Merindukan Islam yang Satu

Tantangan umat islam hari ini bukan saja dihadapkan pada pengaruh eksternal yang menguji iman. Tidak hanya sekedar tentang bagaimana saat umat Islam puasa, ada non muslim yang tidak puasa. Tentang bagaimana jika kita punya tetangga non muslim yang sedang merayakan hari besarnya. Tentang bagaimana skema kerjasama yang harus dibangun oleh muslim dengan non muslim agar tidak membawa pada perselisihan tetapi juga tetap menjaga akidah. Bukan cuma itu. Tantangan hari ini justru saya rasakan semakin besar ada pada sesama muslim sendiri.

“Sesama muslim bersaudara”, agaknya mulai jadi jargon semata. Ada hadits yang menyebutkan: “Seorang mukmin bagi mukmin yang lain ibarat satu bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya. Kemudian Rasulullah menggenggam jari-jemarinya.” (Bukhari & Muslim). Di dalam surat Al Hujurat ayat 10 juga disebutkan, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

Bukankah dari sini ditunjukkan ada ikatan yang sangat dekat antara saudara muslim, meski tidak punya ikatan darah, tidak terikat geografis. Saya belum pernah naik haji ataupun umrah, tetapi sungguh bergetar hati dan penuh haru saat melihat begitu banyak umat muslim dalam masjidil haram berjalan mengelilingi ka’bah, berputar pada orbit yang sama. Mereka sholat dan sujud pada Allah yang ahad, menghadap satu kiblat. Siapa mereka dan dari mana tak lagi bisa dibedakan. Tak ada perbedaan apakah pejabat atau rakyat, apakah dari timur atau barat, punya gelar akademis atau tidak, dan dari organisasi islam apa. Semua berbalut kain sederhana tanpa perhiasan dunia dengan satu kiblat yang sama.

Sungguh saya rindu pada Islam ketika Nabi besar Muhammad memimpin umat. Setiap kali membaca sejarah islam di masa nabi, ada rasa haru dan rindu yang berkecamuk. Mungkin ada yang berpendapat bahwa kesuksesan beliau menyebarkan islam karena strategi politik dan diplomasi yang handal. Tetapi menurut saya, kebesaran Nabi Muhammad jauh melampaui sekedar strategi saja. Nabi Muhammad memiliki keagungan akhlak yang menyatu dalam seluruh kehidupan beliau. Keagungan itu bahkan membuat musuh beliau menjadi hormat dan kemudian tunduk. Bukan sekedar karena Nabi mengangkat pedangnya, tapi kebijaksanaan dan keluhuran budi beliau.

Dalam sebuah riwayat pernah diceritakan bahwa Rasulullah sangat marah ketika Usamah membunuh seorang bekas pasukan musuh padahal orang tersebut sudah bersyahadat. Nabi marah besar mendengar cerita Usamah dan berkata, “Apakah engkau membunuh orang yang telah mengatakan tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah?. Nabi juga berkata, “Apakah kamu sudah membelah hatinya (sehingga kamu tahu kalau dia berbohong)? (HR. Bukhari dan Muslim). Sebegitu hati-hatinya Nabi dalam menghakimi dan menghukumi keimanan seseorang. Ada juga riwayat lain tentang Nabi Muhammad yang memberi makan seorang yahudi buta tiap hari padahal orang itu selalu menghina Nabi Muhammad. Namun Nabi tidak marah sedikitpun dan terus memberinya makan.

Saat ini, kita begitu mudah mendidih bila ada yang berseberangan pandangan, apalagi jika ada yang mencela kita. Seolah harga diri kita hancur, nama baik kita tercemar kemudian mengobarkan maklumat perang. Menyalakan permusuhan semudah menyalakan korek api. Tidak jarang hal itu terjadi pada sesama umat Islam. Ah, siapa kita sebenarnya, yang tidak pernah bisa melampaui kebesaran Nabi, yang tidak lebih mulia dari para sahabat Nabi. Namun kadang melampaui batas kemanusiaan dan berhasrat menjadi Tuhan secara tak sadar. Kita yang baru belajar menafsirkan perilaku nabi, baru belajar meneladani Nabi menasbihkan diri sebagai manifestasi terbaik dari pemikiran dan perilaku Nabi Muhammad SAW. Padahal bisa jadi meneladani satu saja sifatnya saja kita tidak sempurna.

Di era global ini, kita berada di masa masyarakat berkembang sangat jamak. Islam sendiri menjadi banyak aliran. Satu aliran memiliki banyak organisasi. Ada organisasi yang bergerak sama dalam satu  bidang/sektor, ada yang berbeda bidang/sektor. Setiap organisasi memiliki pemimpin dan jamaah yang berimplikasi pada perbedaan pemikiran, kultur dan aturan. Di antara mereka ada yang sama di basic tauhid, tapi beda di fiqh. Perbedaan fiqh itu ada yang sebagian besar berbeda, tetapi ada yang hanya berbeda di beberapa aspek teknis saja. Ada juga yang berbeda di metode berpolitik dan kepemimpinan, dsb. Perbedaan itu sering menjelma menjadi permusuhan bahkan berujung saling tafkir.

Saya jadi banyak bertanya, sebenarnya yang disebut Rabbul’alamin dan Islam Rahmatan lil’alamin dalam pandangan mereka yang seperti apa? Saat bicara tentang Tuhan semesta alam, seakan hanya segolongan yang sempurna menafsirkan ajaran Tuhan. Saat kita bicara ingin Islam menjadi rahmat semesta alam, agaknya masih perlu pertanyaan lanjutan, “Islam yang mana yang menjadi rahmat?”. Apakah hanya islam segolongan orang saja, islam menurut jamaah tertentu saja atau islam yang mana? Islam yang tauhid, yang berpegang pada Qur’an dan sunnah. Lalu  masih ada pertanyaan lagi, Qur’an dan sunnah dari tafsir siapa? Jadi, Islam yang mana yang rahmat itu?

Bukan berarti akhirnya semua yang mengaku Islam itu senantiasa benar ajarannya. Tentu ada diantaranya yang hanya ngaku-ngaku Islam dan keluar batas dari ajaran Islam itu sendiri. Maka tentu ada standar minimal orang ataupun golongan yang berislam. Dan yang harus selalu kita ingat, bahwa seberapapun salahnya seseorang ataupun golongan dalam menerapkan hukum Islamnya, yang merasa dirinya umat Islam sejatipun tidak boleh dzalim pada yang selainnya. Dzalim itu tentunya yang berlebihan atau melampaui batas.

Menurut pendapat saya, berfokus pada bagaimana bijaksana dalam menyikapi perbedaan itu jauh lebih penting daripada perbedaan itu sendiri. Perbedaan pendapat sejak jaman nabi dan para sahabat sudah alamiah terjadi. Perbedaan itu kadang sangat keras dengan perdebatan yang panas antar sahabat. Tapi kita sering lupa bagaimana perbedaan itu disikapi dan tetap berujung pada persatuan islam. Kita sering hanya melihat kerasnya perbedaan itu, apalagi setelah peristiwa tahkim. Kita menjadi terfokus pada perbedaan pandangan dan aliran antara khawarij, pendukung Ali dan pendukung Mu’awiyah. Di masa selanjutnya, perbedaan itu malah semakin banyak dan membagi-bagi umat islam dalam ahlul hadits dan ahlul ra’yi, Qadariyah dan jabariyah, tradisional dan moderat, ritual dan sosial, Jamaah A dan jamaah B. Semakin hari kita berfokus pada detil tiap perbedaan, bukan pada apa yang masih sama. Berlomba-lomba dalam kebaikan yang kita terapkan dalam agama menjadi seperti ajang kompetisi antar perusahaan. Mengunggulkan brandnya sendiri, mencela produk kompetitornya bahkan mematikan usaha lawannya.

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Al Anbiyaa’ 107). Ada sebuah riwayat menceritakan ketika sebagian sahabat memohon pada beliau agar mendoakan dan mengutuk orang musyrik dan kafir, Nabi menjawab: “Aku diutus bukanlah sebagai pembawa kutukan, tetapi aku diutus sebagai pembawa rahmat (bagi semua manusia).” (HR. Muslim). Saya sangat kagum dengan para ulama dan organisasi yang senantiasa menyerukan persatuan umat islam. Jangankan mengstatusi orang lain kafir, mengatakan dirinya muslim sejati saja tidak mau. Karena hanya Allah yang paling tahu apa yang ada di dalam hati.

Saya sungguh rindu Islam yang satu. Tentu bukan berarti meniadakan perbedaan. Tidak mungkin kita berharap Islam seperti masa Nabi Muhammad di mana hanya ada satu organisasi dan pemimpin tunggal. Bagi saya tak ada yang bisa menandingi kebesaran kepemimpinan Nabi dan penyatuan umat pada masa beliau. Terlebih saat ini kita hidup di masa yang berbeda, masyarakat dunia telah berkembang sedemikian rupa. Ada tatanan sistem dan masalah yang tak sama. Namun, Islam yang satu itu berarti persatuan yang bisa berkompromi dengan perbedaan. Tidak saling memerangi, tetapi saling berdialog dan mencari solusi. Bukan mencari siapa yang paling benar, tetapi bagaimana bisa berkolaborasi dan bersinergi dalam kebaikan sesuai dengan bidangnya. Bukan yang saling mencari kelemahan, tetapi saling melengkapi dan menguatkan.

Terlalu utopiskah rindu saya ini?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑