Asyiknya Mengelola Komunitas

Hari minggu kemarin, pengalaman pertama saya mengikuti kelas di Akademi Berbagi. Ternyata sangat asyik, karena mentornya adalah orang yang ahli di bidangnya, jadi sangat menguasai apa yang disampaikan. Belajar langsung dari praktisi itu memang sangat mengena. Apalagi kalau belajarnya di tempat yang nyaman dan santai. Dengan konsep semua adalah guru dan semua adalah murid, kita bisa belajar tanpa batasan latar belakang dan hal-hal tertentu saja. Kalau Hadist Nabi mengatakan, “Tuntutlah ilmu hingga ke negeri cina”, saya sepertinya belajar di akademi berbagi saja karena ilmunya juga mencakup banyak hal. Sebenarnya karena kalau ke Cina butuh biaya yang mahal sih, hehe.

Topik yang kemarin diulas di Akber Bekasi adalah tentang Community Management 101. Pembicaranya adalah Mbak Ainun Chomsun, founder Akademi Berbagi. Mbak kece satu ini sudah malang melintang di dunia komunitas dan profesional di bidang manajemen komunitas. Jadi, benar-benar belajar dari ahlinya.

Saya kasih review sedikit tentang apa yang saya dapat dalam kelas tersebut. Salah satunya adalah bahwa memanajemen komunitas itu hakekatnya adalah mengurusi manusia. Jadi kita harus bisa memperlakukan manusia selayaknya manusia atau memanusiakan manusia. Mau nggak mau, kita harus benar-benar memahami seperti apa karakteristik dan kebutuhan manusia itu. Meski kita juga manusia, tapi kadang masih nggak empati lho sama manusia. Manusia itu memang makhluk yang unik bin misterius. Manusia itu, tiap kepala isinya bisa beda, kebiasaan dan kesenangan mereka bisa beda. Tiap manusia bisa mengambil keputusan-keputusan yang tidak terduga. Benar atau benar?

Kita yang bekerja mempromosikan brand menggunakan strategi komunitas atau menyebarkan pemikiran melalui pembentukan komunitas, harus memahami tentang komunitas. Komunitas adalah manusia-manusia yang memiliki kesamaan, entah visi, hobi, profesi yang itu membuat nyaman. Sehingga mereka mau untuk membentuk suatu ikatan. Jadi, kalau ingin masuk dalam komunitas atau ingin membentuk suatu komunitas, menemukan kesamaan adalah hal yang paling penting.

Cara paling penting dalam mengelola komunitas adalah mendengar dan terlibat. Ini adalah hal dasar tetapi justru seringkali dilupakan. Sering juga diremehkan padahal sulit lho melakukannya. Kita diberi telingan sampai dua itu kan menandakan bahwa nggak cukup satu telinga untuk bisa mendengar. Hal ini berbeda dengan berbicara. Bicara lebih gampang, makanya kita diberi mulut satu. Kenyataannya memang tidak banyak orang yang bisa mendengar dengan baik. Kita cenderung melihat sesuatu berdasarkan persepsi, pengalaman atau pengetahuan kita sendiri. Bahkan kadang kita memaksakan agar orang harus menuruti kemauan kita. Padahal orang lain juga punya pendapat, pemikiran, keinginan, dsb. Bagaimana mereka mau mengikuti kita, kalau mereka tidak didengar dan tidak dihargai?

Hasil dari apa yang kita dengar ini bukan tidak punya peranan. Jika kita bisa mendengar dengan baik, kita bisa mendapatkan suatu pemahaman tentang bagaimana persepsi, pemikiran, kebutuhan, kebiasaan orang-orang yang jadi sasaran kita. alhasil, kita bisa merumuskan strategi. Menurut saya, nggak usah bicara tentang pemasaran atau strategi manajemen yang ‘muluk-muluk’ kalau kita belum bisa mendengar dengan baik.

Hal penting lainnya adalah terlibat. Kalau ingin mendaptkan feed back yang baik, ya harus berbaur. Jangan cuma merintah saja, tapi bisa menyentuh kebutuhan dan terlibat dalam kegiatan mereka. Kalau kita sebagai community manager sebuah brand yang masuk ke komunitas, maka jangan cuma minta kepentingan kita dilayani oleh mereka. Kita harus punya posisi setara, take and give juga jangan dilewatkan. Jangan hanya menggunakan bahasa uang. Uang itu hanya mengikat kepentingan semata, tetapi komunikasi dan perlakuan yang baik dapat membangun loyalitas.

Jika kita sebagai leader dalam suatu komunitas, juga jangan cuma memerintah anggota saja. Hanya karena kita yang mimpin, kita jadi egois untuk membuat semua harus tunduk pada keinginan kita. Ingat bahwa komunitas itu dibangun bukan dari satu orang saja. Meskipun ada orang-orang tertentu yang paling berjasa, tetapi komunitas dibangun oleh banyak orang. Nafas organisasi dipompa oleh banyak orang yang terlibat di dalamnya. Kalau kata Mbak Ainun, di dalam komunitas ada leader, manajer, teknisi dan tim hore. Meskipun cuma ada yang jadi supporter atau bagian rame-rame saja, itu tetap dibutuhkan keberadaannya. Orang-orang seperti itu yang justru melakukan publikasi dan meramaikan komunitas.

Untuk itu dalam sebuah komunitas harus ada 3R, Reward Ritual Role. Reward itu nggak melulu soal materi. Menghargai orang lain itu nggak mesti harus dengan uang tetapi dengan apresiasi atas usahanya. Misalnya saja menjadikannya sebagai relawan teladan, memberikan kepercayaan atas tanggungjawab tertentu, membantu akses untuk jaringan, memberikan ilmu secara gratis, dsb. Itu adalah reward yang justru memanusiakan ketimbang hanya sekedar uang. Ritual berarti harus ada sesuatu yang diulang-ulang, menjadi simbol dan dilakukan secara bersama-sama oleh anggota komunitas. Dengan adanya ritual, anggota komunitas memiliki kesamaan, identitas dan kesatuan.

Sedangkan role adalah kejelasan peran. Seringkali anggota komunitas merasa kebingungan sebenarnya peran mereka di komunitas itu apa dan ke depan akan seperti apa. Jika mereka tidak memahami perannya atau merasa tidak punya peran di komunitas tersebut, jangan kecewa kalau pada akhirnya mereka mundur bertahap dari komunitas. Ketidak jelasan peran juga akan membuat anggota komunitas melakukan sesuatu yang kontraproduktif bagi komunitas. Seringkali leader komunitas marah karena melihat adanya anggota komunitas yang bergerak di luar wewenangnya. Orang-orang seperti ini dianggap bersalah dan bergerak di luar aturan. Bisa jadi memang benar, tetapi leader juga perlu evaluasi ke dalam. Apakah transfer pemahaman akan peranan setiap elemen sudah benar-benar dilakukan ataukah belum. Perlu ada evaluasi, apakah leader sudah mengarahkan anggota komunitasnya memahami rolenya masing-masing atau belum.

Hal tersebut perlu dilakukan agar para pengurus komunitas tidak mudah kebakaran jenggot dan salah tuding. Ingginnya menyolidkan komunitas, eh malah anggota komunitas jadi kocar kacir. Dengan tantangan dan dinamiknya, bagaimanapun mengelola komunitas itu asyik. Selalu butuh kejelian, kesabaran dan keuletan. Selamat otak-atik strategi!  

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: