Manajemen Jamur

Pertama kali saya membaca dua kata ini, sayapun sebenarnya tidak memahami benar apa maksudnya. Salah satu rekan kerja saya di divisi lainlah yang menuliskannya. Dia mengeluhkan pencapaiannya selama bekerja yang dia anggap tidak banyak menghasilkan sesuatu yang benar-benar fantastis. Dia merasa bahwa selama ini, ide-ide baru dan pemecahan masalah selalu datang dari manajemen atas. Saya sempat mengernyitkan dahi juga ketika membaca ringkasan laporannya. Bagi saya, rekan yang satu ini merupakan sosok yang cukup smart dan tekun dalan bekerja. Well, tetapi kenyataannya, itulah yang dia tuliskan. “…berada di MANAJEMEN JAMUR”. Satu bulan setelahnya, saya baru bisa menghayati apa sebenarnya makna dari manajemen Jamur.

Di hampir semua teori manajemen bahkan di buku-buku bertema manajemen praktis, sangat sering dijumpai  pembahasan mengenai pendelegasian, proses pengambilan keputusan, pelibatan karyawan, dan tema-tema sejenis lainnya. Namun agaknya, penerbit buku kurang banyak memproduksi buku semacam itu, kenyataannya masih saja ada manager yang tidak bisa menerapkannya secara efektif.

Salah satu peran penting manajer adalah kecepatan dalam pengambilan keputusan. Di dalam kesatuan sistem organisasi, tidak semua memiliki wewenang dalam membuat keputusan kecuali memang telah ada tupoksi sejak awal yang menjelaskan hal tersebut. Namun, bagi organisasi yang memiliki titik-titik yang cukup krusial dan sangat perlu semua sinergi dan keputusan harus melewati satu pintu manager, maka manager haruslah menyadari posisi tersebut.

Kesadaran akan posisi tersebut  akan membuat manajer untuk bisa tepat dalam mengambil sikap dan bertindak. Jika tidak, maka jangan kaget kalau kita akan menjumpai bagaimana karyawan menjadi ‘jamuran’ dalam menunggu manajemen mengambil keputusan.

Hal ini tidak saja berkaitan tentang bagaimana karyawan harus memiliki kemandirian dan kedisiplinan dalam menjalankan tugas-tugasnya. Namun, perlu disadari pula, apabila delegasi yang diberikan ke karyawan itu juga terbatas, maka jangan harap karyawan juga bisa mengambil langkah lebih lebar dalam bekerja. Seringkali bahkan langkah yang diambil oleh karyawan akan ditentukan oleh sinyal lampu yang diberikan oleh manajer.  Tanpa itu, karyawan tidak bisa mengambil langkah selanjutnya. Sebab, mereka berpikir apabila mengambil langkah tanpa ada keputusan dari atasan, maka bisa menjadi tersangka dengan tuduhan ‘ melangkahi’ prosedur, namun jika tidak segera ada keputusan, apabila ada masalah karyawan pula yang berhadapan langsung dengan klien.

Manager yang memiliki kelemahan dalam membagi fokus kerja yang cukup banyak dan juga dalam hal membuat skala prioritas akan sangat mudah untuk menciptakan suatu manajemen jamur bagi karyawannya. Dampak dari pola manajemen ini tidak hanya sekedar persoalan jangka pendek di mana akan terdengar suara karyawan yang menggerutu atau berwajah kusut karena lama menunggu. Namun, perusahaan akan mengalami kerugian tentang kepercayaan karyawan, antuasiasme dan kreatifitas yang terkalahkan dengan energi negatif kekecewaan.

Delegasi untuk memberantas jamur

Manajer harus memiliki mulai mencium indikasi terjadinya manajemen jamur di perusahaannya. Tentu hal ini adalah hal yang ditunggu-tunggu oleh karyawan. Jika dari kesadaran inilah nantinya akan bisa berbuah pendelegasian yang jelas dengan sistem pengendalian/kontrol yang tetap tegas. Hal ini akan membantu manajer dalam mempercepat pemecahan masalah. Tentu saja bukan berarti melepas wewenang begitu saja ke karyawan.

Namun, apabila kesadaran manajer terlalu sulit untuk diandalkan, maka perlu ada dorongan dari bawah. Terkadang perlu juga manajemen di tunjukkan bagaimana repotnya apabila klien melakukan komplain karena masalahnya tidak segera dijawab. Dan tentu akan sangat memalukan jika itu terjadi tidak hanya di satu atau dua klien saja tetapi mencapai ribuan. Manajer akan sangat kelabakan dan pada akhirnya akan mendelegasikan pekerjaan tersebut kepada bidang yang lebih kompeten untuk menangani.

Terkadang memang karyawan dihadapkan pada dilema untuk tetap menjaga nama baik dan kredibilitas manajemen dan tentunya perusahaan secara institusi. Namun, di sisi lain manajemen yang menerapkan pola yang itu-itu saja juga membuat karyawan menjadi sasaran amukan. Dalam hal ini suatu masalah besar terkadang akan mendorong manajer untuk membangun sinergi dan perbaikan manajemen. Bukankah manajemen itu sebuah seni, di mana terkadang perlu juga adanya konflik, musuh bersama ataupun persoalan besar untuk perbaikan dan persatuan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: