Pesantren di Nadi Kehidupan Masyarakat (Bag 2)

Pembangunan Karakter Santri

Setiap ada kesempatan untuk ngobrol dengan para santri Al Ittifaq, saya manfaatkan untuk bertanya tentang dari mana asal mereka, motivasi dan kesan selama di pesantren ini. Opini yang disampaikan santri mengenai pesantren hampir sama, sepertinya karena yang saya temui adalah santri yang sambil bekerja, sehingga kebanyakan dari mereka merupakan anak yang giat bekerja. Mereka menyampaikan nilai positif nyantri di sana yang tidak hanya belajar agama saja tetapi juga bisa belajar agribisnis. Mereka yang sudah nyantri 3-4 tahun bahkan ada yang 8 tahun merasa betah tinggal di pesantren. Mereka merasa di pesantren bisa seimbang antara dunia dan akherat. Mereka bisa bekerja tetapi juga tidak melupakan ibadah.

Tidak sedikit dari para santri yang kemudian menikah dengan santri lain dan menetap di sana. Ternyata di pesantren ini juga terdapat program nikah massal yang dilaksanakan satu tahun sekali. Santri yang sudah cukup usia dan tabungan diberi penawaran oleh Pesantren, apakah ingin menikah atau tidak. Jika ingin menikah namun belum punya calon, pesantren juga membantu mencarikan jodoh. Tidak sedikit santri yang menikah dengan sesama santri dan kemudian melanjutkan hidup di pesantren dan menjadi warga kampung Ciburial ini. Merekapun bisa bekerja di lingkungan Pesantren. Ada yang menjadi guru, Ustad, pengurus masjid, pengurus agribisnis atau juga petani yang tergabung dalam anggota koperasi Al Ittifaq. Ini merupakan salah satu bentuk kepedulian pesantren akan masa depan santrinya.

Nilai-nilai utama yang ditanamkan oleh pesantren Al Ittifaq adalah sholat tepat waktu. Saat Adzan sudah terdengar, maka diwajibkan untuk meninggalkan semua pekerjaan, bergegas mengambil wudlu dan sholat. Menurut Pesantren sholat merupakan wujud hubungan langsung kita kepada Allah, panggilan sholat sama dengan panggilan Allah. Orang yang tidak peduli terhadap panggilan sholat, menomorduakan apalagi tidak peduli maka akibatnya, Allah pun juga akan memperlakukannya sama seperti itu. Sholat wajib harus di atas segalanya, tidak hanya tidak boleh ditinggalkan tetapi harus segera ditunaikan saat adzan telah berkumandang. Nilai-nilai ini ditekankan tidak hanya di lingkungan pesantren, namun di seluruh masyarakat ciburial. Sehingga dapat kita lihat, jika sudah mendekati adzan kebanyakan orang mulai bersiap untuk sholat. Meskipun tidak benar-benar semua warga masyarakat, namun setiap waktu sholat, masjid selalu ramai oleh jamaah.

Untuk kegiatan belajar lain yang dijalani oleh santri tidak jauh berbeda dengan pembelajaran di pesantren-pesantren pada umumnya, sebagaimana yang saya sampaikan di awal. Namun, selain belajar ilmu agama secara literal, di Pesantren ini juga memiliki nilai-nilai yang dijunjung. Pesantren menekankan kepada santrinya agar mau bekerja keras dalam menjalani hidup ini. Dalam suatu kesempatan mengikuti pengajian rutin, saya mendengar salah satu Kyai di sana menyampaikan bahwa Indonesia ini merupakan negara yang kaya, tidak ada yang sesubur tanah Indonesia, tetapi Indonesia hanya menjadi negara berkembang. Hal itu dikarenakan orang Indonesia itu malas. Kalau ingin menjadi bangsa yang besar, harus kerja keras.

Itulah mengapa di Pesantren terdapat berbagai kegiatan yang dapat diikuti santri untuk keberlangsungan hidupnya saat ini maupun di masa yang akan datang. Santri dapat belajar gratis di sini asal mereka ikut salah satu kegiatan yang disediakan oleh pesantren. Tidak hanya itu, hasil kerja mereka juga menjadi tabungan mereka untuk bekal setelah lulus dari Pesantren. Jadi para santri yang bekerja itu bukan hanya pengabdian semata. Namun, bekal untuk dunia dan akherat.

Pesantren di Nadi Kehidupan Masyarakat

Niat awal saya pergi ke Pesantren ini hanya untuk belajar agribisnisnya. Saya pribadi tidak terlalu berminat untuk ikut dalam kegiatan pesantren dalam arti nyantri. Saya berharap dengan belajar di sana saya bisa tahu tentang bagaimana pertanian mulai dari produksi hingga distribusi. Saya juga bisa mengetahui bagaimana manajemen agribisnis dijalankan dan cara memberdayakan petani. Itu karena saya tertarik dengan sektor agribisnis, bisa mengembangkan pertanian, memberdayakan petani dan membuat koperasi semodel al Ittifaq. Namun setelah menjalani hari-hari di sana, banyak pelajaran yang justru saya dapatkan di luar persoalan agribisnis.

Bagi saya, sebuah lembaga yang punya spirit untuk mendakwahkan nilai Islam dengan bil hikmah dan hadir secara nyata di tengah-tengah masyarakat merupakan lembaga yang luar biasa. Peran agama sudah pasti sangat besar dalam mengarahkan hidup manusia. Agama merupakan fondasi sekaligus pagar dan atap. Agama merupakan akar yang menjadi dasar benar salah dan baik buruk dalam hidup manusia sekaligus menjaga manusia dari kehidupan yang salah arah. Kita tidak bisa berharap bahwa semua manusia bisa memahami secara tepat benar dan menyeluruh ajaran agama Islam mulai dari pendasaran hingga amaliyahnya. Pemahaman dan penguasaan manusia terhadap ajaran Islam tentu beragam, namun ketika bisa mengajak orang untuk beriman kepada Allah dan Islam, lalu membangun kesadaran untuk terus belajar dan mengamalkan nilai Islam merupakan hal yang tidak bisa dibilang mudah. Siapapun yang berjuang dalam hal tersebut patut dikagumi.
Di sini saya melihat gerakan sebuah pesantren yang bisa menerjemahkan Islam dengan bahasa masyarakat yang nyata. Peran pesantren tidak hanya sebatas dalam ajaran agama yang normatif ataupun fiqh-fiqh yang rumit. Tidak melulu tentang madrasah dengan kurikulum yang diajarkan setiap hari ke siswanya. Pesantren dapat hadir di tengah-tengah masyarakat, baik warga maupun santrinya untuk berusaha berjalan pada titik keseimbangan dunia dan akhirat. Saya katakan berusaha karena kita sebagai manusia tidak bisa benar-benar tahu apakah kita sudah berada di titik yang benar-benar seimbang. Sebab yang memiliki ilmu untuk mengukur titik yang benar-benar seimbang itu hanyalah Allah. Tetapi di sini pesantren mampu mengajak warga dan santrinya untuk berjalan pada jalur agama tanpa acuh terhadap kehidupan dunianya.

Santri di sini diajarkan untuk bekerja dan berbaur dengan masyarakat. Mereka secara langsung maupun tidak diajarkan bekerjasama dengan masyarakat agar ketika lulus dari pesantren merekapun juga bisa hadir di tengah-tengah masyarakat dengan baik. Koperasi yang dikelola oleh pesantren berusaha untuk bisa membantu masyarakat meningkatkan daya jual yang dapat meningkatkan kesejahteraannya.

Meski tidak benar-benar sempurna dan tentu ada kekurangan dan kelemahan yang masih dapat kita kritisi dari pesantren ini, namun dapatlah nilai idealnya menjadi inspirasi sebuah gambaran masyarakat madani. Sebuah masyarakat yang saat mendengar adzan subuh terbangun, di antara mereka banyak yang bergegas ke masjid. Setelah itu mereka mulai bekerja, ada yang pergi ke ladang, mengurus hewan ternak, membersihkan rumah, berjualan, anak-anak pergi ke sekolah, dsb. Ketika menjelang dzuhur, dari masjid terdengar bacaan Al Qur’an atau sholawat, orang-orang mulai menghentikan pekerjaannya dan bersiap untuk sholat dhuhur. Setelah itu, mereka melanjutkan kembali pekerjaannya hingga menjelang ashar dengan pola yang sama. Sampai magrib datang, selepas magrib ada yang berdzikir atau beristirahat sambil menunggu waktu Isya’ datang. Selepas Isya’ mereka beraktifitas lagi, entah bekerja, berkumpul dengan keluarga, belajar, mengaji hingga malam saat istirahat datang. Hingga dini hari masih didapati orang-orang yang terbangun untuk sholat tahajjud. Meski begitu, tentu saja tidak akan terlepas dari adanya konflik, masalah-masalah sosial, atau apapun persoalan yang pasti datang. Tetapi ketika warna yang dominan adalah seperti gambaran di atas, tentu itu sesuatu yang indah.

Dalam kenyataannya, untuk bisa mewujudkan gambaran masyarakat seperti di atas, bukanlah persoalan yang mudah. Butuh puluhan tahun dan mungkin harus diwariskan melalui estafet dari generasi ke generasi. Al Ittifaq melukis cukup manis pada perjuangannya juga telah menempuh tahun-tahun yang panjang penuh dengan tantangan dalam lingkup kampung Ciburial. Jika berharap lukisan indah tersebut juga dapat terwujud di berbagai sudut negeri ini, tentu butuh banyak Al Ittifaq-Al Ittifaq yang lain. Jika sepak terjang Al Ittifaq dapat menginspirasi lalu membuat banyak orang tergerak untuk berkiprah secara menyeluruh maupun dalam sub sektor tertentu, kita dapat melihat lukisan indah itu lebih banyak. Tidak harus dengan satu lembaga dapat membangun di semua sektor, tidak harus satu ‘Superman’ yang punya ide dan impact di segala sektor. Setiap orang dengan idenya, gerakannya, keahlianya dan bidangnya dapat bekerjasama membangun jaring yang kuat dan bersama membuat lukisan indah itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: