Kursi untuk Duduk Bersama

Manajemen merupakan instrument yang seharusnya bisa memudahkan pencapaian tujuan. Tidak sekedar mencapai tujuan, tetapi juga melakukan efisiensi dalam rangka meminimalisir cost baik itu biaya, tenaga ataupun pikiran. Namun, adakalanya kegiatan manajemen justru menjadi sesuatu yang mulai ‘njlimet’ dan begitu banyak hal yang kemudian menjadi mubazir.  Tentu saja sangat disayangkan apalagi jika ternyata penyebabnya adalah persoalan yang sebenarnya sangat sepele.

Beberapa waktu lalu, bahkan kali itu bukan saja yang pertama. Ada banyak kejadian yang sepertinya berulang. Tiba-tiba salah satu bos memanggil 70% karyawan yang ia bawahi kemudian mengadakan pengarahan sekitar 30 menit dengan nada yang tinggi namun bukan dalam lantunan seriosa. Bos tersebut marah-marah lantaran ada beberapa karyawan yang mengambil 2-3 jam waktu bekerjanya untuk mengerjakan pekerjaan dari bos departemen lain. Sebelum pemanggilan tersebut, bos yang marah tadi mendatangi bos lain dengan nada yang juga nyaring melakukan konfirmasi atau sebenarnya menunjukkan otoritas.

Persoalannya adalah karyawan hanya menuruti atasan. Jika atasannya tidak tunggal maka yang namanya karyawan tetap dituntut untuk melaksanakan perintah dari atasa, atasan manapun. Persoalannya adalah apabila setiap atasan memiliki kemauan dan kemauan itu bertentangan, maka mana yang harus dituruti? Atasan yang perlu menjawab masalah ini.

Kursi untuk Duduk Bersama

Meski di kantor setiap person sudah disediakan satu kursi untuk duduk dalam bekerja, namun tak semua bisa duduk bersama. Kursi yang disediakan bukan saja sekedar sebagai prasyarat untuk karyawan bekerja, tetapi menjadi alat yang digunakan dalam pemecahan masalah, berdiskusi  bahkan berdebat sekalipun. Kursi disediakan agar setiap orang bisa duduk bersama dengan posisinya masing-masing untuk menghasilkan kesepakatan maupun pemecahan masalah. Untuk apa disediakan kursi kalau orang berbicara dengan berdiri, emosi meledak-ledak dan tangan menuding sana-sini.

kursi kantor yang paling penting adalah kursi bos-bos (baca:petinggi kantor). Itulah kenapa kursi para bos dibuat paling empuk atau setidaknya paling enak. Hal ini diharapkan bisa membuat bos-bos itu bisa saling bersinergi, memecahkan masalah bersama dan mencapai kesepakatan bersama di posisi kursi yang telah disediakan.

Namun yang sering terjadi justru bos-bos itu jarang duduk di kursinya atau satu duduk sedangkan yang lainnya tidak. Akan lebih rumit lagi jika ternyata bos-bos tersebut merasa sedang dalam persaingan. Maka yang akan terjadi bukannya sinergisasi tetapi malah kompetisi. Mereka akan saling berkompetisi untuk mencapai target lebih dulu, mencapai prestasi paling bagus dan memiliki otoritas menggunakan sumberdaya sebanyak-banyaknya. Kalau sudah begitu, masalah-masalah yang sama hanya akan terjadi berulang. Sudah pasti persoalan kres jadwal, kres karyawan hingga ujung-ujungnya adalah konflik.

Persoalan yang sebenarnya hanya berawal dari keharusan untuk duduk bersama bertransformasi menjadi persoalan besar. Jika tak selesai di meja runding, bos-bos tadi akan berusaha mencari dukungan yang tidak disadari membuat soliditas karyawan menjadi pecah. Disadari atau tidak, bos-bos tadi memecah kantor menjadi front-front pembela bos 1, bos 2 atau front putih yang sebenarnya lebih dibilang apatis.

kepemimpinan tunggal dan jamak

Di organisasi dengan kepemimpinan jamak memilki tantangan yang cukup besar dalam pengambilan keputusan. Kondisi seperti ini banyak dialami oleh perusahaan keluarga. Perusahaan yang dikelola secara turun-temurun oleh keluar dan hampir seluruh anggota keluarga ikut berkecimpung serta menjadi bos akan menjadi penyulut masalah. Pada titik tertentu di mana mulai ada perbedaan pandangan antar anggota keluarga, maka kebingungan akan melanda karyawan. Jika salah satu anggota keluarga bersikukuh terhadap pandangan tertentu, kemudian tanpa persetujuan anggota keluarga yang lain memerintah karyawan, sementara ada anggota keluarga yang lain memerintahkan hal yang berbeda, karyawanlah yang akan menjadi korban.

Jika membaca dari karakteristik perusahaan keluarga, hal tersebut memang wajar. Justru yang tidak dapat diterima adalah organisasi dengan struktur yang sebenarnya jelas siapa kepala, wakil, ketua divisi dan staf pelaksana di dalam berjalannya sistem masih ada saja kerancuan. Hal ini tentu buka karena kepemimpinan jamak atau tunggal tetapi bagaimana jalur koordinasi dan pengambilan keputusan.

Struktur formal yang ada di perusahaan akan menjadi berantakan apabila jalur koordinasi tidak berjalan dengan baik. Entah diawali karena ketidakpuasan atau adanya conflict of interest, hal semacam ini bisa berakibat fatal. Hal ini tidak saja membuat karyawan menjadi korban, tetapi manajemen juga tidak akan berjalan efektif. Indeks ketidakpercayaan dan kekecewaan karyawan akan semakin tinggi dan menciptakan suasana kerja yang tidak kondusif. Jajaran elitpun semakin saling pasang badan dan  adakalanya hanya ada sakit hati.

Koordinasi sebagai kunci

Jika kejadian yang sama berulang kali terjadi, jika batas empati sudah sampai di ambang batas, maka satu-satunya jalan adalah koordinasi. Koordinasi ini bukan hanya sekedar jargon atau menjadi formalitas belaka. Koordinasi yang dilakukan harus benar-benar menyeluruh dan membuka segala asumsi yang dimiliki oleh tiap kepala. Koordinasi bukan sekedar menjadi ajang untuk bisa meloloskan kepentingan agar keinginannya gol. Koordinasi harus bisa menutup sebisa mungkin celah-celah yang bisa menimbulkan efek domino.

Jika para elit menyadari bahwa masalah yang ditimbulkan di satu lini bisa berefek dan menimbulkan kerugian pada divisinya juga, entah dalam waktu dekat atau dalam jangka panjang. Jika itu dipahami, tentu setiap ketua divisi juga akan berusaha memberikan support pada kesuksesan divisi lain, begitupun juga sebaliknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: