang dengan memesan Ojek Online. Alhamdulillah, tidak sulit mencari alamat Kai Cantigi.

Setibanya di sana, saya disambut pasangan kompak, Teh Herni dan Suaminya serta adik bayi bernama Peta. Buat saya, mereka adalah pejuang lokal yang punya aksi perjuangan nyata di desa Cikahuripan. Meski mereka hanyalah pendatang di desa itu, tetapi sudah sejak pertama kali pindah beberapa tahun silam, dirintis pula taman baca Kai Cantigi. Berbagai tantangan ditehadapi, bahkan fitnahpun pernah datang tetapi mereka tetap pada visi dan keyakinan mereka untuk memajukan pendidikan anak-anak di Cikahuripan.

Taman baca ini tidak hanya menjadi tempat membaca buku bagi anak-anak, tetapi juga tempat mengembangkan diri dan belajar life skill. Kai Cantigi juga sedang mengembangkan pertanian terpadu dan mengolah bahan pangan. Teh Herni dan suaminya mengajari relawan dan pemuda di Cikahuripan cara beternak, berkebun dan memanfatkan hasil kebun dan ternak.

Di taman baca ini ada beberapa komputer yang bisa digunakan anak-anak binaannya untuk belajar. Bahkan Teh Herni dan suaminya sengaja berlangganan TV kabel agar bisa memberikan tontonan bermanfaat bagi siswa binaan yang ingin mengembangkan diri. Mereka bisa belajar memasak, menjahit dan membuat berbagai kreasi.

Saat ini Kai Cantigi juga sedang mengembangkan produk makanan sendiri. Mereka memproduksi yoghurt murni dan ice cream. Rasanya sungguh sangat lezat, karena memang melalui tahapan eksperimen yang cukup panjang. Bahan susunya murni, mereka ambil langsung dari sapi perah yang mereka miliki. Tanpa diberi bahan pengawet dan pemanis, rasanya segar dan alami.

Saya pun diajak berkeliling taman baca, ternyata di belakang rumahnya masih ada area yang cukup luas. Selain ada sapi perah, ada pula kebun yang ditanami rumput untuk makanan sapi. Ada juga tumbuhan lain, seperti pisang, kopi, kemiri, durian. Semua tumbuhan ini menggunakan pupuk kandang dari kotoran sapi. Sama sekali tidak menggunakan pupuk kimia. Kai Cantigi berharap ke depan bisa mengembangkan biogas dengan memanfaatkan kotoran sapi.

Setelah ngobrol dan berkeliling di Kai Cantigi, saya mendapatkan banyak inspirasi. Niat kedatangan saya yang  ingin menjalin kolaborasi antara Social Trip Indonesia dan Kai Cantigi semakin mantab. Meskipun saat ini Kai Cantigi masih berproses untuk mengembangkan pertanian terpadunya dan produk UKMnya. Namun, ini adalah langkah yang sangat baik untuk ke depannya.

Teh Herni dan suaminya mengelola taman baca dengan swadaya. Mereka tidak menjadikan taman bacanya sebagai lembaga komersil. Tidak jarang malah mereka menolak bantuan uang yang diberikan oleh orang-orang yang berniat tidak baik. Saat saya menawarkan bantuan atau donasi apa yang dibutuhkan Kai Cantigi, mereka menjawab dengan cepat, “Buku saja!”. Mereka menegaskan kalau  mereka ingin mandiri dan mengajarkan mental kemandirian pada anak-anak binaan mereka. Mereka tidak ingin mengandalkan pembiayaan taman baca dari donatur. Kalau ada yang ingin membantu, sebisa mungkin memberikan barang saja yang dibutuhkan taman baca, tidak perlu uang.

Di sini saya semakin salut dengan pasangan pengelola Kai Cantigi ini. Saya tahu bagaimana sulitnya mengelola lembaga sosial dan dana yang dikeluarkan juga tidak sedikit. Tetapi mereka tidak ingin meminta belas kasihan, mereka ingin dihargai karena mereka punya produk. Semoga niat dan usaha Kai Cantigi ini bisa mengantarkan pada kemajuan dan perkembangan yang baik.

Meski hasil secara materi tidaklah berlimpah, tetapi idealisme dan moral yang dipegang teguh adalah kekayaan yang sangat mahal. Semoga masih banyak orang dan lembaga seperti Kai Cantigi ini di Indonesia. Setidaknya masih memberikan harapan bagi kelangsungan bangsa Indonesia. Alhamdulillah, saya pernah singgah ke rumah yang penuh berkah di Kai Cantigi. Rumah yang bangunannya sederhana, tetapi di dalamnya terdapat emas dan mutiara jiwa.

Ingin tahu sendiri bagaimana rumah baca ini? Yuk, Ngetrip bareng!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: